"Udah empat puluh sembilan hari kamu koma, mama hampir menyerah mempertahankan kamu. Tapi nenek bilang kalau kamu pasti kembali, nenek percaya kalau kamu di jagain banyak sosok baik"
"Kinan, setelah ini kamu harus berjanji kalau kamu gak akan pernah lagi menyerah sama hidup kamu. Gak semua orang beruntung diberi kesempatan kedua sama Tuhan"
Giovano Kinan Reftasa atau yang biasa dipanggil Kinan. Sudah hampir 10 tahun ini ia memutuskan tinggal bersama mama dan nenek nya setelah kedua orangtua nya resmi bercerai. Kinan remaja sangat jauh berbeda dengan Kinan yang saat ini dikenal sebagai keyboardist Haru band, dulu Kinan adalah remaja ceria yang bisa meluluhkan hati banyak perempuan hanya dengan senyum nya. Tapi seiring berjalannya waktu, pertengkaran kedua orangtua nya mendewasakan pola pikir Kinan. Sosok yang dulu ia kagumi dan banggakan seketika berubah menjadi yang paling Kinan benci.
"Kinan benci sama papa!"
Lalu hal itu membentuk Kinan menjadi karakter yang takut mendekati wanita, Kinan takut akan menyakiti hati pasangannya. Ia takut mewarisi sifat brengsek seperti papa nya.
Meskipun pada kenyataannya Kinan tumbuh jauh lebih baik dari papa nya.
|||
"Nan.."
Kinan menoleh ke arah pintu, pandangan nya terkunci pada sesosok wanita berambut panjang yang berdiri disana dengan ragu. Hati nya seketika terasa tercekat.
Lara, nama wanita itu, perlahan berjalan mendekat. Dengan mata berkaca-kaca Kinan bisa melihat tubuh mungil si wanita bergetar, pertanda jelas bahwa ia sedang menahan tangis.
"Kinan..."
"Duduk lah, aku gak apa-apa"
"Jangan menangis. Aku belum mati"
Lara tak peduli, jika biasanya ia akan memukul Kinan tiap kali lelaki itu bicara sembarangan namun kali ini ia memaafkannya.
"Maaf..."
"Maaf membuatmu cemas"
Sebelah tangan Kinan yang tidak terbungkus perban mengelus canggung pucuk kepala Lara, berharap wanita itu berhenti menangis.
Sementara sang wanita menggeleng dan terus menangis Kinan akhirnya memutuskan untuk membawa tubuh Lara ke dalam dekapannya. Membiarkan airmata rindu dan kekhawatiran Lara jatuh membasahi bahu nya.
"Jangan menangis.."
Suasana seketika berubah hening, bahkan hujan pun tak menghasilkan suara pada ruangan vip itu.
"Kinan.."
"Ya?"
Lara menangkup kedua pipi Kinan, mengelusnya hingga memberikan sensasi aneh yg membuat Kinan tenang.
"Makasih udah kembali lagi, makasih banyak udah bertahan.."
Kinan mengangguk.
Aneh rasanya bagaimana hujan yang semestinya membuat cuaca malam lebih dingin, justru memberikan kehangatan pada Kinan. Atau lebih tepatnya, pada hati nya.
"Nan..setelah ini aku mohon, tolong jangan pernah mengakhiri hubungan kita lagi"
Ucap Lara sambil mengelus surai hitam Kinan.
"Kamu gak perlu jadi orang sempurna untuk mencintai seseorang, karena tiap orang pasti punya sisi baik dan buruknya"
Seperti terhipnotis Kinan perlahan menarik tengkuk Lara lalu menyatukan bibir mereka.
"Maaf...maafkan aku"
"Kenapa?"
"Lara sebaiknya kamu pulang, waktu jengguk sudah hampir habis"
"Tapi aku bisa menjaga kamu disini malam ini, mama dan nenek kamu pulang kan?"
"Aku udah baik-baik aja, aku bisa sendiri"
"Kinan?"
"Lara, aku mohon.."
"Aku gak akan meminta apa-apa, aku juga gak akan menganggu mu. Tolong izinkan aku disini malam ini"
|||
"Kinan"
"Ya, nek?"
"Lupakan mereka, anggap mereka cuma ada di mimpi kamu. Jangan pernah memikirkan mereka lagi"
Kinan yang merasa heran pun mengerutkan dahi nya.
"Siapa yang nenek maksud 'mereka'?"
Tanya nya sambil melirik dua wanita lain yang sibuk mengupas buah disebrang ranjang.
Wanita yang dipanggil nenek itu terlihat lega, ia pun mengelus-elus rambut cucu nya sambil tersenyum.
"Lupakan.."
Meski sebenarnya semalam Kinan memimpikan seorang wanita berpakaian gaun putih yang berdiri diluar jendela, tapi mimpi itu cuma sebentar karena Kinan terpaksa bangun untuk memperhatikan Lara.
Ya, seperti biasa. Memperhatikan Lara yang tertidur selalu menjadi kegiatan favorit bagi Kinan, meskipun terkadang ada satu sisi dirinya yang berontak dan menolaknya.
"Oh iya, nan"
"Iya, mah?"
"Tadi mama nya mas Aji nelpon mama, katanya mas Aji udah siuman. Brian juga udah siuman"
"Kalian benar-benar disayang sama Tuhan, setelah semua yang terjadi kalian masih diberi kesempatan sama Tuhan"
Renata menutup perkataannya dengan memberikan buah pada Kinan.
"Tapi Esa engga.."
Renata, Kinan dan Jihan menatap Lara.
"Esa...meninggal"
•|•
KAMU SEDANG MEMBACA
Apartment 341
Terror"Jadi, mereka atau kita yang sudah meninggal?" © Chi, Maret 2023
