"Bagaimana kabar istrimu?"
Jihoon tertegun mendengar penuturan Bobby, itu cukup asing baginya. Ia beberapa kali berkedip sebelum memutuskan untuk menjawab ragu, "baik-baik saja."
"Itu bagus." ujar Bobby, duduk di bangku dan mulai menyalakan rokok, menghisap benda kecil itu pelan. "Duduklah, kau tidak ingin duduk bersama Ayahmu?"
Jihoon cepat-cepat menggeleng, langsung ikut duduk di samping Bobby yang kini menatap malam dalam diam.
"Siapa namanya?"
"Hyunsuk, Ayah."
Bobby mengangguk, menyodorkan sebungkus rokok pada Jihoon yang langsung ditolak dengan canggung.
Jihoon cukup terkejut Ayahnya mau membuang waktu untuk duduk dan mengobrol dengannya seperti itu.
Sebelumnya sangat jarang bagi Bobby untuk mau berbasa-basi dengannya. Jangankan ingin tahu urusan Jihoon, tahu Jihoon bernafas atau tidak saja, dia tidak.
Bobby biasanya hanya mengajak Jihoon berbicara ketika dia membuat hutang baru atau mendapat masalah dari para rentenir.
Yang barusan itu, benar-benar aneh.
"Kuperhatikan kehidupan kalian damai, pekerjaan apa yang kau lakukan untuk memenuhi kebutuhannya?"
Atau mungkin ini sama seperti biasanya. Cakap-cakap tidak penting itu hanya bentuk pancingan agar Jihoon memberi uang lebih pada Bobby.
"Aku melakukan pekerjaan seperti biasa," balas Jihoon seadanya.
Karena Jihoon memang bekerja seperti biasa, hanya saja ia meminta bayaran lebih pada beberapa orangtua yang anaknya ia ajar ditingkat lanjut.
"Baguslah, kau tidak membanting tulangmu terlalu keras, bukan?"
Jihoon kembali tertegun, tak terlintas dalam benaknya sedikitpun bahwa Bobby akan mengatakan kalimat seperti itu.
"Tidak..."
Bobby terkekeh dalam, "apa kau sebenci itu padaku sampai kau membalas perkataanku dengan singkat?"
Haruskah Bobby bertanya demikian? Karena jika Jihoon ingin jujur dan menjadi orang jahat, Jihoon tidak akan sudi menghirup udara bersama orang yang hampir membunuhnya belasan kali itu.
Tapi Jihoon tidak.
Dia tetap menyayangi Bobby sebagaimana mestinya, karena Bobby adalah Ayahnya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki selain Hyunsuk dan Winter.
"Apa Ayah membutuhkan sesuatu? Aku tidak bermaksud menomor duakan Ayah tapi Hyunsuk membutuhkanku, dia sering mengeluh bosan."
Perkataannya sopan, sampai Bobby yang sejak tadi sibuk bersama rokoknya dan menatap hamparan bintang kini menatap Jihoon tanpa bisa diterka.
Tapi Jihoon menyadari sesuatu di matanya, ada setitik rasa bangga dan bersyukur yang langsung tertutupi begitu Bobby membuang wajahnya.
"Pergilah." ketus Bobby dan Jihoon hanya bergumam sebelum pamit pergi.
Tapi sebelum Jihoon benar-benar jauh, Bobby memanggilnya, "Jihoon-ah,"
Jihoon berbalik, menunggu kelanjutan dari ucapan Bobby. Tapi pria itu justru menggeleng kemudian mengibaskan tangannya, dia melenggang pergi dan hanya menyisakan Jihoon yang kebingungan.
Bobby benar-benar aneh.
***
Ini hari minggu, Jihoon seharusnya menjaga Jila tapi dia tengah berlibur bersama keluarganya dan itu memberi kesempatan bagi Jihoon untuk ikut berlibur, di rumah bersama Hyunsuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Truly Madly Deeply [✓]
Romance"There's another side that you don't know." ↺BxB || Homo || Gay || Yaoi ↺M-Preg
![Truly Madly Deeply [✓]](https://img.wattpad.com/cover/313974818-64-k484965.jpg)