Bab 2. HahAsuuuuuu

984 86 2
                                        

"Mamaaaaaa! Lisha udah telat banget ini! Kaos kaki Lisha di mana?'

"Udah mama siapin di atas sepatu, Dek!"

Bisa-bisanya. Di hari Senin yang indah ini aku justru bangun kesiangan. Padahal ada upacara, tapi sampai pukul 06.20 ini aku masih saja ada di rumah.

Jarak tempuh ke sekolah kan jauh. Pasti telat kalau naik angkot. Untung saja Kak Rhina sudah menyanggupi akan mengantar aku ke sekolah.

"Kak Rhi! Ayo berangkat! Udah mepet banget ini!" teriakku sambil memakai sepatu.

"Kak Rhina udah berangkat ke kampus dari tadi, Dek."

"Eh?"

Kok Kak Rhina semakin sialan aja, sih?! Padahal tadi waktu mau mandi dia bilang iya-iya saja waktu aku minta dianterin. Shibal banget tuh anak.

"Ma, aku naik motor sendiri, ya. Udah telat banget ini."

"Nggak usah, Dek. Mama udah minta Langit nganterin kamu, kok. Itu anaknya udah nungguin di emper dari tadi."

"Hah? Kak Langit anaknya Tante Selvia maksud Mama?"

"Emangnya kita punya tetangga yang namanya Langit lagi ya, Dek?"

"Ihh! Bukan gitu, Ma. Maksudku, kok tuh anak mau nganterin aku sih?"

"Memangnya kenapa nggak mau? Dulu kan-"

"Ah! Tau ah! Terserah yang penting aku nggak telat." sungutku karena Mama tak kunjung paham juga jika aku itu TIDAK SUKA dengan Kak Langit.

Anak menyebalkan macam dia harusnya ke laut saja.

Meski kesal aku harus tetap sopan. Kusodorkan tangan ini kepada Mama dan bersiap memberikan salam.

"Ya udah, Ma. Berangkat dulu. Assalamualaikum." ujarku sambil mencium punggung tangan Mama.

"Waalaikumsalam. Hati-hati ya, Dek."

"Hmm."

Kuharap Mama berbohong tentang si alien yang mau mengantarkanku. Tapi begitu kubuka pintu, rupanya mahluk itu sudah benar-benar ada di sana. Dia duduk di kursi teras rumahku sambil memainkan hp-nya.

Mendengar suara pintu di buka, manusia yang bernama Langit itu pun langsung melihatku. DENGAN WAJAHNYA YANG LEMPENG.

Dia tidak berbicara apapun dan hanya menatapku lamat-lamat. Rasanya semakin tegang karena aku juga tidak tahu harus bicara apa.

Berada di dekatnya selalu saja bisa membuatku mati gaya.

Tapi demi upacara, aku harus berani. Isi hati ini harus kukeluarkan agar aku tidak sampai telat.

"A-anu, Kak. Mama bilang, Kak Langit mau nganterin aku ya?"

Duh Gustiiii! Kak Langit ini punya masalah apa sih sama suaranya? Kenapa diam terus kalau aku bicara. Cuma matanya saja yang hidup.

Mana jam tanganku sudah menunjukkan pukul 06.30 lagi. Kalau naik sepedanya tidak ngebut mana keburu. Pasti telat.

"Mau sekolah atau fahion show?"

"E-eh? Maksudnya apa, Kak?"

"Seragammu aneh."

Mataku langsung meneliti penampilanku. Dan benar saja. Rupanya aku masih memakai celana training sehabis mandi tadi dan belum ganti rok.

Haha. Haha. HahAaaasuuuuuu! Maluuuu!

_ _ _ _ _

Momen Sebelum Rhina Berangkat Ke Kampus.

Langit Lisha Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang