sebelum kalian mulai membaca, kita dr sini mundur ke masa sebelum suk hamil alis flashback, dan ini dari jihoon's side. supaya kalian tau, selama ini ji ngapain.
happy reading anyway...
psss, semoga kalian gak bingung ♥
***
Telapak tangan besar itu lagi-lagi mendarat pada pipi Jihoon yang masih memunculkan bekas tamparan kemarin, kini bekas itu kembali menjadi lebih jelas lagi.
"Apa yang kau lakukan selama ini? Seratus ribu won dalam tiga hari? Bodoh, seharusnya kau bisa mencari uang lebih banyak, kau menghabiskan uang lebih banyak dari ini untuk sekolahmu yang tidak berguna itu!"
Jihoon tidak menjawab, ia lebih memilih mengusap pelan bekas tamparan di pipinya yang masih terasa panas.
"Kau sebaiknya pergi dari hadapanku sekarang dan cari uang lebih banyak atau aku akan membunuhmu." selepas mendengar Ayahnya berkata demikian, Jihoon langsung pergi, mengambil jaketnya yang kusam dan berjalan tak tentu arah.
Mengabaikan rasa perih pada pipi dan hatinya. Itu bukalah sesuatu yang aneh atau baru, Jihoon sudah terbiasa dipukul dan dicaci oleh Ayah. Tapi hatinya tetap terluka meski itu tidak separah dulu.
Melirik toko yang buka dua puluh empat jam, tatapan Jihoon tertuju pada jam dinding yang menempel di sana. Pukul dua belas malam kurang beberapa menit. Dan jika Jihoon tidak salah ingat, ini adalah tanggal tiga belas Maret, beberapa menit menuju ulang tahunnya yang menyedihkan.
Jihoon merogoh seluruh sakunya, berharap semoga ada beberapa lembar uang yang tersisih di sana. Tapi apa yang Jihoon harapkan, bahkan ketika itu satu won pun, itu tidak akan luput dari pandangan Bobby.
Ia tertawa renyah, 'baiklah. Aku toh sudah lima belas kali berulang tahun dan tidak pernah meniup lilin sekalipun, yang keenam belas pasti tidak akan ada bedanya.' bisik Jihoon, membesarkan hatinya sendiri.
Kemudian Jihoon melanjutkan perjalanan yang sudah menjadi makanan sehari-harinya itu, menyusuri jalanan kumuh, menunggu waktu semakin larut agar ia bisa pulang ketika Ayahnya sudah tertidur atau terlalu mabuk untuk sadar.
Biasanya butuh waktu tiga sampai empat jam bagi Bobby untuk mabuk atau tertidur, dan Jihoon akan kembali saat itu. Untuk mendapat beberapa menit waktu guna menutup matanya, mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian dipaksa beraktifitas tanpa henti.
Sembari menunggu waktu, Jihoon duduk di pinggir sungai, sesekali melempar batu atau mencabuti rumput di tengah dinginnya malam.
Ia tertawa renyah, lagi.
"Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun, Jihoon. Kau enam belas tahun sekarang, berhenti mengeluh dan hadapi hidupmu yang mengenaskan ini." ujarnya. Jihoon tidak merasa sedih, dia sudah terbiasa.
Lagipula, itu hanya ulang tahun. Bukan sesuatu yang harus ia pikiran sampai sebegitunya.
Jihoon justru mengantuk saat ini, jujur saja. Ia lelah, ingin sekali meringkukkan tubuhnya di atas kasurnya yang reyot dan keras itu, tapi jika dia kembali sekarang, Ayahnya akan membunuhnya.
Maka, di sanalah dia. Duduk selama beberapa jam seorang diri, merasakan rasa lelah dan nyeri pada tubuhnya.
Jihoon tidak melakukan kebiasaannya karena dia lupa membawa pusakanya.
***
Begitu Jihoon yakin Ayahnya sudah kehilangan kesadaran—mungkin karena tidur atau mabuk, Jihoon pulang, membuka pintu rumahnya yang berdecit keras ketika pintu itu didorong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Truly Madly Deeply [✓]
Romance"There's another side that you don't know." ↺BxB || Homo || Gay || Yaoi ↺M-Preg
![Truly Madly Deeply [✓]](https://img.wattpad.com/cover/313974818-64-k484965.jpg)