Menari untuk mati

13 2 1
                                        

Sejak awal Brian dan Dero memang sudah yakin kalau ada yang salah dengan kelima gadis pendatang itu. Entah bagaimana setiap kali langit mulai gelap, Brian selalu merasa tubuhnya ditarik-tarik seperti akan terpisah satu sama lain. Sedangkan Dero, anggota band yang paling muda itu selalu merasa takut untuk menatap mata salah satu dari mereka. Rasanya aneh, seolah Dero akan mati –walau kenyataannya dia memang sudah mati –untuk kedua kalinya.

Malam ini Brian baru saja kembali dari luar, awalnya ia merasa tak ada yang aneh dengan gedung itu setidaknya sampai telinga nya tanpa sengaja mendengar suara berbisik yang ramai dan semakin cepat, berasal dari lorong kiri tepat disebrang kamarnya.

Langkahnya kemudian berhenti, sambil melemparkan pandangan ke segala arah Brian mencoba menemukan sumber suara itu. Suara yang sebenarnya bukan menakutkan tapi cukup membuat ia merasa tak nyaman.

"Brian, lo ngap–"

"Ssshhhh!"

Esa mengeryit sambil mendekati Brian, wajahnya menunjukkan ekspresi bertanya-tanya.

"Lo ngapain?"

"Denger?"

Brian mengacukan jari telunjuk nya. Wajahnya terlihat waspada. Dan Esa langsung paham yang dimaksud Brian.

"Mantra?"

"Kayak lagu..."

Sementara Brian dan Esa mencoba menebak, di ruangan lain lima orang wanita muda sedang menari dengan mata tertutup dan bergandengan tangan membentuk lingkaran. Tak ada yang mengeluarkan suara disana, hanya suara hentakan kaki yang beradu dengan lantai yang menggema diseluruh ruangan.

"Revertere! Noli nos auferre"

"La la la la la....la la la la, hmmmm..."

"Aaaaaaaaaaaaaaaa!"

/Bruk/

"Nana!"

...

"Teman lo yang lain mana? Kok sarapan sendiri?"

Brian, Esa, Dero dan Kinan ikut menoleh ke arah Nana yang terlihat masih mengantuk berdiri di depan kulkas.

"Bisa kita bicara?"

Brian menunjuk dirinya sendiri lalu beranjak dari bangku dan mengikuti Serena keluar.

"Kenapa?"

Jika boleh dikatakan ada dua hal yang paling Brian takutkan di dunia ini ; omelan mama nya dan berhenti bermain alat musik. Tapi pagi ini setelah melihat ekspresi Serena, Brian yakin ketakutannya bertambah lagi satu.

"Ada banyak arwah di gedung ini"

Serena, masih dengan ekspresi 'menyeramkannya' bicara seolah ia menyampaikan hal besar. Tetapi dilihat dari tampilan wajah Brian semakin membuat gadis itu yakin kalau para lelaki itu memang sedang mengajaknya 'bermain'. Seolah mereka sudah sama-sama mengetahui semuanya namun memilih diam.

"Lo gak kaget?"

"Dimana-mana memang ada yang nama nya arwah, setan, hantu.."

Mata Serena memincing, memperhatikan Brian dari ujung kepala hingga kaki.

"Nyokap gue meninggal empat bulan lalu"

Brian mengangguk sambil menggumamkan ucapan berduka.

"Dan bokap ngasih gue kamera polaroid kesayangan nyokap"

"Terus?"

"Gue mau memfoto hantu"

Brian mengeryit. Sama sekali tak mengerti arah ucapan Serena.

Namun jika firasatnya benar wanita itu ingin memfoto salah satu dari teman-teman nya untuk menemukan siapa dari mereka yang benar-benar hantu. Lalu Brian tersenyum kecil.

"Ya udah ke hutan aja pasti banyak"

"Oh iya, semalem lo ngadain pesta dikamar?"

"....."

Brian yang menyadari perubahan raut wajah Serena pun lantas berbalik dan kembali ke dalam.

"Lo gak bakal bisa foto kita, kita bukan hantu"

.

Apartment 341Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang