6. 10 PM
Jeffrey dan Joanna baru saja tiba di ruang makan. Jessica yang sedang minum langsung tersedak saat melihat mereka. Atau lebih tepatnya saat melihat Joanna yang kini sudah berambut pendek dan berponi juga. Seperti para ibu muda yang sering berkumpul di balai desa.
"Kenapa potong seperti itu? Kamu hamil?"
Senyum cerah di wajah Joanna dan Jeffrey langsung pudar. Mereka jelas kecewa dengan apa yang baru saja didengar. Sebab pertanyaan Jessica tampak seperti sedang menyindir Joanna.
"Mama!"
"Kenapa, sih? Mama, kan, hanya tanya? Kenapa potong pendek seperti ibu-ibu muda di balai desa? Kamu tidak sedang hamil, kan?"
"Memangnya yang boleh potong pendek hanya ibu hamil saja? Ayo duduk! Kita makan sekarang! Aku sudah lapar!"
Ucap Adam sembari menarik tangan Jeffrey dan Joanna bergantian. Agar segera menduduki kursi yang ada di sampingnya. Sebab dia tahu jika pertengkaran akan datang kalau tidak segera ditengahi dirinya.
"Mama hanya tanya. Kalaupun tidak juga tidak masalah."
Joanna diam saja. Hanya menatap piring kosong di depannya. Membuat Jeffrey lekas mengisi piring mereka.
"Ayo makan!"
Jessica yang menatap itu jelas ingin marah. Sebab merasa jika menantunya ini sangat pemarah dan manja juga. Kalau saja bukan karena Jeffrey sakit parah saat dilarang menikah dengan Joanna, dia pasti tidak akan merestui mereka.
Setelah makan, Joanna langsung kembali ke kamar, diikuti oleh Jeffrey di belakang. Sedangkan Sarah langsung berberes seperti biasa. Karena Jessica sedang sibuk merajut sarung bantal sofa. Berbeda dengan Adam yang kini sedang menemani Kevin belajar.
"Bagaimana kalau aku pulang saja? Kehadiranku di sini memang serba salah. Tidak diinginkan dan---"
"Sayang---sabar, ya? Aku tidak mau berpisah. Malam itu aku hanya menggertakmu saja. Kamu tega meninggalkan aku selama dua bulan?"
Joanna menarik nafas panjang. Melirik Jeffrey yang kini sudah sedih menatapnya. Sebab dia tahu jika pria ini sangat mencintainya dan tidak ingin hidup berjauhan darinya.
"Apa aku kerja saja? Supaya tidak---"
"Sayang, kita sudah sepakat sebelumnya. Jika kamu tidak perlu kerja setelah kita menikah. Mau bagaimanapun keadaannya."
"Tapi aku tidak mau lama-lama di rumah ini, rasanya sesak sekali! Katakan padaku! Apa selama ini aku tidak baik dalam menjalani peran sebagai istri? Supaya aku bisa intropeksi diri!"
Jeffrey diam saja. Sembari menatap Joanna dalam. Sebab dia tidak merasa ada yang salah pada istrinya. Sebaliknya, dia merasa Joanna sempurna di matanya. Kecuali sifat mudah tersulut emosi jika dihadapkan dengan masalah.
"Tidak, Sayang. Tidak ada yang salah denganmu. Jangan merasa seperti itu. Kamu sangat berharga bagiku."
Jeffrey mulai memeluk erat istrinya. Mengusap punggungnya pelan. Sembari mengecupi kepalanya juga.
Ayo hujat Joanna!!! 😬✌️
Tbc...
![HOUSEWIFE [END]](https://img.wattpad.com/cover/336001580-64-k917645.jpg)