Semua berada di kamar Suga setelah Yachi menceritakan apa yang terjadi. Tidak terlalu jelas karena Yachi juga sedikit bingung. Ia tak mengerti kenapa Suga mendadak mendorongnya.
Beruntung jurangnya tidak terlalu dalam sehingga Daichi, Asahi, dan Tanaka bisa langsung mengeluarkan Suga dari jurang itu. Mungkin seharusnya tidak dapat dikatakan jurang karena tidak terlalu dalam dan curam. Suga mendapat luka yang cukup serius di kedua sikunya, saat terjatuh, dia mencoba menahan tubuhnya agar tidak terjatuh lebih dalam lagi walau tak berhasil. Sedangkan di kaki, lengan, dan wajahnya lecet di sana-sini.
Semua sangat khawatir, Shimizu sigap mengobati luka-luka di tubuh Suga dengan pengobatan yang dibawanya. Sebagai manajer tim voli, setidaknya Shimizu tau pertolongan pertama yang harus dilakukannya.
Kageyama menatap lurus ke arah Suga yang sedang terbaring tanpa kesadarannya. Ia terus menimbang bahwa ada kemungkinan ini terjadi karena kesalahannya. Mungkin saja Suga terkejut karena teriakannya dan membuat Suga masuk ke semacam jurang itu. Tapi belum tentu, mungkin aja Suga tertiup angin dan menjadi jatuh. Lagipula kenapa di situ ada jurang? Pikirnya.Di saat Kageyama sibuk dengan pikirannya, Yachi berlari menuju ke samping vila di mana Yachi dan Suga berbincang tepat sebelum Suga jatuh.
Yachi memperhatikan setiap langkahnya dengan hati-hati sampai ia melihat ada seperti ranting dan daun kering yang tersebar agak luas. Sedikit mencurigakan, Yachi menyingkirkan semua ranting dan daun kering. Tepat di tengah tumpukan ranting dan daun kering itu terdapat lubang yang tidak kecil, Yachi tidak dapat memperhitungkan kedalamannya, yang Yachi yakini lubang itu bisa saja membuat orang yang terjatuh mengalami keseleo atau terkilir.Sekarang Yachi tau alasan Suga mendorongnya. Ia pasti akan jatuh ke dalam lubang itu seandainya ia menginjak tumpukan ranting dan daun itu. Yachi langsung menyimpulkan bahwa itu adalah salahnya. Kalau saja dia lebih berhati-hati dan langsung menyadari ada yang aneh dengan tumpukan daun kering di tanah yang lembab ini, pasti Suga tidak perlu menyelamatkannya dan mengakibatkan diri Suga masuk ke dalam jurang itu.
"Yachi.."
Yachi berlari ke sumber suara dan segera memeluk orang tersebut. Air matanya jatuh begitu saja, masih sangat khawatir dan merasa bersalah.
"Shi-Shimizu-senpai... Suga-san... Suga-san jatuh ka-karena aku.." Yachi berusaha mengatur pernapasannya yang tersegal karena tangisnya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menjelaskannya, Shimizu membalas peluknya, berusahan menenangkan adik kelasnya yang lembut ini. "Su-Suga-san.., su-supay-"
"Tenanglah Yachi. Jangan menyalahkan dirimu. Ini kecelakaan kan? Suga tidak apa-apa. Suga sudah sadar, ku rasa dia sampai pingsan hanya karena terkejut, ayo kita ke dalam"
Langkah kaki Yachi sedikit berat, ia merasa takut menemui orang yang celaka karenanya, namun Shimizu terus merangkulnya. Mereka masuk ke dalam seraya Yachi menyeka air matanya.
"Udah ku bilang ini nggak ada hubungannya dengan suaramu" Ucap Suga sambil tersenyum pada Kageyama yang sedikit membungkukkan badannya.
Yachi bisa melihat keadaan Suga yang menurutnya tidak bisa dikatakan baik, tapi tidak separah yang dibayangkannya.
Kageyama telah menegakkan badannya begitu Yachi dan Shimizu masuk, ia bergeser seolah memberi ruang untuk Yachi dan Shimizu berdiri di hadapan Suga.
"YACHI?! Kenapaaa?" Teriak Hinata melihat wajah merah Yachi dan sisa air mata di pipinya.
Yachi sontak mengucek kedua matanya dan beralasan kedua matanya kemasukan debu. Hinata mempercayainya.
Tsukisama menertawakan Hinata remeh. Siapa pun bisa tau kalau itu cuma alasan. Gimana bisa Yachi kemasukan debu di vila asri begini. Tapi Tsukisima tak mau memperpanjang hal itu, ia penasaran, tapi tak mungkin menanyakannya sekarang.
"Yachi, maaf ya tadi aku dorong kamu sampai jatuh" Ucap Suga.
Yachi menggeleng, memberi tanda bahwa itu bukan masalah.
"Su-Suga-san? Tadi-"
"Kayaknya aku langsung kena karma ya karena ngisengin kamu" potong Suga. Suga sedikit menggeleng pada Yachi berharap dapat membungkam Yachi membahas hal itu, dan sepertinya Yachi sadar akan hal itu.
"Apa baiknya kita pulang siang ini aja? Suga harus dirawat" Saran Daichi.
"Jangan! Aku nggak papa kok! Bener! Ini kan liburan. Kalian harus menikmatinya."
"Dan sambil merasa bersalah karena bersenang-senang saat Sugawara-san terluka?"
Daichi membelalakan matanya pada Tsukisima. Ucapannya ada benarnya, apa bisa mereka bersenang-senang saat Suga terluka seperti ini, tapi mengatakannya langsung pada Suga begitu sepertinya kurang tepat.
"Aku lebih menrasa bersalah liburan ini berantakan cuma karena aku. Aku beneran ngga papa" Suga memaksakan duduk segera untuk meyakinkan teman-temanya ia baik-baik saja. Daichi yang memang berada di samping Suga spontan membantunya."Tapi Suga-san-"
"Udah-udah, lanjutin gih kegiatan kalian!" Ucap Suga memotong perkataan Tanaka.
Daichi mengerti dia tidak bisa mengubah keputusan Suga. Ia mengangguk dan mengajak semua teman-temannya keluar kamar dan melanjutkan aktivitas mereka. Yachi dan Shimizu tidak berniat meninggalkan kamar Suga. Daichi dan Tsukisima yang terakhir berjalan meninggalkan kamar, tapi selangkah lagi Daichi keluar dari kamar, ia menghentikan langkahnya yang membuat Tsukisima hampir saja menabrak seniornya itu. Daichi segera berbalik dan duduk di samping ranjang.
"Apa ini benar-benar kecelakaan?" selidiknya. Tsukisima yang mendengar kalimat Daichi mengurungkan niat untuk meninggalkan kamar itu. ia bersandar di dinding dekat pintu, bukan bermaksud ikut campur, tapi dia merasa ia harus tau hal ini. Dan sepertinya mereka sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Tsukisima.
Suga tertawa mendengar pertanyaan Daichi, mencoba mengelabuinya, dan ia menghentikan tawanya begitu melihat wajah Daichi yang semakin serius.
"Aku tak bisa menyembunyikan apa pun darimu ya, Daichi"
Daichi masih serius, mencoba mendesak Suga membuka mulut dengan apa yang terjadi. Biar bagaimanapun dia kapten klub voli ini, dia merasa bertanggungjawab kepada semua anggotanya.
"Aku nggak mau yang lain jadi khawatir karena kecurigaan tak mendasar dariku"
Suga melirik Tsukisima yang masih bersandar di dinding. Yachi sudah terlibat, Daichi dan Shimizu tidak mungkin membicarakan hal yang tidak perlu pada lainnya. ia merasa ragu untuk bicara karena ada Tsukisima di sana.
"Apa aku terlihat seperti orang yang akan terganggu dengan hal-hal seperti itu?"Suga mengangguk, menyetujui ucapan Tsukisima dan mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Seperti yang Yachi duga, Suga mendorongnya agar Yachi tidak menginjak tumpukan daun kering itu yang terlihat mencurigakan bagi Suga.
"Aku tak bisa memastikan kalau itu memang berbahaya, tapi setidaknya aku mencoba mencegah bahaya-"
"Dengan mengorbankan dirimu?" timpal Daichi, Yachi mulai terisak, dan Daichi tersadar dan langsung meminta maaf pada Yachi karena ia salah memilih kata. "Bukan berarti tidak masalah kalau kau yang menginjak tumpukan itu, maaf"
Yachi bangkit dari duduknya dan langsung membungkukkan badannya, "Maaf kau begini karenaku Suga-san! Dan terima kasih telah menyelamatkanku. Tadi aku melihat tumpukan daun kering dan ranting itu. memang benar di sana ada lubang yang cukup dalam"
Suga tertawa lagi melihat Yachi yang masih begitu kakunya. Suga segara menyuruh Yachi duduk kembali.
"Sudah berapa kali ku bilang, aku nggak papa. Jadi jangan merasa bersalah begitu, Yachi"
"Tapi kau sampai pingsan, a-aku takut seseorang kenapa-kenapa karenaku"
Yachi mengeluarkan air matanya lagi, Shimizu memeluknya lagi, menenangkannya kembali. Yachi tak mau terlihat cengeng di depan para seniornya, tapi air matanya mengalir begitu saja.Sesaat setelah Yachi mengeluarkan air matanya tadi, Tsukisima melangkah ke luar, menuju tempat yang disebutkan Yachi dan melihat memang adanya lubang di sana. Dinding lubang itu masih basah, seperti baru digali.
"Jebakan? Tapi siapa? Untuk apa?" gumamnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bercela [END] ✔
FanficMemberi toss terbaik adalah hal yang harus ia lakukan. Berdiri di lapangan dengan waktu terlama yang ia bisa adalah hal yang harus ia pertahankan. Di tahun ketiga ini, ia akan mengukir kenangan indah di lapangan voli sebagai tim dari Klub Voli Karas...