-16. Pengakuan Dosa

2.5K 320 341
                                        

Bismillah... Assalamualaikum

Sebelum membaca ini, kalian sudah shalat? Sudah ngaji?

Kalau belum, dikerjakan dulu, ya.

Silakan ambil hal baik sebanyak apapun dari tulisan saya, tapi tolong buang yang buruknya.

Jangan segan untuk menegur saya jika saya keliru dan melampaui batas. Terimakasih:)

Pintu yang dibuka dengan tidak santainya berhasil membuat sosok ber-tuxedo hitam di balik meja kerjanya, mendongakkan wajah, tampak begitu terusik

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pintu yang dibuka dengan tidak santainya berhasil membuat sosok ber-tuxedo hitam di balik meja kerjanya, mendongakkan wajah, tampak begitu terusik.

"Mau apa kamu ke sini?"

Senyuman miring disuguhkan si pengganggu dengan langkah santai berjalan mendekat.

"Mau sampe kapan, Bang? Mau sampe kapan kamu sembunyi dari kenyataan?"

"Kenyataan apa?"

"Hanum----"

"Jangan berani-beraninya menyebut nama putri saya kalau tidak mau saya tendang kamu keluar dari sini!" Jonathan menatap nyalang pada pria yang di hadapannya.

Frans terkekeh sinis. "Putrimu? Memangnya kamu menjalankan tugasmu sebagai ayah dengan baik?" sarkasnya.

Jonathan membanting pena di tangannya. "Apa mau kamu?"

"Bukti!"

"Bukti? Bukti macam apa yang kamu maksud, Fransen Lubis?!"

Frans membalas tatapan tajam yang Jonathan layangkan padanya. "Harus dengan cara kayak gimana lagi gue nyadarin lo, Bang? Mau sampe kapan menutup mata untuk semua yang terjadi? Gue gak menuntut apapun dari lo, gue cuma butuh bukti tentang kebenaran yang udah lama lo gantung." Frans mengubah gaya bicaranya, tidak lagi sekaku tadi. Oh, ayolah, dia tidak se-kaku saudara laki-lakinya yang satu ini.

"Kebenaran apa? Elora adalah putri saya! Dan kamu tidak punya hak apapun atas dia!"

Frans mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mulut lo mengakui itu, Bang. Tapi, tindakan lo enggak," sinisnya. "Gue diem bukan berarti gue gak tau apapun. Hanum selalu ada dalam pengawasan gue, Bang. Gue tau gimana gak layaknya lo dan Naomi memperlakukan dia. Kalau memang gak bisa menjalankan peran ayah dengan baik, kasih Hanum ke gue, Bang. Gak peduli dia darah daging gue atau bukan, setidaknya anak itu mendapatkan kasih sayang yang layak dari keluarganya."

"Tau apa kamu tentang keluarga saya, Frans?! Jangan terlalu ikut campur. Urus hidupmu sendiri!"

Frans mengetuk-ngetuk jarinya di permukaan meja. "Masih ada waktu, Bang. Lo pasti tau lo harus apa, kalau gak mau nantinya lo bakal nyesel seumur hidup lo. Mumpung Hanum masih menunjukkan rasa butuhnya sama lo. Ya, walaupun anak itu udah nganggap lo antara ada dan gak ada."

Hijrah CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang