13. menerima lamaran Alwi

7 2 0
                                        

Zahra yang sedari tadi berada di kamarnya dengan perasaan yang sulit diartikan olehnya entah kenapa saat Alesha mengatakan bahwa ia pacar Alwi membuat hatinya merasakan sakit, entahlah kenapa hatinya merasakan sakit, apa dia cemburu? Ah tidak mungkin dia aja tidak mencintai Alwi dan mana mungkin ia merasa cemburu dengan pengakuan Alesha bahwa ia adalah pacar Alwi.

"Aih udah lah, kenapa aku mikin itu. Biarin aja Alwi punya pacar, toh aku bukan siapa-siapanya buat apa mikirin dia" gumamnya pelan sangat pelan bahkan ibu panti yang baru datang kekamarnya pun tidak akan mendengar gumamnya.

"Zahra"ucap ibu panti.

Zahra menoleh dan tersenyum kepada ibu panti.

"Ada apa um"tanya Zahra.

"Ada calon mertua mu"ucap ibu panti.

"Calon mertua? Perasaan aku belum ada calon um mana bisa ada calon mertua datang kesini"ucap Zahra polos.

"Aih, kamu lupa kemaren keluarganya Alwi datang kesini dan melamar kamu, ingat tak"ucap ibu panti.

"Oh, ingat umi, tapi aku belum kasih jawaban ya jadi umi jangan bilang kalau mama dan papanya Alwi calon mertua ku"ucap Zahra memelas.

"Memang sekarang belum jadi calon mertua kamu, tapi nanti mungkin akan jadi calon mertua kamu"ucap Ibu panti.

"Ah umi, udah deh jangan bilang kek gitu. Yaudah ayo umi, kita samperin mama dan papanya Alwi"ucap Zahra lantas berdiri dari duduknya dan berjalan kearah ruang tamu.

Diruang tamu ternyata bukan hanya mama dan papanya tapi ada Alwi disana.

"Loh Alwi kok ada disini katanya kamu tidak ikut"ucap ibu panti.

"Iya umi saya tadinya gak ikut tapi..."ucap Alwi terpotong.

"Tapi kangen sama calon istri"ucap mamanya yang tersenyum kearah Zahra yang dibalas senyuman oleh Zahra.

"Ma gak gitu ya"ucap Alwi kesal.

"Gak gitu gimana, emang iya kan. Kamu nyusul mama ke panti untuk bertemu dengan calon istri mu benar kan"ucap mamanya.

"Terserah mama aja"ucap Alwi final, ia tidak bisa berdebat dengan mamanya terlalu lama.

"Ok, Zahra jawaban kamu mengenai lamaran kami bagaimana"ucap Mamanya.

"Emm, sudah tan cuman saya boleh berbicara sebentar dengan Alwi"ucap Zahra dan diangguki oleh Adelia.

Zahra dan Alwi pun pergi dari ruang tamu menuju ke taman. Zahra duduk dan diikuti Alwi yang juga duduk disamping tapi ada jarak diantara mereka.

"Apa yang kamu katakan"ucap Alwi to the poin.

Zahra menghela nafasnya pelan sebelum ia mengutarakan apa yang ia ingin tanyakan kepada Alwi.

"Alwi, saya ingin tanyakan kekamu. Apa kamu mempunyai pacar bernama Alesha"ucap Zahra sukses membuat Alwi menatapnya namun bukan wajah marah atau apa dia hanya menatapnya dengan datar seperti biasanya.

"Gak"ucap Alwi singkat.

"Benarkah, katanya Alesha kamu pacarnya"ucap Zahra.

"Udah dibilangin gak ya gak"ucap Alwi.

"Oh iya, tapi kata Alesha..."ucap Zahra terpotong.

"Buat apa pacaran yang ada menjerumuskan hal hal yang di larang oleh Allah, pasti kamu tau kan"ucap Alwi.

Zahra berfikir sejenak, memang yang dikatakan Alwi benar, tapi kenapa ia ingin bertanya seperti itu. Aih sepertinya ia harus pergi ke dokter psikolog deh.

"Iya tau, ok aku gak akan tanya itu tapi ada satu hal mau aku katakan sebelum aku mengutarakan jawaban ku kepada orang tua mu"ucap Zahra.

"Apa"ucap Alwi.

"Orang tua mu pasti tau, kenapa aku ada di panti ini. Aku telah ditinggal oleh ibu ku saat aku masih kecil. Tapi aku masih mempunyai ayah, namun aku gak tau dimana ayah ku berada, aku ingin mencari ayah ku saat aku ingin menikah nanti. Alwi aku bisa meminta satu hal ke kamu"ucap Zahra dan diangguki oleh Alwi. "Tolong kamu mencari keberadaan ayah ku, aku ingin nanti disaat aku menikah ayah ku menjadi wali nikah ku. Apa kamu bisa mengambulkan permintaan kecil ku ini"

Alwi terdiam, jujur ia saja belum tau atas jawaban doanya. Tapi saat ia melihat Zahra memohon kepadanya untuk mencari keberadaan ayahnya pun menjadi kasihan, ia menganggukkan kepalanya pelan.

"Terima kasih, mari kita kembali ke dalam pasti umi, mama dan papa kamu sedang menunggu"ucap Zahra dan diangguki oleh Alwi.

Zahra dan Alwi pun kembali masuk kedalam panti. Zahra menarik nafasnya pelan lalu ia berucap.

"Bismillah, saya menerima lamaran Alwi. Tapi tante, sebelum pernikahan saya nanti. Saya ingin mencari Ayah saya terlebih dahulu, apa tante dan om mengizinkan saya mencari ayah saya terlebih dahulu"ucap Zahra.

"Boleh, tapi jika masih belum ketemu. Kamu harus menikah tanpa ada ayah kamu, urusan wali nikah kamu akan di wakil oleh kerabat kami, bagaimana"ucap mamanya.

"Baiklah tante, saya akan menuruti perintah tante"ucap Zahra membuat Adelia tersenyum, lalu Adelia, Abidin dan ibu panti berbicara mengenai hari pernikahannya dengan Alwi.

Dan hari pernikahan pun telah di tentukan, pernikahannya akan dilaksanakan setelah ia dan Alwi lulus sekolah dan itu sudah cukup untuk dia mencari keberadaan ayahnya.

Setelah menentukan hari pernikahan, dilanjutkan makan malam namun orang tua Alwi tidak ingin berlama-lama. Mereka pun pamit pulang.

Setelah kepergian orang tua Alwi, Zahra pamit kepada ibu panti untuk pergi ke kamarnya.











Makasih yang sudah baca, maaf jika ada salah kata dalam penulisannya.

Jangan lupa vote dan komen ya.

Pelengkap DirikuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang