BAB 21 : EUREDIANN

3.5K 317 39
                                        

Satu bulan kemudian..

Lampu-lampu neon menari di langit-langit club, berpadu dengan dentuman musik EDM yang mengguncang lantai dansa. Asap tipis rokok, tawa mabuk, dan wewangian mahal bercampur menjadi aroma malam yang liar. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, namun suasana belum juga surut—justru semakin panas.

Riftan duduk di sofa VIP yang tersembunyi sebagian di balik tirai gelap, tubuhnya sedikit condong ke belakang, satu tangan merangkul bahu Amora yang duduk di sampingnya. Kemeja hitamnya terbuka dua kancing, memperlihatkan dada bidang dan rantai perak tipis di lehernya. Matanya tajam, tapi tak sepenuhnya fokus. Minuman keras dalam gelas kristal bergoyang pelan di tangan kirinya.

Gaun merah yang dikenakan Amoda terasa terlalu mencolok untuk dirinya yang terlihat arogan di tengah lautan wanita cantik dan pria-pria flamboyan.

"Mau pulang?" bisik Riftan dengan suara sedikit kuat agar terdengar.

Amora menghela nafas, ia merebut gelas ditangan Riftan dan meletakkannya di meja. "Kepalaku sakit melihat wajahmu," ucapnya seraya berdiri.

Riftan hanya tertawa pelan saat gelasnya direbut begitu saja. Tawa khas pria yang tak mudah tersinggung—terutama jika itu datang dari Amora.

"Aku juga kangen senyummu, padahal kamu nggak pernah senyum," balas Riftan, santai sambil menyandarkan punggung ke sofa.

Amora tidak membalas. Ia melangkah keluar dari balik tirai gelap, sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan ritme yang tegas dan angkuh. Gaun merah panjang membelah di sisi kaki kanan, menampilkan langkahnya yang tajam dan penuh percaya diri. Wajahnya dingin, datar, tanpa emosi, seolah club malam itu hanya tempat mampir sebentar sebelum kembali ke dunia nyata yang lebih penting.

Riftan bangkit dan menyusulnya, tak peduli tatapan pengunjung lain yang menoleh saat mereka lewat. "Kalau kamu pusing karena melihat wajahku, berarti kamu mikirin aku terus," katanya sambil menyelip di samping Amora, menyesuaikan langkah.

Amora melirik sekilas, ekspresinya tidak berubah. “Aku pusing karena kamu tidak tahu kapan harus diam, Riftan.”

Riftan mengangkat bahu, senyumnya nakal. "Aku bisa diam, asal kamu minta baik-baik."

"Seperti apa?" sebelah alis Amora terangkat, dari wajah Riftan, Amora sudah menebaknya. "Sialan." umpatnya pelan.

Riftan tertawa kecil, lalu mengangkat lengan kanannya untuk menghadang langkah Amora. "Signore saja sudah memiliki pasangan, kenapa kita tidak?"

"Siapa yang mau jadi pasangan kamu, Riftan?" Amora mengkerutkan keningnya heran sekaligus benci.

"Kamu."

Amora menyingkirkan tangan Riftan. "Dalam mimpimu!"

"Ah hatiku terluka." ucap Riftan dramatis seraya menyusul langkah Amora.

“Kalau aku minta kamu hilang, kamu mau?”

Riftan terdiam sejenak. Tatapannya tetap pada mata Amora, tak mundur sedikit pun.

“Mau,” jawabnya pelan. “Kalau kamu beneran mau aku hilang, aku bakal pergi. Tapi kamu harus lihat mataku waktu bilang itu.”

Amora tak berkedip. Matanya seperti dua pecahan es yang hendak mencair tapi dipaksa membeku lagi.

Beberapa detik hening.

Lalu, tanpa sepatah kata, Amora membalikkan badan dan melangkah ke arah mobil mereka yang sudah menunggu.

Dan Riftan tersenyum lebar, penuh kemenangan diam-diam.

🍁🍁🍁

Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis kamar, menghangatkan ruangan yang masih sunyi. Udara pagi terasa segar, membawa aroma khas rumah yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk.

EUREDIANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang