BAB 22 : EUREDIAN

4.4K 263 29
                                        

Kantin sekolah siang itu padat, dipenuhi suara riuh rendah siswa yang sedang makan siang. Anya berjalan hati-hati membawa nampan berisi sepiring nasi, ayam, dan segelas teh manis. Langkahnya pelan, matanya fokus ke makanan agar tidak tumpah.

Ia melangkah melewati salah satu meja panjang yang penuh dengan siswa, tak menyadari sepasang mata sedang mengawasinya dengan senyum kecil penuh niat tersembunyi.

Salsa duduk di ujung meja bersama beberapa anak lain. Ketika Anya lewat di depannya, Salsa bergerak cepat—menjulurkan kakinya sedikit ke lorong sempit antara meja dan kursi.

Bruk!
Anya tersandung.

Nampan di tangannya terlempar, suara piring bergesekan dengan lantai mengundang perhatian satu kantin. Teh manis tumpah ke seragamnya, ayamnya jatuh terpental ke lantai. Anya menahan diri untuk tidak jatuh sepenuhnya, tapi lututnya tetap menyentuh lantai dingin.

Beberapa siswa menoleh, ada yang cekikikan, ada juga yang pura-pura tidak peduli.

Salsa menutup mulutnya dengan tangan, seolah kaget, tapi senyum puasnya tak bisa disembunyikan. “Eh, hati-hati dong, Anya,” katanya manis-manis penuh kepalsuan.

Anya menatap lantai. Tangan gemetarnya memunguti sisa makanannya, tak berkata apa-apa. Tapi dalam hatinya, ada sesuatu yang mulai bangkit—rasa yang dulu selalu ia kubur setiap kali dibully.

Salsa beranjak dari kursinya, pura-pura panik melihat Anya di lantai. Ia mendekat, mengulurkan tangan dengan senyum palsu yang menghiasi wajahnya. Menggenggam tangan Anya dan menariknya perlahan berdiri.

Tapi saat Anya mulai berdiri dan wajah mereka cukup dekat, Salsa membungkuk sedikit dan berbisik pelan di telinganya—suaranya nyaris tak terdengar di tengah riuh kantin.

"Gue tau apa lo perbuat sama temen-temen gue." bisiknya sambil menyeringai. "Gue juga tau semua ini karena lo yang ngehancurin mental gue." lanjutnya penuh dendam.

Salsa tidak akan membebaskan Anya begitu saja, apalagi dengan kejadian yang sudah menimpa hidupnya. Salsa hancur berkeping-keping hingga akhirnya memberanikan diri bangkit dengan segala dukungan orangtuanya.

Anya membeku. Matanya membulat perlahan. Dingin dari lantai tadi masih terasa di lututnya, tapi sekarang dadanya jauh lebih dingin. Perih. Familiar.

Salsa kembali menegakkan tubuhnya, menepuk-nepuk pundak Anya seolah benar-benar peduli, lalu berjalan pergi begitu saja, meninggalkan Anya yang berdiri kaku dengan sisa teh manis masih menetes di seragamnya.

🍁🍁🍁

Langit sudah mulai menggelap saat mobil hitam panjang berhenti di depan gerbang sekolah. Beberapa siswa melirik, penasaran, tapi tak berani mendekat. Euredian keluar dari mobil, berdiri tegak dengan kemeja hitam tanpa dasi, tatapan tajamnya menyapu sekitar sebelum akhirnya tertuju pada sosok mungil yang berjalan pelan ke arahnya.

Seragamnya sedikit kusut, ada bekas noda teh yang mengering di bagian depan. Rambut panjangnya agak berantakan, tapi wajahnya tetap cantik—meski sedikit lesu.

Euredian mengerutkan kening. Ia membuka pintu mobil, membiarkan Anya masuk terlebih dahulu sebelum ikut duduk di sampingnya.

Begitu pintu tertutup dan mobil mulai melaju, pria itu menoleh ke arah Anya. Tatapannya tajam tapi lembut. “Bajumu kenapa Anya?” tanyanya pelan, nada suaranya penuh perhatian.

Anya tersentak kecil, buru-buru menunduk sambil melepaskan dasinya yang sudah longgar. “Engga a-apa-apa ta-tadi Anya ke-ke-tumpah mi-minum,” katanya dengan senyum kecil yang dipaksakan.

Euredian diam sejenak. "Kenapa bisa tumpah?"

"Ta-tangan A-anya licin Eu-euredian." jawab Anya dengan suara pelan.

EUREDIANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang