CALLYSTA |♛| 11

1.9K 40 1
                                    






Dari tadi Callysta mengoceh sambilan mengkemasi barang-barangnya dengan temen-temennya disebrang sana. Sebenarnya ia ingin menolak namun entah kenapa sangat berat untuk menolak permintaan Arabian.

"Terus kenapa lo terima perjodohan nya?" Tanya Lisya disebrang sana melalui handphone.

"Lo tau sendiri, bokap gue nggak pernah meminta apa pun dari gue dan juga dia selalu tidak pernah nolak apa yang gue minta, ini permintaan pertama dia masa gue nolak. nggak tau diri banget gue jadi anak." Jelas Callysta. "Gue pernah nolak sihh awalnya, mungkin cuma ini yang bisa gue lakuin buat dia."

"Terus gimana dengan rencana lo?" Tanya Runa.

"Gue nggak tau Na, nggak mungkin gue berhenti di tengah jalan juga kan, usaha gue jadi sia sia dong." Jawab Callysta.

"Kenapa lu nggak ajak Bian ikut serta?" Usulan Abel.

"Gila lu! salah satu alasan gue mau nikah sama dia kan karna rencana gue."

"Kan siapa tau dia mau berada di pihak lu."

"Itu sama aja membuat masalah Abelta!"

"Oh ya, gue hampir lupa bilang sama lu ta, ternyata mama nya bian dulu deket sama kuntilanak dirumah lu, tapi gue belum tau jelas kenapa mereka seolah nggak kenal." Ucap Lisya.

"Oke makasih info nya." Callysta memutuskan panggilan sepihak. Pantas ia merasa anehh antara Mariana dengan Zarima. Callysta bisa melihat kebencian dari mata Mariana pada Zarima ia semakin penasaran apa yang terjadi di antara mereka berdua dan bertiga dengan ibundanya.

Tok! tok!

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Callysta, ia mendongak melihat kearah pintu ternyata Safrima.

"Mau ngapain lu ke kamar gue?" Tanya Callysta sinis.

"Gue cuma mau temenan sama lo, gue capek berantem, gue mau damai sama lu." Ujar safrima sok sedih.

"Temen?! setelah nyokap lo rebut ayah dari bunda gue dan lo ngerebut pacar gue, terus lo mau bertemanan sama gue?! Buat apa? Biar lu bisa ngerebut semua apa yang gue punya?!! Hah?!!!" Callysta muak dengan sikap cewek itu kepadanya.

"Maksud lo ap-apa gu---"

"Pergi dari sini sebelum tangan gue melayang!" Geram Callysta.

"Maaf."

"Maaf?! Dengan kata maaf lu apa yang bisa di ubah?!!" Cairan bening turun membasahi pipi tembem Callysta.

Safrima bungkam, takut kenak masalah ia keluar dari kamar Callysta.

Callysta udah cukup hancur kehilangan bundanya, terus kenapa ada saja orang yang merusak kebahagiaan nya. Apa itu adil?

"Dek! Gimana ma---" Nachar yang datang tiba-tiba membuat Callysta tidak bisa menutupi kesedihannya. Nachar menatap adiknya penuh dengan pertanyaan, ia membawa Callysta kedalam pelukan hangatnya mengelus surai panjang Callysta.

"Kenapa? Hm? Apa yang salah? Apanya yang tidak menyenangkan?." Tangan Nachar bertubi-tubi.

"No, l'm okey." Callysta melepaskan pelukan menghapus air matanya.

"Sorry baby, abang nggak punya waktu buat kamu selama ini."

"Nggak papa lah, kita punya kehidupan masing-masing dan kesibukan masing-masing, kan abang sekarang udah ada disini." Callysta melemparkan senyuman manis kepada Nachar.

CALLYSTA! |END| Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang