Season 2 Bab 1. Nggak Mau!

523 62 7
                                        

Hmm ... Setelah ribuan purnama berpikir, ah bukan, maksudku setelah ribuan detik merenung, aku akhirnya mulai ingin percaya kalau Kak Langit benar-benar serius menyukaiku.

Ehem! Bukannya apa-apa. Tapi aku ini memang sangat lucu, imut, menggemaskan dan-

"Dasar buntal."

Kepar*at kau, Langit!

Dari segi mana aku buntal, HAH?!

"Lisha, sini."

"Kenapa manggil-manggil ikan buntal ini, hah? Nggak takut ketusuk durinya?!"

Kak Langit mengernyit. Wajahnya masih tanpa ekspresi seperti biasa, tapi dilihat dari kerutan dahinya, sudah pasti dia tidak suka aku bentak.

"Sejak kapan kamu jadi ikan buntal?"

"Lah? Tadi Kak Langit manggil aku ikan buntal, kan?"

"Aku lagi ngomong sama Berang."

Eh? Apa iya? Tapi perasaan tadi lihatnya ke wajahku, deh.

"Lisha, kamu yang ke sini, atau aku yang ke sana?"

"Iya! Iya!"

Ya sudahlah. Kalau dia bilang aku bukan ikan buntal ya sudah. Toh, aku juga lagi malas berdebat.

Akhirnya aku berjalan mendekati Kak Langit, karena dia tidak bisa berjalan mendekatiku. Maklum, aku sedang berada di sisi paling tidak terlihat dari toko ini, pojokan antara etalase makanan anjing dan kucing. Untuk ukuran tubuh Kak Langit, pasti sulit menjangkauku.

Kami sekarang sedang ada di pet shop, dalam rangka membelikan Si Berang mainan baru. Aku suka sekali menghabiskan waktu di sini meski berakhir tidak membeli apapun. Yang utama adalah jalan-jalannya! Titik!

"Kenapa manggil-manggil?"

"Pakai jaketku dulu."

"Hah?"

Tidak mau menjelaskan adalah ciri khas utama seorang Langit Antasari. Dia dengan entengnya menggerakkan tangan-tanganku dan membuatku berakhir memakai jaketnya yang oversize. Hampir selututku, loh!

Ini panjang sedikit sudah berubah jadi mukena.

"Ayo."

"Ke mana?"

"Kliniknya sudah buka."

Oh, iya. Tadi kami mampir ke sini dulu karena klinik hewan tempat Berang biasa dirawat masih tutup.

Tapi apa hubungannya ke klinik dengan memakai jaket miliknya? Aku rasa pakaianku tidak se-hot itu sampai harus ditutupi.

"Sha?"

"Ini aku pakai jaket Kakak dalam rangka apa, sih? Pakaianku kurang sopan?"

Bukannya menjawab, Kak Langit justru diam memandangku.

Dipikir-pikir, Kak Langit ini kenapa betah sekali melihat mukaku, ya? Memangnya ada layar tancep di sini, hah?

"Lengan bajumu pendek."

"Terus?"

"Berang benci Dokter Cantika."

Nih orang sebenarnya pintar, ya. Jenius loh bahkan. Tapi kalau menjelaskan sesuatu itu, suka menyeleweng dari jalur. Ke luar jalan, terus nyungsep entah kemana.

Ngalor ngidul lah pokoknya kalau bicara.

Terserahlah, ya. Malas juga mau tanya-tanya.

_ _ _ _ _

"NGEEONGGGGGGG!"

"Berang, Ish! Yang tenang, dong."

"HSSSSSSSS! RRRRRRRRR!"

"Haha ... Lisha nggak pernah nganterin Berang sih akhir-akhir ini, jadi nggak tahu kalau dia mulai suka nyakar lagi kalau lagi ditreatment."

"Hehehe ... Iya, Dok. Agak sibuk belakang ini soalnya."

Allahu Akbar Beranggggg! Kenapa masih doyan ngeses sih kalau ketemu Dokter Cantika? Padahal dokternya cantik banget, loh. Bikin malu saja!

Berang nih, ya.  Bukan cuma sekadar meraung-raung kayak bocah. Tapi dia juga sambil nyakar-nyakar lenganku gitu. Ini jaketnya Kak Langit sampai kegores-gores loh. Eh? Wait wait wait!

Jadi maksudnya Kak Langit maksa aku untuk memakai jaketnya itu karena ini?

"Aku sudah bilang kan, Berang masih tidak suka dengan Dokter Cantika."

Ah ... I See.

Kak Langit tidak mau aku terluka karena Berang. So Sweet, sih.

Beneran manis sebenarnya, andai saja posisi kita tidak seperti ini.

Iya, posisi ini.

Aku sedang memeluk Berang sekuat tenaga, dan Kak Langit berdiri nun jauhhhhh di ujung sana.

Haha ... Haha ...

Si*lan. Dia mengumpankan aku pada Si Berang.

_ _ _ _ _

.

.

.

Aku tidak tahu, apakah ini akan berlanjut atau hanya sekadar Ekstra Part.

Tergantung mood ya :D
Takut ngebosenin nantinya :3

Langit Lisha Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang