18 - Penyelamat

4 1 0
                                    

“Hitoka-chan, kau tau kan Suga adalah kambing hitamnya? Kalau Suga yang termasuk orang terdekatku saja bisa menjadi kambing hitam karena aku, menurutmu apa yang akan kulakukan padamu yang udah banyak tau tentang aku dan kejadian di vila itu?”

Yachi  menegang, ia harus mengingatkan dirinya berkali kali bahwa orang yang dihadapannya sekarang ada Shimizu agar ia bisa menatap mata Shimizu.

“Shi-Shimizu senpai. Aku tidak mengerti apa maksudmu.” Yachi menegakkan tubuhnya, ia memegangi lengan kirinya yang ntah sejak kapan terasa sangat sakit, “Kenapa kau tega membuat Suga-san menjadi kambing hitam dan membuatnya tidak dipercaya oleh teman-temannya sendiri?”

“Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu!”
Shimizu melangkah maju ke arah juniornya itu. Yachi mengikuti insting untuk tidak memangkas jarak antara Shimizu dan dirinya. Namun hanya mundur beberapa langkah, punggung Yachi sudah terbentur pelan dengan dinding di belakangnya. Rasanya, secepat ia mengedipkan mata, Shimizu telah berada di hadapannya, mengambil rambut pirang Yachi dalam genggamanya. Shimizu menariknya, Yachi mendongak agar bisa meminimalisir rasa sakit akibat jambakan Shimizu. Kedua tangan Yachi sudah menggenggam tangan kanan Shimizu berharap Shimizu mau melepaskan tarikan pada rambutnya saat itu juga. Tapi ternyata Yachi masih harus terus menahannya.

Kedua netra biru Shimizu menatap wajah juniornya yang tampak ketakutan itu. Sekali lagi, Yachi melihat keraguan di mata Shimizu.
Yachi merasakan sakit yang lebih dari sebelumnya tatkala Shimizu menguatkan tarikan rambutnya.

“Kau berjanji akan tutup mulut kan, Yachi-chan?"

Yachi tak menjawab, Shimizu terlihat benar-benar berbeda, tidak ada kelembutan dan keramahan di sana, tidak seperti biasanya. Bahkan kali ini Shimizu memanggilnya dengan marganya.

Tidak mendengar jawaban apa pun dari Yachi, Shimizu semakin menarik rambut Yachi.

Yachi meringis, air matanya sedikit mengalir begitu saja. 

“Shi-shimizu senpai.. kenapa?” Suara Yachi tercekat, berbicara sambil berusaha menahan tangisannya ternyata sangat sulit. Padahal air matanya telah mengalir, tapi Yachi masih berusaha terlihat tidak takut. “Kau tidak bermaksud kan.. Miya-san tidak di sini, kenapa kau masih menurutinya.”

Yachi merasakan tarikan pada rambutnya sedikit mengendur namun hanya beberapa detik sampai Yachi harus meringis lagi karena semakin kesakitan.

“Jangan sok tau, Yachi-chan! Aku hanya butuh janji kau tutup mulut. Atau kau mau kita seperti ini terus sampai rambutmu rontok karena jambakanku?”

Yachi menggeleng pelan, sudah berapa menit mereka berada di posisi seperti ini? Yachi merasakan kepalanya mulai pening.

“Kau.. juga harus janji membersihkan nama Suga-san”

Shimizu tertawa remeh. Dia melakukan ini agar Yachi menutup mulut, tapi Yachi malah memintanya melakukan hal konyol. Kalau dia membersihkan nama Suga, itu berarti dia siap untuk lebih mengotori namanya sendiri lagi.

“Suga lagi, Suga lagi. Kenapa kau terus membawa namanya? Kau suka padanya? Kenapaa aku-”

“YACHI!"

Kalimat Shimizu menggantung saat sebuah dobrakan pintu terdengar. Padahal pintu tidak terkunci, tidak pula tertutup rapat, namun dari suaranya, Shimizu yakin orang itu telah mendorong pintu itu sekuat tenaganya.

“Menyebalkan. semua pasangan saling menyelamatkan. Itu malah membuatku ingin lebih menyakiti salah satunya. Yah walau saat ini aku sudah menyakiti keduanya” Ucap Shimizu, posisinya tetap sama seperti sebelumnya. Bahkan kehadiran Suga di hadapannya tidak membuat Shimizu melepaskan jambakannya pada Yachi.

Bercela [END] ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang