#HijrahSeries
🌼🌼🌼
Tanpa sengaja, Hanum Elora pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang telah menjadi alasan dari perubahan terbesar yang ia alami semasa hidupnya. Dia yang tanpa sadar telah menarik Hanum dari zona hitam hanya lewat deretan kal...
Sebelum membaca ini, kalian sudah shalat? Sudah ngaji?
Kalau belum, dikerjakan dulu, ya.
Silakan ambil hal baik sebanyak apapun dari tulisan saya, tapi tolong buang yang buruknya.
Jangan segan untuk menegur saya jika saya keliru dan melampaui batas. Terimakasih:) untuk menegur saya jika saya keliru dan melampaui batas. Terimakasih:)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kala itu, rintik hujan terasa makin deras berjatuhan mengenai kulit membuat Hanum mau tak mau berhenti sejenak di sebuah halte. Gadis ber-topi hitam itu berdecak pelan, menyesali keputusannya untuk keluar menggunakan motor milik Galen.
Karena malas basah-basahan nerobos hujan, Hanum akhirnya pasrah dan duduk di kursi halte bersama seorang laki-laki ber-hoodie hitam yang tampak fokus dengan buku bacaan di tangannya.
Melirik malas ke arah laki-laki asing tersebut, kemudian gadis itu menyibukkan diri dengan mengotak-atik ponsel miliknya.
Satu jam berlalu, Hanum merasa kalau dirinya bisa mati dibunuh rasa jenuh. Sedikit gadis itu merasa sebal pada manusia bak patung di sampingnya, dia benar-benar bersikap seolah hanya dirinya seorang yang berada di sini.
Nih orang bisu apa gimana, sih? Hanum bergumam dalam hati.
"Mas?" panggilan pertama Hanum diabaikan. Gadis itu tak menyerah, dia sedikit menoel bahu laki-laki itu. "Hellaw?!" serunya sambil melambai-lambaikan tangan.
"Bisa denger 'kan? Bisa ngomong?"
Laki-laki asing itu mengerutkan dahinya bingung, kemudian mengambil sesuatu yang sejak tadi terpasang di telinganya.
Earphone?
Rasanya Hanum ingin mengumpat kencang saat ini juga. Pantas saja si patung ini sejak tadi tak merespon keberadaannya, bisa jadi memang dari awal pun dia tak menyadari ada manusia lain di sekitarnya.
"Bicara sama saya?"
"Sama patung." Hanum mencetus sebal.
Laki-laki itu tersenyum tipis. "Ada yang bisa dibantu?" tanyanya kemudian.
"Gak ada, sih. Cuman saya greget aja mas-nya dari tadi diem doang seolah-olah gak menganggap keberadaan saya," dumel Hanum.
"Kita kenal?"
Singkat tapi nyelekit.
"Y-ya enggak sih ...." Hanum mencicit kecil.
Laki-laki itu terkekeh pelan, dia menurunkan kupluk hoodie-nya dan melepas earphone lain yang masih terpasang di salah satu telinga. Menutup buku yang sempat ia baca, kemudian memasukannya ke dalam tas.