Part 23

4.1K 434 33
                                        

Sore itu Hyunsuk tengah merajut sweater ketika seseorang mengetuk pintu.

Dengan susah payah Hyunsuk bangkit dan berjalan tertatih menuju pintu, bulan ke delapan membuat semuanya memburuk. Kakinya membengkak dan Hyunsuk tidak bisa berhenti ke kamar mandi, belum lagi hal-hal kecil lainnya yang jika Hyunsuk ingin pamrih, ia bisa menjelaskan itu dan akan menghabiskan seratus halaman.

Kembali pada seseorang yang mengetuk pintu, Hyunsuk akhirnya sampai di sana dan membuka benda itu. Mendapati Bobby berdiri di sana dengan raut yang tidak pernah bisa Hyunsuk tebak.

Hyunsuk cukup takut, ia meremat gagang pintu dan berniat menutup pintu itu sebelum Bobby menahannya.

"Tidak, aku tahu kau takut tapi kali ini aku tidak akan melukaimu. Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar."

Hyunsuk ragu, karena Bobby tidak bisa dipercaya sama sekali. Tapi jika ia menolak, Bobby mungkin akan bertindak semakin tidak masuk akal. Lagipula, Bobby adalah Ayah dari suaminya, Hyunsuk yakin masih ada sedikit rasa sayang untuk Jihoon dalam hati pria itu.

Maka, Hyunsuk memutuskan untuk membukakan pintu dan mempersilahkan Bobby masuk. Menyiapkan air minum dan beberapa kudapan ringan, menyajikannya dengan sopan seolah orang yang berkunjung ini bukanlah orang yang beberapa bulan lalu hampir menjualnya.

Beberapa menit berlalu dan Bobby masih belum berbicara sepatah katapun. Yang dilakukannya hanya menatap Hyunsuk tajam sampai Hyunsuk merasa tidak nyaman.

"Apa Jihoon baik-baik saja?"

Tidakkah dia bisa melihat? Jihoon datang dan menemuinya setiap hari, memberinya makan dan uang. Seharusnya dia tidak perlu menanyakan hal tidak berguna seperti itu, dia harusnya menilai sendiri bagaimana keadaan anaknya.

'TIDAK, SUAMIKU TIDAK PERNAH BAIK-BAIK SAJA KARENAMU, BRENGSEK!' Hyunsuk berteriak dalam hati. "... Tidak, memar di pipinya masih terlihat karena seseorang menamparnya dua hari yang lalu. " tapi yang keluar dari mulutnya justru lebih berani dari apa yang ia niatkan.

Bobby tertawa hambar, "selera humormu bagus juga."

Hyunsuk mengernyitkan, ia tidak bercanda sama sekali. Itu memang kenyataan. Jihoon ditampar, dia tidak mengadu tapi Hyunsuk tahu, bekasnya terlihat sangat jelas dan pelakunya pasti Bobby, karena para rentenir itu tidak akan memberikan luka sedikit, paling tidak bibir Jihoon harus sobek atau matanya bengkak.

Ia memutuskan untuk tidak membalas perkataan Bobby, sepenuhnya diam pada mertuanya yang juga hanya diam.

"Bisakah aku meminta sesuatu?" katanya, setelah hampir sepuluh menit melihat perut Hyunsuk yang tertutupi baju super besar itu.

Sekarang Hyunsuk paham kenapa dia datang kemari, dia pasti tidak berbeda dari pamannya. Karena itu Hyunsuk mengangguk, "tapi kau harus melakukan apa yang aku pinta."

"Untuk tidak menyentuh Jihoon dan membiarkannya hidup dengan tenang?" tebak Bobby dan itu tepat mengenai sasaran.

Hyunsuk semakin mengernyitkan.

"Tidak semudah itu, lagipula, apa aku tidak akan meminta uangmu." lanjut Bobby, meminum air yang disajikan Hyunsuk dengan tenang. "Aku hanya ingin agar kau tidak meninggalkannya."

"Tanpa kau pinta sekalipun aku tidak akan meninggalkannya." balas Hyunsuk yakin.

Bobby mendesah, kali ini rautnya sedikit berubah meski Hyunsuk tetap tidak bisa membacanya. "Aku tidak punya pilihan, aku terpaksa melakukannya."

Hyunsuk tidak tahu apa maksud Bobby berkata demikian, entah itu niatnya agar Hyunsuk bertanya mengapa atau hanya alibi agar membuat Hyunsuk iba, Hyunsuk tidak akan peduli.

Truly Madly Deeply [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang