Kemarahan Jihoon terkubur habis oleh permasalahan Renjun, menguap begitu saja seolah tidak ada yang terjadi sebelum kekacauan yang dibuat Renjun terjadi.
Namun, meski semuanya kembali baik-baik saja dan damai, itu tak membuat Jihoon lupa bahwa ayahnya sering berkunjung kemari, entah apa dia inginkan Jihoon hanya bisa berharap semoga dia tidak melukai Hyunsuk dan Winter.
"Maksudku, bertahun-tahun aku mengenal Renjun, aku tidak tahu sama sekali bahwa dia memiliki kebiasaan seperti itu."
Keluh Hyunsuk, meletakkan sepiring telur dadar depan Jihoon yang baru saja pulang. Ini masih pukul sembilan, ngomong-ngomong.
"Persis seperti aku yang dulu tidak tahu kalau ternyata jodohku adalah teman sekelasku yang tidak masuk akal."
Jihoon tertawa, mulai menyuapkan makan malam yang disiapkan Hyunsuk untuknya. Sekarang ada seseorang yang selalu mengurus perutnya, merapikan baju-bajunya, memerhatikan kesehatannya dan mengeluh keras-keras tentang lelehnya membawa Winter kemana-mana.
Hyunsuk cemberut, duduk di depan Jihoon dan memerhatikan suaminya makan. Tidak ikut makan karena dia sudah makan, perutnya masih kenyang.
"Sudah memilih tanggal untuk mengeluarkan Winter? Sepertinya anak ini benar-benar tidak sabar bertemu denganmu, dia semakin gencar menendang perutku dan itu sakit!"
Lihat, itulah salah satu keluhan yang selalu disampaikan Hyunsuk ketika mereka bersantai.
"Itu terserah padamu, kau yang membawanya kemana-mana."
Hyunsuk mengangguk ribut, "Desember nanti Winter tepat sembilan bulan. Bagaimana dengan tanggal dua puluh lima? Tepat hari natal."
"Tidakkah itu terlalu cepat?"
"Tidak, menurut Jennie noona itu aman."
"Kalau begitu aku setuju." Jihoon tidak akan mendebat Hyunsuk, jika menurut Hyunsuk itu yang terbaik, maka itu yang terbaik. Jihoon tidak akan pernah meragukan insting seorang ibu.
"Tapi kita tidak akan bisa merayakan natal, semua orang sibuk membuka hadiah sementara aku akan terbaring seharian di ranjang rumah sakit."
Hyunsuk terlihat sedikit berpikir kemudian menampilkan wajah sedih.
Jihoon mengasongkan sesendok makanan karena Hyunsuk terus memerhatikannya makan. Dan dia menerima suapan itu, entah sadar ataupun tidak, karena rautnya kembali sibuk berpikir.
"Lalu?" Jihoon menanggapi seadanya.
"Bagaimana dengan tanggal satu Januari, pagi?Malamnya aku masih bisa merayakan tahun baru bersamamu dan paginya kita merayakan kedatangan Winter."
Belum sempat Jihoon menjawab, Hyunsuk sudah mengangguk semangat. "Sempurna!" serunya girang, "kau setuju?"
"Tentu saja, seluruh dunia akan ikut merayakannya."
Malam itu ditutup dengan Hyunsuk yang mulai menghitung hari menuju tanggal satu Januari. Melupakan niatnya untuk memberitahu Jihoon tentang perubahan Bobby.
***
Hari itu benar-benar dingin, bahkan setelah menggunakan baju berlapis-lapis sekalipun udaranya tetap menusuk. Tapi Hyunsuk memaksa ingin keluar, ingin menemui Junkyu, hendak membujuknya agar tidak memberikan nama aneh karena sebentar lagi Winter keluar.
Jihoon hampir marah, tapi hatinya juga mengatakan bahwa tidak ada salahnya pergi. Mereka akan pulang sebelum pukul tiga sore, sebelum udara semakin dingin.
Tapi sebelum mereka benar-benar sampai, Hyunsuk berhenti di tengah jalan dan mengeluh pinggangnya pegal.
"Aku sudah mengatakan padamu untuk diam di rumah saja." Jihoon memegangi tangan Hyunsuk yang setengah bertumpu padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Truly Madly Deeply [✓]
Romance"There's another side that you don't know." ↺BxB || Homo || Gay || Yaoi ↺M-Preg
![Truly Madly Deeply [✓]](https://img.wattpad.com/cover/313974818-64-k484965.jpg)