Kerajaan Ocenden merupakan satu-satunya kerajaan yang berada di dua tempat sekaligus. Bagian atasnya berada di daratan, sedangkan bagian bawahnya menembus ke dalam lautan. Bagi klan atau ras lain yang melihatnya selalu merasa takjub. Apalagi jika mereka juga melihat hippocampus yang berenang bebas di lautan sana.
Kerajaan Ocenden merupakan kerajaan klan Aquatic Elves. Mereka bisa tinggal di dalam air maupun daratan. Dengan begitu, mereka bisa menyesuaikan tubuhnya saat berada di tempat tertentu. Mereka akan terlihat seperti elf biasa jika sedang berada di daratan. Namun saat masuk ke dalam air, selaput akan keluar diantara jari-jari tangan dan kaki mereka.
Sama seperti elf dari klan lainnya, Aquatic Elves juga memiliki hewan tunggangannya masing-masing. Namun sayangnya, hewan ini hanya bisa berada di dalam air. Hippocampus merupakan hewan seperti kuda namun memiliki ekor sebagai pengganti dua kaki belakangnya. Hewan ini memiliki sirip dan insang, juga warna yang sangat indah.
Suara-suara hippocampus yang terdengar dari pasukan istana yang baru tiba disambut meriah oleh seruan rakyat Kerajaan Ocenden. Mereka adalah pasukan yang baru selesai melaksanakan tugas dari Raja Throny untuk memberantas Leviathan di wilayah perbatasan. Pasukan itu dipimpin langsung oleh satu-satunya Putri Kerajaan Ocenden, Laquiana Ceruless.
"Keberkahan akan selalu mengalir bagaikan air untuk sang putri!"
Begitulah seruan-seruan rakyat yang dibalas senyuman oleh Laquiana. Gadis itu merasakan sentuhan di pundaknya yang ternyata berasal dari sepupunya, Xeron. Lelaki itu menatap bangga padanya dan mengulas senyuman tipis.
Sampai di istana, Laquiana melepas helm zirah yang akhirnya menampilkan rambut panjangnya yang berwarna kebiruan. Dia pergi bersama Xeron menuju ruang singgasana untuk menemui raja dan ratu.
"Kami menghadap Raja dan Ratu Kerajaan Ocenden," ucap mereka berdua sambil membungkuk hormat.
"Selamat datang kembali, Putri dan Pangeran. Selamat atas keberhasilan kalian dalam tugas ini," sambut Raja Throny.
"Sungguh mengerikan monster seperti itu datang ke wilayah perbatasan. Bukankah monster itu juga baru bisa dikalahkan oleh tujuh orang?" Ratu Eudoria beranjak dari tahtanya untuk menghampiri mereka. Dia menatap putri tunggalnya sebelum beralih pada keponakannya dan menyentuh kedua pundak lelaki itu. "Kudengar kau berusaha keras di sana, Xeron. Sangat melegakan kau kembali dengan keadaan baik-baik saja."
"Usahaku tidak sebanding dengan Lady Laquiana, My Lady. Aku bahkan hampir putus asa jika tak melihat perjuangannya. Dia gadis yang sangat tangguh," balas Xeron sebelum menoleh pada Laquiana. Gadis itu hanya terdiam dengan wajah datarnya.
"Xeron, kau harus bisa menghargai usahamu juga. Usahamu harus mendapatkan apresiasi, dan semua orang harus tahu bahwa kau telah berjasa bagi kerajaan ini." Throny ikut berucap seperti istrinya yang sangat membanggakan Xeron.
"Tapi, My Lord, yang pantas menerima semua itu hanyalah Lady Laquiana. Dia–"
"Xeron," panggilan Throny kali ini lebih tegas. "Aku akan merayakan pesta nanti malam. Datanglah, karena kau akan jadi bintang utamanya dalam pesta itu."
"Benar, Xeron, ini perayaan untukmu. Untuk kemenanganmu."
Pergerakan kecil dari kedua tangan yang terkepal tak terlihat oleh siapapun. Dadanya terasa sesak hingga bernapas pun rasanya sulit. Laquiana sudah tidak bisa tahan lagi dengan situasi yang seolah mencekiknya saat ini.
"Aku permisi," pamit gadis itu sebelum pergi meninggalkan ruang singgasana.
Bersama hippocampusnya, Laquiana berenang naik ke permukaan menuju istana bagian atas. Dia sudah tidak kuat jika harus berlama-lama ada di sana. Dia sangat muak, dia muak dengan keberadaannya yang selalu tak terlihat sejak dulu. Usahanya selalu berakhir sia-sia, dan dia tak pernah mendapat balasan yang sebanding atas kerja kerasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ETERNUS
FantasyEternus, tanah para makhluk immortal, kini berada di ambang kehancuran. Valey, penguasa Dark Elves, kembali dengan dendam lama dan ambisi besar-menguasai Permata Kehidupan dan mengembalikan kejayaannya yang pernah direnggut. Dua keturunan half-blood...
