#HijrahSeries
🌼🌼🌼
Tanpa sengaja, Hanum Elora pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang telah menjadi alasan dari perubahan terbesar yang ia alami semasa hidupnya. Dia yang tanpa sadar telah menarik Hanum dari zona hitam hanya lewat deretan kal...
Sebelum membaca ini, kalian sudah shalat? Sudah ngaji?
Kalau belum, dikerjakan dulu, ya.
Silakan ambil hal baik sebanyak apapun dari tulisan saya, tapi tolong buang yang buruknya.
Jangan segan untuk menegur saya jika saya keliru dan melampaui batas. Terimakasih:) Bismillah... Assalamualaikum
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tiga hari terakhir, Hanum dibuat bingung sebab ia sama sekali tak menemukan keberadaan Gus Alif di area pesantren. Beberapa kali juga dirinya datang ke Ndalem untuk mengurus persiapan pernikahannya, tetap saja tak mendapati calon suaminya tersebut. Hanum sempat bertanya pada Ummi Salamah dan Ning Alisha, keduanya kompak menjawab bahwa Gus Alif sedang ada urusan di luar kota. Hanya itu, tapi entah kenapa Hanum sedikit was-was. Pasalnya, ia bisa membaca gerak-gerik aneh dari kedua perempuan yang ia tanyai, seperti ada kegelisahan di sana.
Tidak mau terlalu ambil pusing, Hanum hanya bisa ber-doa semoga proses pernikahannya dengan Gus Alif berjalan dengan lancar. Lagi pula, saat ini ada yang lebih menguras pikiran Hanum. Ini tentang kedua orangtuanya. Entah apa yang akan terjadi nanti. Entah siapa yang akan menjadi wali nikahnya nanti. Mungkin, dirinya hanya bisa menatap penuh iri kepada Ning Alisha yang akan dinikahkan oleh Kyai Zafar. Sedangkan, dirinya? Dia memang masih memiliki seorang ayah, tapi keyakinan mereka berbeda. Lalu, apa yang bisa ia harapkan?
Hanum tersenyum miris. Bahkan, dalam kebahagiaan yang akan disambutnya, masih terselip kesedihan di sana. Seolah, ia memang tak pernah layak untuk mendapatkan kebahagiaan yang sempurna.
Dan lagi, perihal Naomi yang sampai sekarang masih belum mau berhubungan lagi dengannya. Galen sudah menyampaikan kabar tentang pernikahan sang kakak, sayangnya tak ada respon apapun dari wanita itu. Hanum pikir, mungkin Naomi masih menyimpan rasa kecewa yang begitu besar padanya. Jadi, dia pun tak berharap banyak, hanya bisa mendoakan sang mommy dari jauh.
"Ayah, nanti dateng ke pernikahannya Hanum 'kan?" Hanum bertanya lirih dengan ponsel yang ia tempelkan di sebelah telinganya.
"Ayah usahakan ya, Kak. Nanti Ayah bujuk Mommy juga supaya hadir di pernikahan kamu." senyuman miris terukir tipis sudut bibir Hanum. Tidak meyakini apa yang dikatakan Azhar---ayah tirinya.
"Kalau Mommy gak mau, gak usah dipaksa, Yah. Hanum gak papa kok. Yang penting, Ayah sama Galen dateng." suara Hanum sedikit tersendat. Diusapnya air mata yang meluncur bebas tanpa permisi di pipinya. "Ada Oma Floren yang bakal gantiin Mommy nanti. Kalau Daddy gak dateng juga, setidaknya masih ada ayah."
"Hey, Sayang! Jangan nangis, Kak. Insya Allah, nanti Ayah usahakan buat dateng. Kamu tenang aja, masih banyak yang peduli sama Kakak. Mommy juga cuma butuh waktu kok, nanti pasti bakal kembali lagi kayak semula. Jangan terlalu dijadikan beban pikiran, ya. Kakak fokus aja sama persiapan pernikahan Kakak."