I.IX. Jeratan Bahaya

167 21 12
                                        

⚠️ Content Warning: Bab ini mengandung adegan penyiksaan, intimidasi, serta situasi mencekam melibatkan makhluk mengerikan. Pembaca yang sensitif terhadap tema ini diharapkan membaca dengan kewaspadaan.

⋆ ִֶָ ๋𓂃🎐 ⋆

Keadaan Mereline benar-benar menyedihkan. Goresan-goresan luka terlihat di beberapa bagian tubuhnya, meninggalkan bercak darah kering di kulit yang memucat. Kedua tangannya terikat rantai yang melilit erat, terhubung pada dua tiang kokoh di sisi kanan dan kirinya. Napasnya begitu lemah, hampir seperti bisikan, sementara detak jantungnya perlahan kehilangan kekuatan. Namun di balik semua itu, ada kebencian yang membara di lubuk hatinya—api yang membuatnya terus bertahan meski tubuhnya hampir menyerah.

Pelaku dari semua penderitaan yang dirasakannya tak lain adalah Algaren. Sejak Mereline dipindahkan ke ruangan ini, pemuda itu selalu hadir hanya untuk memberinya siksaan. Setiap rintihan yang keluar dari bibir Mereline seolah menjadi hiburan yang memabukkan. Dia bahkan tertawa puas melihat hasil perbuatannya, seperti seorang seniman yang mengagumi karya gilanya sendiri. Tak ada belas kasihan dalam tatapannya—hanya kegilaan yang menodai gelar pangeran yang disandangnya.

Dibalik fisiknya yang sudah melemah, jiwanya menjerit kencang. Mereline sangat ingin melarikan diri, menyelamatkan dirinya untuk terbebas dari siksaan ini. Setiap detiknya terasa lambat baginya, membuat rasa sakit begitu terasa menggerogotinya. Darah segar mengalir dari luka-luka barunya, menetes perlahan ke lantai dingin, membentuk jejak keputusasaan. Setiap tetesan membawa serta harapannya yang memudar, namun juga membangkitkan tekad samar untuk bertahan.

Suara decitan pintu yang perlahan terbuka menggema di ruangan yang sunyi. Langkah kaki terdengar pelan namun mantap, setiap hentakan seolah membawa ancaman yang tak terlihat. Ketegasan langkah itu menghantam telinga Mereline, membuat bulu kuduknya meremang. Dengan susah payah, dia menelan ludah yang terasa begitu pahit, sementara dadanya mulai berdebar kencang. Kekalutan menyergapnya tanpa ampun, membuat tubuhnya bergerak gelisah, meski rantai di tangannya menahan setiap gerakannya. Dia tahu, ancaman baru sedang mendekatinya—dan dia tak berdaya untuk melawan.

"Bagaimana tidurmu semalam, My Lady? Apakah nyenyak?" suara berat itu terdengar sedikit serak, namun tetap memancarkan nada dingin yang merayap di udara. Algaren menyunggingkan senyum tipis sebelum langkahnya kian mendekat, bagai pemangsa yang menikmati rasa takut mangsanya.

Tangan besar yang kekar itu mengelus sayap putihnya yang terbentang kaku. Sentuhannya merambat menuju pundak, lalu naik menyentuh lehernya, sebelum akhirnya berhenti di pipi yang kini tampak menirus. Sensasi panas dan menyengat dari sentuhan itu membuat Mereline menggigit bibirnya, menahan jerit yang hampir meluncur. Namun lebih dari itu, tatapan lelaki itu menusuk, intens dan penuh arti, seolah-olah dia sedang menguliti ketakutan Mereline tanpa menyentuhnya. Mereline mencoba mengalihkan pandangannya, tapi sia-sia, dirinya tak mampu kabur saat kebenciannya justru dibalas dengan godaan yang begitu dingin, nyaris seperti ejekan.

"Katakan, apa saja yang kau ketahui tentang gadis terkutuk itu?" Meski suara Algaren terdengar cukup lembut, ketegasannya masih melekat bagai bayangan. Tangannya bergerak mendongakkan kepala Mereline cukup kasar, dan tatapannya mengunci pandangan gadis itu dengan intensitas yang membuatnya sulit bernapas.

"A-aku tidak akan pernah membantumu untuk berhasil dalam hal apa pun," jawab Mereline, suaranya masih cukup lantang walau berada dalam ketakutan.

Selanjutnya tamparan datang begitu cepat. Suaranya yang nyaring menggema di seisi ruangan, menyisakan rasa panas dan pedih yang menyerap di kulit pucat itu hingga memunculkan bekas kemerahan. Dalam sorot Algaren yang menajam, Mereline hanya terlihat pasrah seolah telah menduga hal itu dengan benar.

ETERNUSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang