Serena memiringkan kepalanya, sudah merasa bosan dengan penampilan si penyanyi kini tengah menyapa penonton dengan gaya nya yang sok asyik. Satu menit Serena merasa menyesal mengikuti Wendy untuk hadir di acara rutin fakultas nya itu.
"Nih gue bawa snack, dari pada lo bengong gitu"
"Habis ini lo janji ya harus traktir gue!"
Wendy mendengus, kedua bola mata nya berotasi.
"Ya lo, na, diajak nonton festival masa harus ada upah nya"
"Lo udah janji Wen, lagian gue gak pernah bilang mau ikut kesini"
"Iya bawel, ntar gue traktir di kantin Dallas"
Kedua wanita itu langsung menoleh ke panggung bersamaan dengan suara riuh penonton yang bersorak karena sepertinya sang pembawa acara menyebutkan sesuatu.
"Oh my gosh! Ini dia, na! Ini yang gue bilang band baru itu! Lo harus liat sendiri berapa ganteng dan keren nya lagu-lagu mereka"
Serena yang masih acuh hanya pasrah ketika Wendy menarik tangan nya menerobos kerumunan penonton untuk bisa berdiri di baris depan.
|||
Brian lagi-lagi menghela nafas nya panjang agar bisa kembali fokus, ia pun kembali menatap penonton sambil menebarkan senyum diantara alunan musik dari instrumen yang di-main kan.
"Gue kayak pernah ketemu dia tapi dimana ya..."
Ia bergumam dalam hati saat tanpa sengaja bertemu pandang lagi dengan Serena.
Sama hal nya dengan Serena, ia merasakan ada sesuatu yang aneh saat ia memperhatikan wajah para anggota band.
"Wen, kita pernah ketemu mereka gak sih sebelumnya?"
"Hah?"
"Itu, band nya pernah kita undang gak sih sebelumnya?"
Kali ini Serena menaikkan nada suaranya.
Wendy menoleh dengan senyum sumringah nya, membuat Serena sedikit bergidik melihat sahabat nya itu.
"Mereka kan band terkenal pasti lo pernah lah ngeliat mereka di TV"
Ya Wendy memang benar, tapi bukan itu yang dimaksud Serena. Namun alih-alih menjelaskan, ia hanya mengangguk dan kembali melihat ke atas panggung.
"Terimakasih semuanya!"
"FEB keren!"
"Bentar, gue mau ngomong sesuatu dulu"
Esa, Dero, Aji dan Kinan langsung menoleh ke arah Brian dengan ekspresi bertanya.
"Gimana kalau kita bikin games?"
"Games?"
"Iya! Yuk, biar seru"
"Gue sih setuju aja, tapi durasi nya emang masih bisa?"
Tanya Aji sambil melihat ke penonton.
"Iya deh kayaknya seru, yuk! Tanya dulu aja ke mc nya"
Esa menimpali, yang langsung membuat Brian berjalan menghampiri sang mc.
Selagi Kinan dan Dero melambaikan tangan nya ke para penonton, mereka dibuat bingung dengan Brian yang tiba-tiba tersenyum setelah berbicara dengan si mc.
"Ada apaan sih?"
Dero bertanya kepada ketiga teman nya.
"Tau nih si Brian sok ngide, mau bikin games katanya"
Balas Esa.
"Loh bisa?"
"Bisa, nan, tenang aja"
|||
Serena bersumpah dalam hati nya ini adalah pertama kali dalam hidup nya ia merasa sangat ingin memukul pria. Lebih tepat nya pria yang saat ini tengah berdiri sambil merangkulnya.
"Jadi lo masih belum mau jujur sama gue kalau lo tuh penguntit band gue?"
Brian berbisik.
Serena yang geram dengan pertanyaan aneh itu pun akhirnya menoleh, cukup lama ia mendongak ke arah Brian dengan tatapan datar.
"Lo tuh gak terkenal-terkenal banget, ngapain gue mesti jadi penguntit band lo"
Brian mengernyit karena jarak wajah mereka cukup dekat meski Serena jauh lebih pendek dari nya. Ia yakin firasat nya tidak pernah meleset, apalagi menyangkut perempuan. Tapi entah kenapa perempuan disebelahnya ini terdengar benar-benar jujur.
"Kalau gitu kita harus ketemu lagi"
Ucap Brian yang kini tersenyum didepan wajah Serena.
Setelah pembawa acara menutup games tersebut, Serena pun turun dan menghampiri Wendy.
"Eh, laper banget lo sampe nyeret-nyeret gue"
Serena tak mendengar keluhan Wendy, ia hanya menarik tangan Wendy untuk membawanya meninggalkan area festival.
"Ketemu lagi katanya, hihh siapa juga yang mau ketemu dia lagi! Cowok aneh!"
•|•
KAMU SEDANG MEMBACA
Apartment 341
Terror"Jadi, mereka atau kita yang sudah meninggal?" © Chi, Maret 2023
