16

3.4K 326 36
                                        

"Sayang acaranya udah mau mulai aku tutup dulu ya. Aku harus nonton acaranya" ucap Jeno.

Haechan menggeleng heboh. "No! kamu nonton aja.. biarin hp nya nyala. Jangan di putus! Nanti kamu di genetin orang lagi di sana"


"Yaudah iya, tapi jangan berisik ya. Aku ngga liat ke hp ngga papa ya? "


"Iya! oke! " saut Haechan.

Ponsel Jeno terus terhubung dengan Haechan. Dari sebelum acara mulai hingga selesai hingga Jeno sudah berada di hotel.


"kamu mau kemana?" tanya Jeno pada Haechan yang baru selesai mandi.



"Masa mandi aja di tanya mau kemana"


"tumben aja."


Haechan mencibir. "yaudah tutup deh. Aku mau ganti baju"


Jeno menggeleng. "Gantian.."


"nantangin? oh oke siapa takut. Awas kalau sampai bangun terus main sama orang lain!"



Jeno terkikik geli. "I miss you.. "



"PULANG! "


"Besok sayang.. besok aku pulang"



"oleh-oleh aku"


"Sudah semua"



"Good good uri lee jenooo.. jadi kamu tetep mau lihat atau gimana?"



"engga, aku ngga mau ambil resiko. Yaudah tutup dulu ya. See you chan"


"Sok bule! okey see you"





Jeno melambaikan tangan pada Haechan dengan senyum yang membuat matanya menghilang. Haechan membalas lambaian tangan Jeno sambil memutuskan panggilan.




Lima jam sudah mereka bertelfon. Ponselnya sampai kehabisan batrai.





Tebakan Jeno benar, Ia memang mau pergi. Karna itu ia tak ingin Jeno melihat kalau dia menggunakan pakaian pergi.


Jangan salah paham!


Haechan bukan mau menemui Mark. Ia ingin menemui Renjun.

Bagaimanapun Renjun adalah sahabat terdekatnya.


...
...
...


Haechan masuk ke dalam dorm. Ia sengaja tak bersuara. Bukan apa-apa ia takut Renjun justru pura-pura tidur.


Dengan hati-hati Haechan menuju ke kamar Renjun. Ia sudah akan membuka pintu kamar itu kalau saja ia tak mendengar sesuatu.



"Ah Na! Pelan-pelan!"



"Tahan.. ini hanya sakit sebentar"


"TAPI TETAP SAKIT!"



"..."


"Ahhhh NA JAEMIN!"



Haechan mundur satu langkah. Ia menutup mulutnya karna terkejut. Percakapan itu familiar sekali di kepalanya. Membuatnya mendadak semakin rindu pada Jeno.


Eh?

Haechan menggeleng cepat. Ia harus sadar.

"mwoya? bukannya dia sedang patah hati?"



Haechan menyugar rambutnya dengam kesal, kesal yang gemas ya teman-teman..


"aishh.. aku merasa bersalah sekali padanya tapi bisa-bisanua mereka.. ah... wah... aku hampir saja meninggalkan kekasih ku karna bocah itu."


Bukan Cinta Segitiga Biasa Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang