13. Yoongi's Cafe

526 59 14
                                        

Sebelum Seokjin dan Jimin di café Yoongi,

Paginya, Seokjin kedatangan bibi dari pihak ibunya. Bibi Goo. Masih saudara jauh sebenarnya, namun beliau sering berkunjung ke rumah Seokjin dan karena ayahnya jarang di rumah, Seokjin yang akan menyambutnya.

Seokjin sih tidak masalah dengan itu, hanya saja, bibinya itu orang yang luar biasa cerewet. Semua hal bakal dia komentari dengan kata-kata yang membuat Seokjin bosan.

Semisal, bibinya biasanya akan mengomentari tentang berat badan Seokjin. Baiklah, Seokjin memang kurus, tapi bukan karena dia memang menginginkan tubuhnya sekurus ini. Dia sudah makan banyak dan memang itu tidak merubah apapun.

Kedua, tentang ibu tirinya. Memang sejak awal bibi Goo tidak setuju jika ayah Seokjin menikah lagi. Beliau berdalih, harusnya ayah Seokjin fokus saja pada Seokjin, membesarkannya dengan baik. Atau setidaknya, ayah Seokjin menikah lagi bukan dengan perempuan yang sudah memiliki dua putra yang jelas hanya akan menambah masalah di keluarga mereka.

Memang tidak sepenuhnya salah, namun Seokjin yang awalnya juga menentang akhirnya luluh juga karena kebaikan ibu tirinya. Dan karena Seokjin juga menyukai memiliki saudara tiri yang lain, terlepas dengan masalah-masalah yang mereka buat.

Setelah menikahpun, bibi Seokjin selalu mempermasalahkan ketidakhadiran ibu tirinya di rumah. Menurutnya, wanita harus selalu di rumah. Mengurus rumah dan semua keperluan anak-anaknya. Itu benar, Seokjin setuju. Hanya saja, bibinya menolak peduli bahwa perusahaan ayahnya sedang mengalami kesulitan dan ibunya memilih bekerja ketimbang ayah Seokjin memperkerjakan karyawan lain.

Seokjin juga mengerti, ayahnya butuh support system ibu tirinya, selain di rumah tapi juga di kantor. Seokjin mengerti hal yang enggan dimengerti bibinya hanya untuk memuaskan rasa tidak sukanya pada ibu tiri Seokjin.

Dan lagi, ibu Seokjin bukan orang yang tamak yang seperti orang pikirkan saat menikahi ayahnya yang kaya terlebih dahulu. Ibu Seokjin ini pekerja keras dan selalu mengutamakan putra-putranya. Karena itu Seokjin sangat menghargai ibu tiri dan saudara-suadaranya yang lain.

"Dimana ibumu?" tanya si bibi,

Wajahnya yang penuh lemak mengerut saat melihat rumah kosong dan hanya bersisa Seokjin dan bibi Moon. Rupanya si bibi mulai mencari kesalahan di rumah ini.

"Ibu ke Inggris kemarin malam," jawab Seokjin jujur.

"Enak sekali ya, jalan-jalan terus," Bibi Goo tersenyum sinis,

"Ibu ada perlu dan bertemu dengan kak Namjoon," sanggah Seokjin.

Seokjin tidak bisa membayangkan apa yang diucapkan bibinya ini kalau tahu masalah kakaknya, Namjoon, yang secara diam-diam menemui ayah kandungnya dan membuat masalah baru di keluarganya. Seokjin pikir semua akan baik-baik nanti. Namjoon bukan orang yang tanpa alasan melakukan sesuatu. Seokjin masih mempercayai kakaknya itu.

"Ya Tuhan Jinnie, kasihan sekali ya, ayahmu menyekolahkan kakakmu sampai ke luar negeri dan kau masih bercongkol di sini," ejek si bibi.

Bibi Goo berdecih, menyipitkan matanya hingga menjadi satu garis. Yang sebenarnya nampak konyol di mata Seokjin karena pipi milik bibinya juga ikut mengembung dan hampir memakan seluruh wajahnya.

"Awalnya aku marah, tapi kurasa ayah melakukannya karena alasan tertentu," jawab Seokjin santai, dia melirik jam di tangannya. Satu jam lagi, dia harus ke kampus, dan keinginan dirinya bertemu Jimin semakin kuat.

Lagian Seokjin selalu in time saat ada kelas, jadi seharusnya dia sudah di jalan sekarang. Jika saja bibinya tidak muncul di depan pintu saat Seokjin akan pergi.

"Alasan, selalu begitu padamu kan?" bibi Goo nampak tidak puas.

Dia berjalan-jalan masuk ke dalam rumah Seokjin tanpa permisi, menatap remeh bibi Moon.

JINDERELLATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang