#HijrahSeries
🌼🌼🌼
Tanpa sengaja, Hanum Elora pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang telah menjadi alasan dari perubahan terbesar yang ia alami semasa hidupnya. Dia yang tanpa sadar telah menarik Hanum dari zona hitam hanya lewat deretan kal...
Sebelum membaca ini, kalian sudah shalat? Sudah ngaji?
Kalau belum, dikerjakan dulu, ya.
Silakan ambil hal baik sebanyak apapun dari tulisan saya, tapi tolong buang yang buruknya.
Jangan segan untuk menegur saya jika saya keliru dan melampaui batas. Terimakasih:)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari pertama menjalankan rutinitas menjadi seorang pelatih memanah di pesantren cukup membuat Hanum senang. Rupanya ramai yang minat ikut kegiatan olahraga usulannya ini, terbukti dengan ia yang harus menelpon Jonathan agar dicarikan satu orang pelatih lagi dan juga menambah beberapa busur serta anak panah. Daddy-nya tersebut memang sudah mempekerjakan tiga orang pelatih, dua laki-laki dan satu perempuan, hanya saja Hanum merasa masih kurang, santriwati rupanya lebih banyak dari yang ia kira.
Hanum mengajari langkah-langkah dasar kepada para santriwati yang kebagian jadwal rabu pagi ini. Dia memang sengaja membagi dua kelompok agar tidak terlalu keteteran, terlebih ini baru awal, pasti membutuhkan usaha ekstra untuk mengajari satu-persatu.
Ketika jam latihan usai, para santriwati langsung berhambur kembali ke asrama, begitu pula dengan santri putra yang dihandle oleh dua orang bayaran Jonathan.
"Makasih untuk bantuannya hari ini," ujar Hanum, menyapa ketiga rekannya.
"Eh, Mas-nya, tadi kita belum kenalan, ya?" Hanum beralih pada laki-laki ber-kaos hitam yang kini menatapnya dengan wajah masam.
Hanum tergelak. "Tolong muka lo biasa aja ya, Derian Alathas!"
Laki-laki si pemilik nama Derian Alathas itu hanya memasang senyum masam. Dia dan Hanum adalah teman SMA, bisa dibilang sahabat juga. Dulu, Hanum dan Eliza memang memiliki tiga teman laki-laki, salah satunya adalah Deri ini, sedangkan yang dua lagi sedang melanjutkan study di luar negeri. Deri juga sudah kuliah saat ini, tapi untuk mengisi waktu luang, Jonathan yang memang cukup akrab dengannya meminta pria itu untuk membantu Hanum.
"Kalau bukan Om Jo yang minta, gue ogah ya jadi bawahan lo gini!" Hanum hanya mencabikan bibirnya mendengar ocehan Deri.
"Hanum, kayaknya kita berdua pamit duluan, ya. Soalnya ada urusan lain abis ini." kali ini, Hanum mengangguk sebagai jawaban dari pamitnya Anggia, juga Fateh yang telah membantunya hari ini.
"Makasih ya, Kak. Makasih juga, Bang Fateh. Hati-hati di jalan." setelahnya, dua orang itu benar-benar beranjak, menyisakan Hanum dan Deri saja di lapangan belakang pesantren.
"Lo gak balik juga?" tanya Hanum pada pria di sampingnya.
"Udah gue bantuin malah ngusir. Kebangetan lo emang," cibir Deri.