BAB 16 : EUREDIAN

14.7K 1K 209
                                        

14.56 Waktu Indonesia Berbahagia
Anya duduk bersimpuh dipinggir balkon kamar mewah Euredian dengan tangannya yang sedang merajut gantungan kunci yang berbentuk beruang putih.

Cuaca yang panas membuat Anya betah duduk dipinggir balkon, rambutnya yang di cepol sedikit berantakan karena perlahan-lahan cepolannya mengendur. Perempuan dengan kaos biasa dan celana sebatas pertengahan pahanya itu menghitung bagian-bagian yang sudah ia rajut agar hasilnya tidak mengecewakan.

Sedangkan diatas kasur sana ada suaminya yang sedang menonton televisi. Akhir pekan Anya dihabiskan bersama Euredian yang terlihat bermalas-malasan karena dipikir-pikir pun untuk apa Euredian rajin sedangkan pria itu saja sangat kaya raya.

Anya menoleh ingin melihat tayangan yang ditonton Euredian. Acara televisi yang menayangkan jejak-jejak petualangan alam. Tentang kehidupan binatang buas, kelestarian alam, dan kehidupan binatang laut.

Tanpa sadar sudah satu minggu dari pertanyaan Euredian tidak mampu Anya jawab. Selama itu juga Euredian tidak mengajaknya berbicara, namun pria itu tetap akan menemaninya, pulang tepat waktu dan makan malam bersama. Anya merasakannya perbedaan Euredian, jika Anya mengajaknya berbicara pun Euredian hanya akan menjawab seperlunya tanpa feedback.

Anya menghela nafas kemudian melanjutkan rajutannya lagi. Walaupun Anya takut pada Euredian tetapi perang dingin dengan Euredian lebih menyeramkan. Ketika Euredian mengancamnya ataupun bercerita pernah menyiksa oranglain itu tidak seseram ini. Anya ingin menangis jika melihat sorot mata Euredian apalagi raut wajah arogannya.

Setiap malam diam-diam Anya menangis karena takut dan bodohnya Anya menangis didalam pelukan Euredian lantaran laki-laki itu akan tetap tidur bersamanya. Anya melirik Euredian sekilas, jika didiami seperti ini seperti menyiksa mental.

Tapi jika dipikir-pikir Euredian tidak melukainya jadi tidak ada alasannya untuk takut, Euredian juga tidak bertindak apa-apa selama satu minggu ini Anya ada dirumah. Setelah berpikir keras, tadi malam Anya memutuskan untuk tidak berhubungan dengan siapapun lagi selain dengan Euredian.

Sesuai analisisnya, Euredian cemburuan jika cemburu siapapun yang menarik perhatiannya akan langsung lenyap contohnya Rama, jika ia diganggu seperti Yunita, Wita dan Miley kemarin, Euredian juga akan menyingkirkannya. Anya sudah membuat keputusan bulat, Anya hanya akan berinteraksi lebih pada Euredian, demi nyawa orang lain. Tapi tentu saja itu tidak cukup, Euredian bisa saja berulah melukai oranglain dengan alasan yang berbeda, bisa jadi pekerjaannya.

Anya lagi-lagi menghela nafas. Sekarang perempuan itu sedang berpikir cara berbaikan dengan Euredian. Anya menatap jarum ditangannya kemudian melirik Euredian sekilas, sebenarnya Anya takut sakit tapi sudahlah, ia akan mencobanya.

"Akh ..." Anya merintih saat ujung jarum itu menusuk jari telunjuknya hingga mengeluarkan darah.

Euredian yang sedang menonton langsung menoleh. Pria itu dengan kaos biasa itu melangkah mendekati istri cantiknya yang menunduk mendekap tangannya sendiri. Euredian segera duduk disamping Anya dan meraih tangan perempuan itu untuk melihat kondisinya.

"Kenapa?" tanya Euredian, raut wajah panik dan khawatirnya tidak dapat ditutupi.

"Sa-sakit," rengek Anya, diam-diam ia menahan senyumnya melihat Euredian yang kini memegang tangannya.

Euredian menoleh. "Coba buka dulu genggaman tangannya, Anya. Aku tidak bisa melihat lukanya." ujar Euredian karena Anya tidak ingin memperlihatkan jarinya.

"Ta-tapi sa-sa-sakit," Anya menggelengkan kepalanya saat Euredian memaksanya untuk membuka kepalan tangannya sendiri.

"Sebentar saja, tahan sebentar." ujar Euredian segera melihat jari Anya yang mengeluarkan setitik darah, hanya setitik itupun jika di elap tidak akan mengeluarkan darah lagi.

EUREDIANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang