Informasi yang diberikan Eliza beberapa waktu lalu perihal Celo yang akan ikut mondok di Al-Quddus rupanya benar terjadi. Laki-laki dengan rambut yang agak dicat pirang itu baru saja Hanum lihat keluar dari ruang pengurus.
Mati-matian Hanum menahan gelak tawanya tat kala mata mereka tak sengaja bertemu pandang. Celo sendiri hanya memberikan pelototan tajam sebab laki-laki itu sedang khusyuk mendengarkan wejangan dari kedua orangtuanya.
"Jangan bandel kamu di sini. Awas aja kalau bikin masalah mulu, Mami kirim ke kandang macan." begitulah kira-kira ocehan wanita ber-kaftan ungu dengan tentengan tas gucci tersebut. Hanum cukup tahu banyak tentang keluarga Celo, julukan anak tunggal kaya raya melekat erat dalam jati dirinya.
"Loh, Hanum?" Hanum terkesiap mendengar seruan wanita yang merupakan mami kesayangannya Celo tersebut. "Lama loh, tante gak lihat kamu. Ternyata kamu di sini juga?"
Hanum tersenyum canggung. Dia berjalan mendekat kemudian menyalami maminya Celo, sedangkan kepada papa-nya hanya ia beri senyuman diiringi anggukkan sopan.
"Iya, Tan, sejak lulus Hanum mutusin buat nyantri di sini."
"Oalah, pantes gak pernah main-main ke rumah lagi. Eliza sekarang juga udah jarang main, sibuk ngurus suami kali, ya. Waktu itu tante sempet ketemu, ternyata dia lagi hamil. Duh, tante sampe terharu lihatnya, gak nyangka aja gitu. Rasanya masih baru banget liat kelakuan absurd kalian ini, sekarang udah bener-bener berubah ya, tante seneng lihatnya." Hanum agak spechless dengan ocehan wanita yang ia ketahui bernama Marina tersebut, ditambah kedua matanya yang mendadak berkaca-kaca. Maminya Celo ini memang penyayang sekali, dia bahkan menganggap para sahabat putranya seperti anak-anaknya sendiri. Mungkin karena dia cukup kesepian hanya memiliki Celo seorang, ditambah cowok itu jarang sekali ada di rumah.
Tidak tahu harus menanggapi bagaimana, Hanum hanya tersenyum seraya memberikan usapan kecil di lengan Tante Marina. Dia juga rindu pada wanita keturunan Tionghoa ini.
"Hanum, Om sama Tante titip Celo, ya. Kalau dia macem-macem, jewer aja kupingnya." kali ini Prahmono---papinya Celo yang bicara.
Hanum tergelak puas melihat ekspresi masam di wajah Celo. Baru saja bibir usilnya hendak mengejek cowok itu, tiba-tiba saja Gus Alif muncul dari arah pintu ruangan pengurus. Laki-laki itu menarik senyum ramah, sempat meliriknya sekilas juga sebelum mengobrol dengan orangtua Celo.
"Kalau gitu kami titip Celo ya, Gus Alif. Mohon maaf jika nanti dia sedikit merepotkan." Marina terlihat menggandeng lengan suaminya, seperti bersiap akan beranjak. "Kami permisi dulu ya, Gus. Celo, jangan bandel, inget terus pesan Mami sama Papi. Hanum, Tante sama Om pulang dulu, ya." setelahnya, kedua orangtua Celo tersebut benar-benar beranjak pergi, tidak lupa mengucapkan salam.
"Kiw! Jadi Kang Santri nih sekarang." Hanum menaik turunkan alisnya, sengaja menggoda Celo yang masih menekuk wajahnya, kentara sekali tertekan dengan dikirimnya ia ke tempat ini.
"Deri pasti bakal ketawa kenceng banget besok. Lo harus ikut gue ke tempat latihan panah sih, kalau gini." Hanum terbahak membayangkan reaksi Deri setelah mengetahui salah satu sohibnya yang dulu bandel akut kini terdampar di pesantren.
"Udah? Puas ngeledekin gue-nya?" cibir Celo. Dia sudah mengangkat tangan, berniat mengapit pipi Hanum namun urung tat kala deheman Gus Alif menginterupsi.
"Celo, ayo saya antar ke asrama," ajak Gus Alif tanpa basa-basi. "Hanum, pagi ini ada kelas tasawauf 'kan?" Hanum mengangguk segera.
"Ini mau ambil kitab tasawuf-nya, Gus. Disuruh Ustazah Hana."
"Setelah kelas langsung ke Ndalem, ya. Ditunggu sama Ummi." setelah berkata demikian dengan wajah datarnya, Gus Alif menggiring Celo untuk menuju asrama putra, meninggalkan Hanum yang masih tak puas meledek temen ributnya tersebut. Lihat saja mereka yang kini balas-balasan meletin lidah di belakang Gus Alif.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hijrah Cinta
Spiritual#HijrahSeries 🌼🌼🌼 Tanpa sengaja, Hanum Elora pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang telah menjadi alasan dari perubahan terbesar yang ia alami semasa hidupnya. Dia yang tanpa sadar telah menarik Hanum dari zona hitam hanya lewat deretan kal...
