Part 11

3.7K 515 35
                                        

Itu berlangsung tidak terlalu baik. Secara keseluruhan, tidak ada yang benar-benar berlangsung baik pada Jihoon semenjak ia lahir. Belum, setidaknya.

Hyunsuk, tentu saja, sesuai perkiraan Jihoon, dia menolaknya dan Winter. Melakukan banyak protes termasuk membuat kegaduhan dengan berhenti makan dan merajuk.

Demi apapun, si bajing—banjangnim ini benar-benar.

Jihoon rasanya ingin menjungkir-balikkan dunia ketika Hyunsuk melakukan itu. Maksudnya, Jihoon tahu dan mengerti apa yang dirasakan Hyunsuk, dia juga merasakannya.

Hanya saja, apa Hyunsuk tidak memikirkan kehidupan lain yang saat ini berada dalam perutnya?

Untuk itu Jihoon membentak Hyunsuk dan mengatakan kalimat memohok pada si banjangnim ketika dia hendak memaki Jihoon lagi.

Sebenarnya, Jihoon sama sekali tidak berniat demikian. Dia hanya ingin Hyunsuk sadar bahwa Winter bukalah dosa yang sampai harus membuat Hyunsuk merasa menyesal.

Tapi mulutnya berucap sangat tajam dan membuat si banjangnim terlihat terkejut juga panik. Buru-buru Jihoon meminta maaf dan meminta Hyunsuk untuk mencoba segalanya dengannya.

Dalam hati dia memohon, pada Tuhan manapun agar Hyunsuk mau. Karena Jihoon tidak ingin merasa berdosa atau bersalah pada anaknya.

Mungkin, Dewi Keberuntungan mulai berpihak pada Jihoon ketika Hyunsuk setuju dan ingin mencobanya.

Atau setidaknya itulah yang Jihoon pikirkan ketika dia tidak harus terlibat dengan para rentenir atau Ayahnya.

Tidak perlu Jihoon jelaskan dua kali, dia selalu berakhir dikejar-kejar atau dipukuli ketika dua hal terburuk dalam hidupnya muncul.

Dan tidak perlu Jihoon kata lagi, Winter kembali berulah, lebih parah. Kali ini, dia menolak makan. Membuat Jihoon jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

Baik. Tidak masalah. Asal itu tidak membuatnya mati.

Dari semua hal menyusahkan yang terjadi, Jihoon sangat bersyukur karena Hyunsuk tidak lagi melakukan pemberontak.

Sebisa mungkin Jihoon memenuhi kebutuhan Hyunsuk dan menemuinya setiap hari disela-sela waktunya bekerja.

Jihoon juga sesekali memeluk Hyunsuk di tengah malam, untuk memenuhi permintaan Winter—untuk mengisi kembali tenaganya.

Tolong jangan pedulikan bagian tenaga, Jihoon tidak melakukan itu atas keinginannya. ITU KEINGINAN WINTER.

Sampai beberapa minggu semuanya terasa baik-baik saja. Meski sebenarnya tidak ada yang baik-baik saja.

Tapi suatu malam, ketika Jihoon berniat mengajar anak-anak telantar seperti biasa, Jihoon jatuh pingsan dan semuanya di luar kendali.

Bukannya tidak mungkin tapi Jihoon sangat jarang sakit, terkecuali akhir-akhir ini karena Winter sering berulah. Dia sepertinya sangat membenci Jihoon.

Jihoon tidak bisa bergerak dari tempat tidurnya ketika ia sadar, dia benar-benar lemas dan menyusahkan.

"Kau ini sangat menyebalkan." rengek Junkyu saat muntahan Jihoon mengenainya.

Jihoon bahkan tidak memiliki tenaga untuk menjawab ucapan Junkyu, dia hanya mampu berkedip, sangat menyedihkan.

"Ish!" teriak Junkyu jengkel. Lekas bangkit dan mengeluh keras-keras pada Mark. "Mark, aku tidak mau menjaganya lagi!"

"Junkyu," bukan Mark yang menjawab melainkan Haruto. "Jagalah Jihoon hyung, kau tidak sibuk melakukan apapun seperti yang lain."

Junkyu menatap sekeliling dan menemukan semua orang dengan kesibukan masing-masing. Mendesah jengkel sebelum kembali berbalik dan menatap Jihoon cemberut. "Aku yang akan memutuskan nama untuk anakmu sebagai balas budi!"

Truly Madly Deeply [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang