Part 5

4.7K 607 46
                                        

Hyunsuk pikir Jihoon tidak akan datang keesokan paginya, karena si brengsek itu sudah mengatakan padanya untuk berangkat sendiri.

Tapi ternyata dia datang, lebih awal bahkan. Meski mereka lagi-lagi harus menunggu Jihoon selesai memuntahkan sarapannya.

Hyunsuk tidak bisa menahan tawanya, menyaksikan Jihoon tersiksa karena morningsickness.

"Bagus, ini benar-benar adil. Aku yang rugi karena sudah pasti harus putus sekolah, tapi kau juga menderita, bagus sekali." ujarnya setelah Jihoon selesai muntah, sekarang mereka tengah dalam perjalanan menuju sekolah.

Jihoon mendengus, "kau masih memikirkan sekolahmu?"

"Menurutmu?"

Keheningan yang didapatkan Hyunsuk, seolah Jihoon tidak tahu jawaban jenis apa yang harus ia keluarkan. Ini pertama kalinya Hyunsuk melihat Jihoon bingung menjawab sebuah pertanyaan. Sebelumnya, Jihoon tak pernah kebingungan jika ditanya.

Hyunsuk ikut diam, membiarkan pertanyaan itu menggantung begitu saja. Ia menatap lurus jalanan yang terlewati dari balik kaca jendela bis. Tidak berniat melirik Jihoon yang duduk di sampingnya.

Pikirannya kembali melayang, memperkirakan masa depannya. Dan Hyunsuk pikir Jihoon juga tengah melakukan hal yang sama sepertinya. Si brengsek itu diam saja sampai mereka sampai di sekolah.

"Masuklah setelah aku masuk, mereka akan bertanya lagi saat melihatmu datang bersamaku."

Tapi Jihoon tetaplah Jihoon.

Si brengsek itu malah masuk terlebih dahulu sebelum Hyunsuk dan berjalan santai menuju kelas dan mengabaikan teriakan kesal dari ketua kelasnya.

***

Niat pertama yang Jihoon miliki ketika mendengar pelajaran olahraga adalah, bolos. Tapi ketika dia melihat Hyunsuk berganti pakaian dan berjalan menuju lapangan, niatnya langsung sirna.

Apa si banjangnim ini benar-benar bodoh?

Tidakkah terlintas dalam pikirannya untuk tidak mengikuti pelajaran sialan itu karena sekarang dia memiliki orang lain dalam tubuhnya.

Dengan rasa kesal akhirnya Jihoon mengikuti pelajaran itu, ini pertama kalinya sejak ia menginjak kelas sebelas, yang mana itu sudah berjalan selama hampir enam bulan.

Dan tentu saja, gurunya memberi pemanasan yang berat. Seluruh kelas diwajibkan lari dua puluh keliling mengelilingi lapangan besar ini, sialan.

Jihoon harus melakukan sesuatu.

Apalagi ketika melihat Hyunsuk diam pada putaran ketiga, dengan bibir pucat dan sepertinya dia mulai merasa pusing.

Hyunsuk mulai berjalan, sesekali memegang tangan orang yang dekat dengannya.

Jihoon kemudian melirik beberapa orang, mencari cara untuk membuat Hyunsuk berhenti dari kegiatan tolol ini.

Dan pandangannya jatuh pada Felix yang berlari hampir menyusulnya. Jihoon melambatkan larinya, menunggu Felix dekat dengannya kemudian berbisik pelan, "maafkan aku."

Lalu dia mendorong Felix, tidak terlalu keras tapi Felix terjatuh karena dia kelelahan.

"Apa-apaan kau ini?!" teriak Felix kesal, membuat beberapa orang berhenti berlari.

Jihoon menatapnya dengan tatapan penuh arti, berkedip beberapa kali sebelum menunjuk Hyunsuk menggunakan sudut matanya.

Beruntung, Felix paham, karena itu dia meringis dan memulai dramanya.

Truly Madly Deeply [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang