-10. Kembali ke Pesantren

2.1K 282 39
                                        

Bismillah... Assalamualaikum

Sebelum membaca ini, kalian sudah shalat? Sudah ngaji?

Kalau belum, dikerjakan dulu, ya.

Silakan ambil hal baik sebanyak apapun dari tulisan saya, tapi tolong buang yang buruknya.

Jangan segan untuk menegur saya jika saya keliru dan melampaui batas. Terimakasih:)


[10]

Selepas melaksanakan shalat dhuha dan merapihkan penampilan, Hanum beranjak dari kamarnya tidak lupa mengunci ruangan pribadinya tersebut. Seiring langkah yang terpatri melewati undakan tangga, bisa Hanum rasakan keresahan yang mendadak hinggap di dada. Ditatapnya sayu tiga buah koper yang sudah berjejer di dekat alphard hitam metalik milik Jonathan. Ya, hari ini daddy-nya tersebut akan kembali ke Bali, bersama Floren tentunya.

"Lora, kamu masih pegang ATM?" tanya Jonathan yang tampak baru saja keluar sambil memapah Floren.

"Pegang, tapi yang dikasih Om Randi. Semua kartu Lora udah disita Mommy," jawab Hanum seadanya. Semenjak kasus yang dia perbuat hingga membuat Naomi menarik semua fasilitas yang dirinya punya, ayah dari seorang Rayna Eliza lah yang rutin mengirimkan uang jajan untuknya. Ah, mengingat itu, Hanum kembali dirundung rasa bersalah sekaligus malu. Lagi pula, kenapa sih, keluarga dari sahabatnya itu terlalu baik hingga mau-mau saja membiayai hidup orang yang sudah mencelakai putrinya sendiri.

"Om Randi masih sering transfer uang ke kamu?"

Hanum menggeleng. "Waktu mau masuk pesantren, Lora udah berusaha kembaliin fasilitas yang dikasih Om Randi, semuanya udah Lora kembaliin kok, tapi kartu ATM-nya gak diterima Om Randi lagi, katanya buat pegangan Lora. Tapi, gak pernah Lora pake lagi sampe sekarang, Lora jual beberapa perhiasan buat uang jajan selama di pesantren. Tapi, Om Randi masih bayarin biayai pesantrennya Lora," jelasnya panjang lebar.

Jonathan mengangguk faham. "Nanti Daddy bicarakan lagi sama Om Randi supaya biaya pesantren kamu dialihkan ke Daddy." kamudian, dia menyerahkan sebuah kartu kepada putri semata wayangnya tersebut. Bukannya menerima, Hanum malah menggelengkan kepalanya pelan.

"Dad, bayar jajanan di kantin pesantren gak bisa pake debit."

Setelahnya, ayah dan anak tersebut sama-sama terdiam, menyisakan kekehan pelan dari Floren.

"Jadi?"

"Cash aja," jawab Hanum sambil mengadahkan tangannya.

Jonathan memberikan apa yang putrinya minta. Sepuluh lembar uang merah kini sudah berada di tangan mungil gadis itu.

"Kalau Hanum gak salah, anak-anak santri lain biasanya dikirimin uang lewat pengurus atau guru atau apalah itu. Daddy tanyain aja nanti ke ruang guru sekalian urus biaya administrasi."

Jonathan mengangguk saja, walaupun dia sedikit ling-lung, pasalnya yang biasa mengurus keuangan untuk Hanum adalah asisten pribadinya. Ya, dia terlalu sibuk untuk sekadar memperhatikan hidup putri semata wayangnya tersebut. Padahal, jika diulik lebih dalam lagi, selama ini dia dan Naomi seolah menukar semua kasih sayang dan waktu mereka untuk sang anak dengan uang.

"Ning Alishaaaa!" pekikan Hanum dari ujung koridor asrama putri cukup memekakan telinga siapapun yang mendengarnya.

Dengan menggeret koper berukuran sedang, gadis ber-abaya hitam itu berlari menghampiri Ning Alisha yang baru saja keluar dari kamar asrama mereka. Hanum berhambur memeluk tubuh ning-nya, tak peduli Ning Alisha terkejut dengan segala tingkah tiba-tibanya itu.

Hijrah CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang