•
•
•
•
•
•Sudah satu jam lebih Callysta duduk diam memperhatikan wajah Arabian yang masih belum sadar, ini sudah satu minggu namun laki-laki itu juga belum sadar. Callysta tidak tau harus lakukan apa supaya Arabian bisa melewati masa kritis nya. Setiap hari Callysta bolak-balik ke rumah sakit untuk menjaga suaminya bahkan ia lupa dengan sekolah.
"Yayan! Bangun! Aku capek tau nunggu kamu gak bangun bangun, kamu gak kangen apa sama aku dan bayi kita hmm..." Callysta merebahkan kepala di atas dada bidang Arabian.
"Yayan! Bangun dong aku pengen bully kamu, aku butuh babu, karna tidak ada yang mau jadi babu aku!"
"Aku suami kamu, bukan babu kamu, kurang ajar ya sama suami!" Lirih seseorang pelan terkekeh melihat wajah Callysta.
"Yayan kamu gak papa kan? Gak ada yang sakit? Kamu bisa ngenalin aku? Hmm? Bentar aku panggil dokter!" Callysta hentak pergi namun di tahan oleh Arabian.
"Aku gak papa sayang, gak ada yang sakit, l okay baby. I miss you so much!" Arabian memeluk Callysta seolah-olah lama tidak bertemu pada istrinya selalu ada disamping nya.
"I miss you too! kamu tau betapa takut aku ngeliat kamu kayak gini, jangan kek gini lagi aku takut."
"I'm sorry baby, l love you so much."
"BOS!" Pekik Vano di ambang pintu dengan anak-anak Black Janson lain nya. Pelukan Arabian dan Callysta terlepas, ganggu aja nih bocah!
"DOKTER!" Teriak Fazen memanggil dokter memberitahu bahwa Arabian sudah sadar. Setelah Dokter Rizal memeriksa, ternyata tidak ada masalah dan semuanya normal normal saja.
"Alhamdulillah semuanya normal, kita tunggu sampai besok jika tubuh pasien stabil besok sudah oleh pulang, tapi tidak boleh banyak gerak dulu karna luka nya belum sembuh total." Ucap Dokter Rizal.
"Makasih Dokter,"
"Sama sama, kalau begitu saya permisi."
"Bosss! Kangen!." Vano hendak memeluk Arabian tapi tidak bisa sudah duluan Rayyan sama Zidan yang memeluk Arabian.
"Apa apaan sih lo pada jijik gue, jauh jauh sana!" Arabian mendorong ke dua sahabat nya, heran dah sejak kapan tuh makhluk kulkas pintu sepuluh jadi tremos.
"Ngomong ngomong kalian gak papa kan?" Tanya Arabian, seingatnya mereka juga ikut berkelahi dengan orang-orang berjas hitam.
"Kita aman, ya kan bro!" Raifan menendang kaki Dian.
"Iya, kita aman bos!" Kata Dian tertekan ia hanya bisa pasrah.
Setelah ngobrol panjang lebar dan melempar candaan sana sini akhirnya anak anak Black Janson pulang mereka juga punya kesibukan masing-masing dan juga banyak perkerjaan yang harus dilakukan meskipun mereka masih sekolah mereka tidak menganggur mereka berkerja meski separuh waktu, setidaknya mereka berkecukupan untuk diri sendiri.
"Sayang besok kita camping yuk! Kita ajak yang lain juga seperti rencana awal kita." Kata Arabian.
"Iyah, tapi nunggu kamu sembuh dulu." Sahut Callysta membuat wajah Arabian cemburu.
"Aku udah sembuh sayang."
"Jangan ngebantah!" Ujar Callysta santai namun matanya menyimpit tajam.
"Iyah, tapi janji ya."
"Iyah." Jawab singkat Callysta, wanita itu sibuk dengan buku gambarnya.
Tuk! Tuk!
"Hay Gayss!" Seseorang datang ia tidak sendiri dengan anggotanya. Siapa lagi kalau bukan Galang Manta ketua geng Marizo, mereka memilih tidak bubar meskipun kedua ketua geng itu pernah memiliki kesepakatan 'siapa yang kalah maka geng tersebut harus bubar' Galang menganggap itu hanya angin melintas.

KAMU SEDANG MEMBACA
CALLYSTA! |END|
RomanceFollow dulu sebelum baca! Selama dua tahun tinggal di Amerika, Callysta memutuskan untuk kembali ke indonesia dan sekolah disana. Callysta kembali untuk mencari tau penyebab kepergian sang bunda. Sebenarnya apa yang terjadi delapan tahun yang lalu...