Part 2

5.8K 648 63
                                        

Sudah dua bulan sejak hari di mana Hyunsuk terbangun dengan penis seseorang bersarang dalam tubuhnya.

Tidak ada lagi yang terjadi setelah itu.

Harinya berjalan lancar, sama seperti biasanya. Hyunsuk sangat bersyukur atas itu, setidaknya, jika tetap seperti ini, hanya dirinya yang dirugikan, tidak dengan Paman ataupun Bibinya.

Karena satu-satunya alasan Hyunsuk meminta Jihoon untuk diam atas kejadian itu adalah Paman dan Bibinya.

Hyunsuk tidak mungkin tega membuat Paman dan Bibinya yang sudah berbaik hati merawatnya sejak kecil kecewa. Ia tidak ingin mereka terluka dan membencinya.

Hyunsuk tidak punya siapa-siapa selain mereka, jadi Hyunsuk akan berusaha untuk membuat mereka tidak kecewa kemudian marah padanya. Setidaknya sebelum Hyunsuk mampu berdiri sendiri dan membayar hutang pada Paman dan Bibinya.

Karena hidupnya selama ini ditanggung oleh kedua orang itu, dan itu adalah hutang. Tak jarang mereka menyinggung Hyunsuk untuk bersekolah dengan sungguh-sungguh agar kelak Hyunsuk mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi.

Agar Hyunsuk memiliki banyak uang dan membayar hutangnya. Dan Hyunsuk bersungguh-sungguh akan melakukan itu semua tanpa paksa jika dia memang bisa.

Tapi takdir selalu berkata lain.

Kala Hyunsuk menyaksikan Jihoon terus muntah dan bertingkah layaknya orang sakit, Hyunsuk sedikit takut. Prasangka buruk mulai memenuhi kepalanya.

Semakin bertambah parah ketika Jihoon terkadang mudah marah dan sedikit dramatis. Biasanya, Jihoon hanya akan menggodanya kemudian bolos sekolah.

Si brengsek itu tak pernah berada di kelas dalam kurun waktu lebih dari dua jam, biasanya dia hanya akan datang dengan wajah penuh bekas pukulan kemudian pergi menghilang sampai Hyunsuk harus menghubunginya puluhan kali karena para guru terus bertanya padanya.

Tapi beberapa hari terakhir Jihoon terus berada di kelas, mengikuti pelajar meski tidak efektif karena dia terus berlarian antara kelas dan kamar mandi, memuntahkan segala isi perutnya.

Lalu terkadang dia makan begitu rakus ketika jam istirahat tiba. Pada kesempatan lain, Jihoon seolah ingin menangis dan tak jarang Jihoon memohon pada Hyunsuk untuk menemaninya.

Itu jelas bukan tabiat seorang Park Jihoon.

Dan Hyunsuk memikirkan skenario paling buruk dalam hidupnya.

***

Berbekal rasa curiga dengan harapan bahwa kecurigaannya itu salah, Hyunsuk membeli beberapa buah testpack dan menggunakannya.

Kemudian, Hyunsuk siap mati ketika lima buah testpack yang ia gunakan memunculkan dua garis biru.

Pandangannya menggelap, ludahnya terasa sangat pahit dan Hyunsuk berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi atau setidaknya halusinasi.

Tapi ketika Hyunsuk mencoba testpack keenam, Hyunsuk tidak punya pemikiran lain untuk membuktikan bahwa ini semua tidaklah nyata.

"Hyunsuk, kau akan terlambat jika terus berdiam diri seperti itu." lagi-lagi suara teriakan dibarengi ketukkan cukup brutal pada pintu kamar mandi menyadarkan lamunannya.

Hyunsuk terperanjat kaget sebelum bangkit dan meraup testpack itu kemudian menjejalkan benda-benda kecil itu ke dalam amplop putih.

"Aku datang, Bibi."

"Biasakan untuk selalu tepat waktu, kau mulai lalai dalam kedisiplinan." suara itu mendera rungu Hyunsuk kala ia duduk di samping sang Paman yang tengah menyantap sarapannya.

Truly Madly Deeply [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang