02 - Rencana

10 2 0
                                    

“Rencana kita untuk berkemah-” Daichi berpikir sejenak, kata berkemah sepertinya tidak terlalu cocok, “ah, mungkin lebih tepat dikatakan berlibur ya” lirihnya. Ia berdehem pelan, mengulangi kalimat yang akan diucapkannya. “Rencana kita untuk berlibur, sepertinya akan berjalan dengan baik. Sewaktu kita berlatih, Yachi sudah meminta izin pada ibunya, dan ibunya menyetujuinya. Hanya saja vila yang dimaksud Yachi berada di pedalaman dan hampir berada di tengah hutan, tad-“

“HUTAN?!” mereka kompak berteriak menyebutkan satu kata yang menjadi fokus mereka saat Daichi mencoba menjelaskan, walau sebenarnya penjelasannya belum selesai.

“Maaf” Yachi membungkukkan badannya lagi seperti yang dilakukannya beberapa saat lalu.

“Kau sangat suka membungkukkan badan ya, Yachi” Ejek Tsukisima yang langsung ditatap sendu oleh Yachi.

Memang benar yang Tsukisima katakan, bahkan untuk satu topik ini, Yachi sudah membungkukkan badannya sebanyak dua kali.

“Tsukisima, kau ini!! Jangan mengejek Yachi begitu!” Bela Hinata. Ia menatap tajam pada Tsukisima dan lansung mengubah tatapannya menjadi lembut saat menatap Yachi, “Nggak papa kok Yachi. Kami spontan teriak bukan karena nggak setuju, tapi karena excited. Yakan Kageyama?”

Kageyama mengangguk, menurut Kageyama perkataannya tidak terlalu benar, karena Kageyama memang agak khawatir saat mendengar kata hutan, tapi ia tidak mau menunjukkannya, karena kalau ia mengatakannya, ia merasa kalah dengan Hinata yang sangat senang dan tidak takut dengan hutan.

Tsukisima cekikikan mendengar penuturan Hinata barusan, “Hinata menggunakan kata ‘excited’ hahaha, emang kau tau artinya?”

“A-apa yang salah dengan kata itu? Aku sering mendengarnya.” Wajah Hinata seketika memerah. Sebenarnya ia tidak terlalu sadar menggunakan kata itu. Ia pernah mendengar kata itu beberapa kali dan ia tau artinya ‘Buuammm’ begitulah. Tak terlalu yakin dengan artinya, tapi ia yakin itu adalah kata yang tepat. Dan Tsukisima malah lebih menertawakannya.

“Sudah sudahhh” Daichi menepuk tangannya lagi dua kali untuk mendapatkan perhatian dari teman-temannya lagi. “Tadi Yachi tidak menjelaskannya karena ia lupa, terakhir kali ia berlibur ke sana dengan keluarganya saat umur sembilan tahun. Jadi saat Yachi meminta izin, ibunya menjelaskan vila mereka lagi.” Lanjutnya.
Daichi memberi aba-aba pada Yachi untuk menggantikannya menjelaskan agar tidak ada yang salah.

Yachi mengagguk sebagai tanda bahwa kode Daichi dapat dimengerti olehnya.

“Hmm, jadi kita butuh waktu sekitar dua sampai tiga jam untuk sampai di sana. Aku juga tak terlalu ingat dengan vilanya, karena kami sudah lama sekali tidak ke sana. Tapi tenang aja, vilanya bersih kok, dua kali seminggu ada yang bertugas untuk membersihkannya.”

“Gimana? Ada yang keberatan?” Daichi mengambil alih diskusi. Semuanya menggeleng menandakan setuju dengan tempat yang disediakan Yachi.

“Pasti setuju Daichi-san, kan tempat liburannya disediakan gratis” celetuk Noya sambil mengacungkan ibu jarinya.

“Bukannya kita harus tetap membayar sewanya?” Tanya Ennosita.

“Oh? Aku pikir gratis”

“E-Ehh gratis kok. Tadi ibu bilang begitu. Soalnya vilanya juga sedang tidak dipakai.”

Semuanya tampak mulai bersemangat lagi mendengar kata “gratis” setelah sempat khawatir mendengar pertanyaan Nishinoya.

“Nah, untuk transportasi nanti aku atur supaya bisa nyewa bus yang biasa mengantar kita ke pertandingan. Untuk konsumsi, kita bawa bahan-bahan seadanya dari sini dan masak sendiri di sana. Nah yang terakhir, untuk waktu keberangkatan. Ada ide?”

“Semakin cepat semakin baik. Karena setelah ini kita harus fokus latihan untuk pertandingan selanjutnya” jawab Kageyama. Yaa, dia semangat untuk liburan ini, tapi semangatnya untuk bertanding di Nasional juga tidak dilupakannya.

“Wahhh, sasuga, Kageyama terus memikirkan tim ya. Hebat” sambung Suga dan langsung disetujui oleh Kageyama sendiri. “Apa baiknya kita liburanya akhir minggu ini?” Usul Suga.

