Permainan ajaib

10 1 1
                                        

Brian, Esa, Aji, Dero dan Kinan saling bertukar pandang mendengar ajakan dari kelima gadis aneh yang kini duduk berhadapan dengan mereka.

Salah satu gadis itu terlihat membawa lilin dan botol kosong.

"Permainannya sederhana, siapa pun yang ditunjuk botol ini harus mau menjawab tantangan yang diberikan lawan"

Esa mendengus, jika tebakan nya tidak salah kelima wanita itu pasti ingin mengetahui lebih dalam tentang identitas ia dan keempat teman nya.

"Ini nama nya permainan truth or dare, ngapain sampai bawa lilin?"

Airin menoleh dan melemparkan tatapan tajam kepada Esa yang seketika membuat pria itu melengos ke arah lain.

"Kami hanya ingin mengajak kalian bermain. Kenapa, kamu takut?"

"Udah-udah gak usah berdebat, kalau mau main ayo deh cepetan di mulai"

Kinan menengahi kedua orang yang sudah mulai tersulut emosi itu.

"Mereka yang berbohong akan mendapatkan hukuman"

Ucap Wendy.

Permainan pun dimulai, Wendy yang pertama memutar botol.

Botol tersebut berhenti ke arah Aji.

"Truth"

Aji berkata dengan tenang.

"Sejak kapan kalian disini?"

"Sejak kami mengalami kecelakaan pesawat"

Johanna tersenyum kecil melihat ekspresi keempat laki-laki yang mendengar jawaban Aji. Ia yakin sebentar lagi mereka sendiri yang akan membongkar identitas asli mereka.

Sungguh keren ide Wendy mengajak mereka bermain seperti ini.

Selanjutnya Aji yang memutar botol. Lalu botol tersebut berhenti menunjuk Serena.

"Truth"

"Siapa kalian sebenarnya?"

Serena mengernyit seperti tampak menggali ingatan nya tentang kejadian terakhir yang membawanya ke tempat menyeramkan ini.

"Ini kan yang kalian mau tau dari kami?"

Brian tiba-tiba berkata. Wajahnya yang mengejek terlihat menyebalkan.

Brian lalu mengambil botol tersebut dan meremas nya hingga hancur. Ia kemudian berdiri sambil menatap satu persatu wanita yang terlihat kesal.

"Gue harus mencari orang yang menjual kamera peninggalan ibu gue, tapi setelah itu....gue gak ingat apa-apa lagi"

Kinan dan Dero yang sejak tadi hanya diam akhirnya mulai buka suara. Mereka pun menatap ketiga teman nya yang lebih tua seolah meminta izin.

"Mari ikut kami, ada yang mau kami tunjukkan"

•|•

"Setahun lalu kami hanya anak band biasa yang akan melakukan tur konser, terus pesawat kami mengalami kecelakaan dan terjatuh disebuah kaki gunung"

"Kami gak begitu ingat gimana detail nya, tapi yang jelas saat terbangun kami sudah ada di apartemen ini"

"Wanita tua di hutan pernah bilang kalau jiwa kami akan terjebak disini selamanya dan orang-orang disana gak bisa menemukan jasad kami kalau kami belum menemukan 'penggantinya'"

Yeriska menjentikkan jari.

"Kami juga pernah bertemu dengan wanita tua itu"

Brian dan Esa saling bertukar pandang.

"Gak semua orang bisa melihat wanita tua itu. Gimana kalian bisa bertemu dengan nya?"

Esa terdengar cemas.

Tiba-tiba saja Airin berdiri, ia lantas berlari kecil meninggalkan ruangan tersebut.

"Gue gak tau, tapi tiba-tiba aja wanita itu muncul dari hutan"

"Tapi....kenapa gue gak bisa mengambil foto kalian?"

Serena kali ini bertanya.

"Karna kami bukan hantu"

"Tapi kalian kan....."

"Ya, Kami memang arwah, tapi kami bukan hantu"

"Jadi, kenapa kalian belum menemukan 'pengganti' yang dimaksud?"

"Karena...."

Kinan menggantung ucapannya. Ia lantas melemparkan pandangan ke segala arah seperti takut kalau ucapannya akan di dengar.

"Setiap makhluk yang masuk sini pasti sudah dalam keadaan di ambang kematian. Dan kondisi itu terlalu lemah"

Serena mengernyit sambil mencoba mencerna ucapan Kinan.

"Bahkan si pemilik gedung?"

"Kamu tau?"

Aji, Brian dan Esa bertanya pada Wendy.

"Entah lah, gue cuma menebak"

"Jadi, siapa diantara kalian yang masih hidup?"

|•|

Airin duduk di sudut kamar sambil memeluk lutut nya. Perkataan Dero barusan mengingatkannya pada peringatan si wanita aneh yang saat itu mencengkram pundak nya dan menyuruhnya segera pergi dari sini.

Ia lalu menangis ketakutan sambil terus memanggil-manggil ibu dan ayah nya.

Satu-satu nya yang ada di benak Airin hanyalah bisa segera kabur dari apartemen ini, entah kemana yang penting tidak didekat arwah-arwah mengerikan itu.

Apartment 341Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang