Di apartemen Jimin dan Taehyung,
"Taehyungie, kakakmu,"
Hyungsik akan memulai percakapan tentang Seokjin di depan Taehyung, karena dia merasa Taehyung sudah keterlaluan memperlakukan kakaknya tadi di kampus.
Mereka tadi bertemu Seokjin di parkiran kampus setelah paginya mereka bertemu di taman. Taehyung mengabaikan Seokjin sama sekali padahal mereka berpapasan dan Hyungsik bisa melihat raut kecewa kakak tirinya itu.
"Sudahlah hyung, aku sedang tidak ingin membahasnya," pungkas Taehyung kemudian.
Hari ini Taehyung ingin mengadakan pesta bersama teman-temannya, beruntungnya Jimin tidak ada di rumah, mereka bisa bebas melakukan apapun di rumah ini.
Hyungsik menghela nafasnya, sudah yakin jawaban Taehyung akan tidak menyenangkan.
"Tidak baik sesama saudara marah berhari-hari seperti ini. Kakakmu juga sangat baik padamu sebelumnya. Apa hanya karena kesalahan kecil kau sampai membencinya seperti ini?" Hyungsik mencoba membujuk Taehyung. Dia masih pada batas kesabarannya.
Taehyung diam saja dan memilih tidak merespon. Wajahnya mengeras dan itu di tangkap oleh Wooshik, teman Taehyung yang juga ikut bergabung di pesta ini. Sementara ada beberapa teman lain yang akan datang sebentar lagi menyusul mereka.
"Taehyung hanya belum bisa berdamai dengan keadaannya sendiri, kamu harusnya paham itu Hyungsik," saut Wooshik yang dengan santai duduk di sofa dan menegak winenya.
Taehyung masih belum bereaksi.
"Aku hanya khawatir kau akan menyesal suatu saat," kata Hyungsik serius,
Taehyung menatap Hyungsik marah, perubahan di wajahnya dari kesal menjadi sangat terganggu.
"Aku hanya ingin jadi orang yang meninggalkan lebih dulu! Harusnya kau paham!" teriak Taehyung kemudian, membuat Hyungsik terkejut dengan suara lantangnya.
"Aku benci di tinggalkan dulu jadi aku melakukan ini semua! Berapa kali aku mengatakan itu padamu Hyungsik!" tambahnya dengan suara keras dan emosi yang akhirnya meluap.
Hyungsik dulu yang memancingnya, jangan salahkan Taehyung.
"Kau hanya akan membuat emosinya kian tidak stabil, biarkan Taehyung seperti ini dulu," Wooshik memarahi Hyungsik, menengahi pertikaian mereka yang tiba-tiba saja memanas.
"Tapi aku tidak suka caramu memperlakukannya," Hyungsik belum berhenti, dan dia ingin mengatakan semua ini pada Taehyung, agar setidaknya anak ini berhenti bertingkah kekanakan, Hyungsik tidak suka itu.
"Kalau kau tidak menyukaiku kenapa kau tidak pergi saja dan berhenti jadi temanku!" ancam Taehyung,
"Kau bahkan membawa pertemanan kita?" Hyungsik menatap Taehyung tak percaya,
"Ya!!" bentak Taehyung kemudian, dia yakin dengan perkataannya.
"Baiklah. Aku berteman denganmu karena kakakmu ingin aku menjagamu, kau tahu? Karena itu aku mengikutimu sampai ke sini. Aku akan melakukannya dengan sepenuh hati dan benar-benar menjadi temanmu jika kamu mau berubah," Hyungsik menatap Taehyung dengan merendahkan,
"Tapi aku rasa kita tidak bisa, sekarang aku tidak bisa lagi berdiri di sisimu dan melakukan apa yang kakakmu perintahkan padaku. Tidak, dia tidak memerintahku, aku yakin kau akan salah paham dengan pikiran burukmu tentang kakakmu-"
Hyungsik akan berbalik mengambil tasnya,
"PYAAAARR!!!" Taehyung melemparkan botol wine yang tengah di minum Wooshik ke arah Hyungsik.
KAMU SEDANG MEMBACA
JINDERELLA
FanfictionJin yang harus menghadapi kehidupan baru setelah ibunya meninggal. Aku benci kisah sedih Akan kurubah takdirku sendiri... - Kim Seokjin -
