Part 10

4.1K 541 25
                                        

Jihoon berdiri di pinggir sungai Han, menatap nanar air di bawahnya. Mungkin ini benar-benar akhir dari kehidupannya.

Ia akan membunuh dirinya sendiri. Tidak tahu hal apalagi yang harus ia lakukan ketika semuanya hampir menjadi gelap.

Dia menghamili seseorang, dimintai pertanggungjawaban sementara dirinya masih banting tulang mengurus hutang-hutang Ayahnya.

Jihoon benar-benar tidak akan bisa. Membayangkannya saja sudah sangat sulit apalagi menjalaninya.

Jadi, dia memilih meloncat ke dalam sungai Han dan menenggelamkan dirinya sendiri. Atau tidak sama sekali.

Jihoon akan dua kali lebih brengsek dari yang seharusnya jika dia melakukan itu. Terlebih ketika Hyunsuk meminta pertanggungjawabannya.

Si banjangnim pasti kesulitan, dia pasti sama bingungnya. Sehingga dia secara terpaksa meminta bantuan Jihoon.

Manusia kecil itu pastilah sangat membutuhkan Jihoon. Dan Jihoon akan membuat kesalahan kedua jika dia meninggalkan si banjangnim. Menjadi tiga jika dia menghitung anaknya. Jihoon akan bersalah pada anaknya dan Hyunsuk jika dia mati.

Dan dia tidak mau seperti itu. Jihoon tidak mau anaknya merasakan apa yang ia rasakan.

Karena itu, Jihoon buru-buru menampar dirinya sendiri kemudian pergi menemui Haechan dan teman-temannya yang lain.

"Aku butuh bantuan." katanya begitu dia sampai di basecamp anak-anak tidak beruntung yang tidak memiliki tempat tinggal.

Itu sebuah gudang tua tarbengkalai yang disulap menjadi tempat yang bisa dihuni meskipun tidak nyaman. Tapi, siapa peduli? Selama mereka bisa berteduh, tempat itu sudah lebih dari cukup.

"Tentu saja. Apa yang bisa kami bantu?" tanya Mark selaku ketua.

Jihoon menelan ludahnya gugup sebelum menatap Haechan.

"Katakan saja, mate. Jika kami bisa membantu, kami akan membantu. Tidak perlu sungkan, kau juga melakukan banyak hal untuk kami."

Lantas, Jihoon meminta sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia pinta pada siapapun selain mereka. Meminta sebuah tempat tinggal untuk seseorang, tidak perlu terlalu bagus apalagi mewah, asal tempat itu bisa dihuni pasti Jihoon terima.

Karena tidak mungkin membawa Hyunsuk ke rumahnya. Itu sama saja dengan bunuh diri. Bobby akan langsung membunuhnya dan menyiksa Hyunsuk begitu dia tahu Jihoon menghamili seseorang.

Jihoon dibawa oleh Jaehyuk, melihat sebuah rumah dan menjelaskan bahwa itu rumahnya. Jaehyuk sudah lama tidak tinggal di sana, dia lebih memilih bersama yang lain.

Penuh rasa lega, Jihoon menerima tempat itu. Membersihkannya secepat kilat dan membuatnya terasa nyaman dengan bantuan anak-anak lain.

Lalu, Jihoon langsung menemui Jennie.

Jika ada orang yang bisa membuat semua beban Jihoon terasa ringan selain teman-temannya, itu hanyalah Jennie.

Dia menceritakan semuanya pada Jennie, semuanya. Dan Jennie menyuruhnya untuk menjemput Hyunsuk setelah tahu bagaimana kehidupan Hyunsuk.

Jihoon sebenarnya tahu Hyunsuk hidup bersama Paman dan Bibinya, Jihoon juga tahu Hyunsuk sama kesusahan seperti dirinya.

Tanpa menunggu apa-apa lagi, Jihoon menjemput Hyunsuk di flat Renjun setelah dia memaksa Felix bicara tentang keberadaan Hyunsuk karena si banjangnim tidak ada di rumahnya.

"Menjemput istriku. Di mana dia?" ujarnya percaya diri saat Renjun bertanya apa yang ia lakukan di rumah si China.

Dan Jihoon benar-benar menjadikan Hyunsuk istrinya. Entahlah, ia hanya melakukan semuanya sesuai kata hatinya.

Truly Madly Deeply [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang