Empat hari, lima hari sampai tak terasa Hyunsuk sudah satu bulan hidup bersama Jihoon. Sudah lebih dari cukup baginya untuk bisa mengenal bagaimana Jihoon itu.
Benar apa yang Junkyu katakan. Jihoon sangat tertutup, dia tidak bercerita tentang hidupnya. Dia hanya mengatakan pada Hyunsuk agar tidak terlalu banyak berpikir karena itu akan sangat berpengaruh pada Winter.
Dan Hyunsuk melakukannya. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menebus semua rasa bersalahnya pada Jihoon, untuk membantu meringankan beban Jihoon.
Hyunsuk terus mengikuti alur yang dibuat Jihoon, tak lagi memberontak atau menolak Winter. Sepenuhnya pasrah pada apa yang tengah terjadi, hanya itu yang bisa ia lakukan.
Terkadang Hyunsuk ingin membantu, terlebih ketika Jihoon pulang dengan beberapa bekas luka, mungkin dari Ayahnya atau mungkin dari para rentenir.
Tapi sekali lagi, Jihoon tidak mengijinkannya melakukan apapun selain menjaga dirinya dan Winter.
Lagi, Hyunsuk melakukannya. Karena jika Hyunsuk menolak itu mungkin akan menyusahkan Jihoon lebih lagi.
Hyunsuk menghabiskan waktunya dengan bermain bersama anak-anak, hampiri setiap hari mengunjungi tempat itu dan membantu mengajari anak-anak pelajaran. Sesekali bertemu dengan Renjun dan Felix, lain waktu menemui Bibinya yang nampak baik-baik saja.
Begitulah, Hyunsuk sudah terbiasa dengan anak-anak dan semua pemuda yang tinggal di gudang itu, ia tidak lagi merasa canggung.
Dan ternyata hari ini cukup istimewa, mereka akan pindah ke tempat yang lebih baik. Setelah hampir dua tahun mengumpulkan uang bersama-sama, mereka akhirnya bisa membeli panti asuhan yang sudah tak digunakan.
Masih sangat layak, tempat itu tidak digunakan karena tidak ada yang mau mengelolanya. Dan Mark serta yang lain memanfaatkan kesempatan itu. Mereka membeli rumah baru untuk anak-anak tidak beruntung.
Itu hari yang istimewa. Bahkan Jihoon tidak bekerja hanya untuk menyaksikan raut semangat anak-anak.
Haechan menangis dalam pelukan Mark, Junkyu bahkan sudah tidak jelas bentuknya saking bahagianya dia. Dan yang lain jelas sangat bahagia.
Hyunsuk, yang hanya merasakan satu persen perjuangan mereka ikut tersentuh. Ternyata seperti ini rasanya hidup bersama dan saling bergantung.
Hyunsuk tidak tahu rasanya, dulu ia melakukan semuanya sendiri. Oleh dirinya dan untuk dirinya.
Sebenarnya, sejak menikah dengan Jihoon, Hyunsuk sudah bergantung pada pemuda itu—Hyunsuk memutuskan untuk berhenti memanggil Jihoon brengsek karena dia tidaklah brengsek, tapi rasanya berbeda.
Setelah bermain sana-sini, berbincang dan berbagai kehangatan. Hyunsuk dan Jihoon memutuskan untuk pulang, beberapa menit sebelum angka menunjukkan pukul sepuluh malam.
Begitu mereka sampai, Jihoon hanya duduk diam bersama bukunya, tengah mempersiapkan materi untuk mengajar muridnya esok hari.
Banyak yang dipelajari Hyunsuk dari Jihoon dalam waktu satu bulan.
Satu, Jihoon akan pulang setelah pukul sebelas dan sebelum pukul dua belas malam. Selalu, mungkin jam kerjanya memang seperti itu.
Dua, Jihoon selalu pergi sebelum pukul empat pagi, hanya untuk memastikan dia menyiapkan makanan dan menyimpan uang untuk Bobby sebelum pria itu bangun.
Tiga, Jihoon sangat lembut dan gentle, dia selalu memastikan kenyamanan Hyunsuk di atas segalanya.
Empat, Jihoon begitu peduli pada anak-anak di panti asuhan, mungkin karena dia tahu bagaimana rasanya hidup tanpa kasih sayang dari orang tua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Truly Madly Deeply [✓]
Romance"There's another side that you don't know." ↺BxB || Homo || Gay || Yaoi ↺M-Preg
![Truly Madly Deeply [✓]](https://img.wattpad.com/cover/313974818-64-k484965.jpg)