"Memikirkan sesuatu?"
Jihoon spontan menarik nafasnya, bergeser dan memberikan cukup ruang bagi Mark untuk duduk di sampingnya.
"Tidak juga."
Mark terkekeh, matanya terarah pada beberapa anak yang bermain bola di lapangan. "Apa ini tentang Hyunsuk dan keluarga barunya?"
Tentu saja, kabar itu tersebar secepat angin berhembus berkat mulut besar Junkyu.
Terima kasih, dia membeberkannya pada seisi panti asuhan bahwa Hyunsuk sebenarnya seorang konglomerat. Membuatnya bisa memberikan apa yang diinginkan anak-anak dan itu sedikit membuat Jihoon gundah.
Hyunsuk akhir-akhir ini selalu pergi bersama Felix, Felix adalah orang kaya, mereka pasti menghabiskan uang mereka untuk membeli barang-barang mahal.
Sebelumnya Hyunsuk tidak sesering itu pergi bersama Felix dan selalu ada Renjun di antara mereka, bukannya Jihoon menghina, tapi keuangan Renjun sama sepertinya. Namun, sekarang tidak lagi, karena Hyunsuk memiliki banyak uang.
"Begitulah. Maksudku, aku harus mencari pekerjaan lebih banyak sebelum Hyunsuk benar-benar membiayai kehidupannya sendiri, bahkan mungkin membiayai kehidupanku."
"Kau akan bekerja sebanyak apalagi? Pekerjaanmu sudah terlalu banyak."
"Tapi uang yang aku hasilkan tidak sebanyak uang yang diberikan Jennie noona setiap hari pada Hyunsuk, bahkan sangat jauh."
Mark tertawa, "kau takut?"
"Jelas, kau tahu seberapa hebatnya kekuatan uang. Haechan bahkan akan lari darimu jika seseorang menawarkan uang lebih banyak dari yang kau miliki." canda Jihoon tapi semuanya fakta.
"Hey! Jangan berbicara seperti itu tentang Beruangku, aku percaya Haechan sepenuhnya." Jihoon juga percaya Hyunsuk, tapi rasa takutnya terlalu besar sampai itu bisa mengalahkan rasa percayanya.
"Menurutmu apa yang harus aku lakukan?"
"Bekerja, cari uang lebih banyak jika kau takut Hyunsuk pergi karena kau tidak memiliki uang sebanyak kakak-kakaknya."
"Wah, itu saran yang baru dan sangat berguna sekali. Terima kasih banyak, hyung."
Mark terbahak-bahak, menatap langit dengan hamparan awan putih. "Aku punya beberapa saran." katanya, menyodorkan selembar koran harian bertuliskan beberapa lowongan kerja.
"Aku tidak yakin, aku bahkan tidak lulus sekolah." Jihoon murung, karena perusahaan-perusahaan itu memiliki kriteria yang tidak bisa Jihoon penuhi.
"Cobalah, tidak ada salahnya mencoba. Lagipula, meski kau gagal sekalipun kau masih memiliki banyak kesempatan."
Semua perkataan Mark memang benar. "Baiklah. Terima kasih, hyung."
"Dan oh, Yoshi bilang toko tempatnya bekerja membutuhkan seorang kasir. Jika semua yang ada di sana menolakmu, Yoshi pasti bisa membantu."
***
Jihoon menunjukkan gelagat tidak biasa, dia pulang lebih larut dari biasanya dan pergi tanpa banyak berbicara pada Hyunsuk.
Bahkan tidak lagi mengajak Hyunsuk belajar ketika dia sempat, Jihoon sering menghabiskan waktu luangnya dengan pergi ke panti asuhan dan itu mengganggu Hyunsuk.
Ia ingin menanyakan sesuatu, tapi waktu tak pernah mengijinkan. Jihoon selalu menghindar, pergi bahkan sebelum Hyunsuk sempat bertanya dengan jelas.
Lalu, ketika Hyunsuk hendak mengikuti. Felix selalu datang dan mengajaknya untuk memata-matai Renjun. Salah satu temannya itu mulai bersikap aneh, jadi Hyunsuk menunda masalah Jihoon karena masalah Renjun terasa lebih serius. Sangat serius—menurut Felix.
KAMU SEDANG MEMBACA
Truly Madly Deeply [✓]
Romance"There's another side that you don't know." ↺BxB || Homo || Gay || Yaoi ↺M-Preg
![Truly Madly Deeply [✓]](https://img.wattpad.com/cover/313974818-64-k484965.jpg)