Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Brian masih bisa merasakan dengan jelas bunyi kayu-kayu dari bangunan tua yang perlahan rubuh, bahkan sekalipun ia memejamkan mata nya. Butuh waktu sepuluh menit sampai ia akhirnya benar-benar menyadari keberadaannya sekarang. Walaupun mata nya masih belum terbiasa dengan cahaya lampu, tapi Brian tau kamar berdinding putih ini bukan lah kamar apartemen nya lagi.
Ia berdeham pelan yang membuat kedua orangtua nya langsung menoleh ke arah Brian.
"Brian? Brian kamu udah sadar, nak!"
"Papa, ayo pah panggil dokter! Cepat"
"Iya, iya"
Ibu Brian, Olivia, menangis sambil menggenggam tangan Brian yang mulai hangat. Ia tak percaya akhirnya putra kesayangan nya itu sudah siuman.
"Ma?"
"Iya sayang? Ada yang sakit ya? Sebentar, ya, sebentar lagi dokter datang memeriksa kamu"
"Gimana keadaan mas Aji, bang Esa, Kinan dan Dero?"
Olivia mengecup punggung tangan Brian, lalu mengelus kening putra nya.
"Kita bahas itu nanti ya sayang"
Brian mengangguk. Kemudian seorang dokter tua masuk diikuti dua orang perawat dan papa Brian yang terlihat lelah.
"Sebuah keajaiban Tuhan, kamu bisa siuman"
Ucap sang dokter sambil menempelkan stetoskop di dada Brian.
"Semua organ vital kamu sepertinya bagus, tapi mungkin Brian harus mengikuti fisioterapi karena otot kaki dan tangan nya yang sudah lama tidak digunakan"
"Lalu luka nya bagaimana, dokter?"
"Besok pagi kita akan melakukan rontgen"
"Dokter..."
"Ya?"
Brian yang tampak ragu sejenak melirik ke kedua orangtua nya.
"Berapa lama saya koma?"
"Kurang lebih empat puluh sembilan hari"
|||
Usai memaksa kedua orangtua nya pulang untuk beristirahat Brian kini sendiri dikamar rawat. Di tengah sepi nya ruangan itu Brian mencoba bangun untuk ke kamar mandi. Lalu saat ia menggerakkan kaki nya terdengar suara kertas dari dalam kantong celana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.