Daichi dan lainnya tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

Sabtu dan minggu sekolah mereka libur. Itu artinya mereka bisa berangkat hari jumat sore atau malam, dua hari dari sekarang. Agak mendadak, tapi mereka yakin semua akan baik-baik saja.

Mereka lanjut diskusi untuk hal-hal lainnya, bahkan untuk hal-hal sepele. Daichi yang memimpin diskusi akan memastikan semua rencana tersusun dengan rapi.

Setelah kurang dari satu jam, diskusi selesai. Mereka langsung bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Sebenarnya Kageyama dan Hinata berikeras untuk latihan sebentar lagi, namun Daichi mengatakan dengan tegas bahwa tidak ada latihan tambahan hari ini. Karena Daichi tau “sebentar” yang dimaksud Kageyama dan Hinata berbeda dengan “sebentar”nya orang-orang.
Bukannya Daichi menghalangi mereka untuk menjadi lebih kuat, hanya saja, kesehatan tubuh mereka juga harus diperhatikan. Menurut Daichi, istirahat juga bagian dari latihan.

Di perjalan pulang, Daichi, Suga, dan Asahi hanya bungkam, tanpa tau akan membicarakan hal apa. Sampai akhirnya Asahi membuka mulutnya.

“Liburan bersama yang kita rencanakan ini sep-”

Stopppp!!” Suga memotong ucapan Asahi, sambil memukul pelan bahu sang Ace yang diacungi jempol oleh Daichi sebagai tanda yang dilakukannya sudah benar, sebenarnya tidak terlalu sakit, tapi Asahi berlagak seperti terkena pukulan yang amat dahsyat yang membuat Suga dan Daichi menatapnya heran.

“Habisnya aku belum menyelesaikan kalimatku” jelasnya yang ntah kenapa paham akan tatapan Suga dan Daichi yang seakan menyuruhnya untuk tidak berlebihan.

“Kau belum menyelesaikan kalimatmu pun kami sudah tau maksudmu.”

“Kita bukan hanya jumpa di sekolah. Ini bukan perpisahan” Sambung Suga yang tentu saja disetujui Daichi. Ya, setidaknya itu adalah harapan Suga.

“Ngomong-ngomong Suga, belakangan ini ada yang mengganggu pikiranmu ya?”

Suga hampir menghentikan langkahnya. Bingung sendiri dengan sikap teman-temannya. Memang benar sih belakangan ini ada yang mengganjal pikirannya, tapi Suga udah berusaha untuk bersikap biasa saja. Apa tidak berhasil dan tetap kelihatan ya?

“Wuahh kalian ini kenapa? Aku jadi merasa dicintai loh kalau kalian perhatian begini. Eh tapi aku tetap suka sama cewek, perhatian kalian tidak berpengaruh” Tanya Suga balik diselingi tawa renyah darinya. Matanya menyipit dan di akhir kalimat senyumnya terlihat sangat tulus, membuat wajah tampannya terlihat semakin manis.

Asahi yang tidak mengerti menatap Daichi yang hanya bungkam. Asahi menatap Suga lagi, meminta penjelasan dari kalimatnya.

“Kalian tau, Daichi, Shimizu, dan sekarang kau Asahi menanyakan hal yang tidak jauh berbeda. Memangnya ada apa denganku? Aku biasa-biasa aja kok” Jelas Suga sambil mengangkat ibu jari di depan wajahnya, mencoba meyakinkan kedua sahabatnya itu bahwa tidak ada yang salah.

Langkah kaki Suga sedikit lebih cepat, sedangkan langkah kaki Asahi dan Daichi sedikit lebih lambat sehingga ada sedikit jarak di antara mereka.

Asahi hendak merayu Suga untuk membicarakannya, namun niatnya yang terbaca oleh Daichi segera dihentikan. Daichi menggeleng dan memintanya untuk membiarkan Suga.

Asahi dan Daichi mengambil langkah besar untuk menyejajarkan posisi mereka kembali.

Mereka sudah berteman selama sekitar tiga tahun, bahkan mereka ada di satu ekstrakulikuler yang sama. Waktu yang mereka habiskan bersama bukannya sedikit. Tanpa mereka sadari, mereka telah mengenal satu sama lain dengan baik. Mereka telah saling mengenal. Sikap Suga yang seperti ini malah membuat Asahi dan Daichi semakin curiga. Tapi mereka tentu saja tidak bisa memaksanya untuk bercerita. Kalau memang sekarang Suga tidak nyaman menceritakannya, mereka harus sabar menunggu sampai Suga sendiri yang akan mengatakannya. Hal besar atau pun kecil bahkan untuk hal-hal sepele, mereka siap mendengarkan dan membantunya, yang seperti itu memang wajar dilakukan oleh sesama sahabat kan?

Bercela [END] ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang