"Udah deh mending sekarang lo ngaku aja sama gue, apa tujuan lo?"
"Kalo gue bilang gue sayang, lo percaya?"
Brian mendecih, semakin geram dengan perempuan bertubuh mungil ini. Belum hilang rasa kesalnya dengan perkenalan mendadak yang mama nya adakan, kini Oceanna menambah lagi tumpukan emosi nya.
Mata Brian memincing mengamati setiap lekuk wajah Oceanna yang tampak tenang seolah ia pemain tambahan yang tidak terlibat konflik.
"Kenapa sih? Lo gak percaya sama gue?"
"Ya menurut lo aja, ngapain gue percaya sama anak kecil kayak lo"
"Aduh! Berani banget lo jitak jidat gue"
Oceanna terkekeh, mata nya ikut melengkung seperti bibirnya yang dilapisi lipstik merah muda.
"Pertama, gue bukan anak kecil. Kedua, gue gak ngerti sama yang lo bilang akting ketabrak karena malam itu gue habis berdebat sama bokap gue. Dan ketiga, gue beneran sayang sama lo"
"Oke, anggap aja lo emang gak tau soal perjodohan ini dan adegan ketabrak malam itu bukan bagian dari rencana nyokap gue. Tapi gimana bisa lo tiba-tiba sayang sama gue?"
"Gak ada perasaan tiba-tiba, aku emang udah suka sama kamu sejak acara kampus waktu itu"
Oceanna terdiam, mata berubah sendu.
"Heh?"
Mereka terdiam selama beberapa menit sampai radio yang Brian nyalakan memutarkan lagu dengan lirik "aku bisa membuatmu, jatuh cinta kepada ku meski kau tak cinta kepada ku..beri sedikit waktu biar cinta datang karna terbiasa"
Oceanna tersenyum tepat didepan wajah Brian. Seperti sihir, Brian tiba-tiba merasakan jantung nya berdegup kencang.
"Bahkan semesta mendukung perasaan gue"
"Brian.."
Masih tidak ada tanggapan, pria itu tak bergeming seolah sedang terhipnotis.
Oceanna pun menunduk demi menyembunyikan semburat merah pada kedua pipi nya.
"Beri gue waktu tiga hari, gue akan nunjukkin beberapa hal yang bikin lo ngerti kalo kita memang di takdirkan bersama"
"Kalau dalam tiga hari gue tetep gak suka sama lo?"
"Lo gak akan ngeliat gue lagi"
"Oke, deal!"
....
Brian hampir melempar ponselnya yang sudah lima belas menit berdering tanpa henti. Tapi kesadarannya segera kembali begitu melihat nomor tak dikenal pada layar ponsel.
"Siapa sih nelpon pagi-pagi, ini kan hari minggu dan sekarang masih jam 6!"
"Ayo ikut gue"
Brian mengernyit setelah mendengar suara tawa perempuan disebrang telepon.
"Anna?"
"Yap! Ayo turun, gue udah di depan rumah lo nih"
"Masuk aja sih, ada nyokap tuh paling udah bangun"
"Kalo gue masuk ke dalem lo udah harus mandi ya?"
"Apaan sih lo"
Oceanna tertawa lagi, yang tanpa sadar memberi reaksi pada kedua pipi Brian yang kini menghangat.
"Lo lupa kalo gue mau nunjukkin lo sesuatu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Apartment 341
Korku"Jadi, mereka atau kita yang sudah meninggal?" © Chi, Maret 2023
