22: I told you

41 8 1
                                    

Liona hendak beranjak dari bangkunya namun kedatangan seseorang yang menghampirinya membuat ia merasa gugup, ia kembali teringat saat kejadian di toilet beberapa waktu lalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Liona hendak beranjak dari bangkunya namun kedatangan seseorang yang menghampirinya membuat ia merasa gugup, ia kembali teringat saat kejadian di toilet beberapa waktu lalu. Ia tak sanggup untuk mendongak menatap orang di hadapannya.

"Liona, tenang! Gue cuma mau ngomong baik-baik," ucap lelaki itu yang mengerti bahwa kini Liona begitu ketakutan. "Gue mau minta maaf soal kejadian itu. Gue mengakui kesalahan gue, gue janji ga akan ganggu lo lagi mulai sekarang," pungkasnya begitu sungguh-sungguh berusaha mendapatkan maaf dari Liona.

Liona tak bersuara sedikitpun membuat lelaki di hadapannya menunggu dengan cemas, namun pada akhirnya ia mencoba untuk mendongak menatap lelaki itu. "Valdo, gue bersyukur kalo akhirnya lo mau mengakui kesalahan dan berani minta maaf. Meskipun gue susah buat lupain kejadian itu, gue udah maafin lo," balas Liona tanpa mau berlama-lama lagi di sana ia segera pergi begitu saja sebelum Valdo menahannya.

Ia menoleh ke sekitar koridor yang masih ramai karena jam pulang sekolah, ia berjalan menuju parkiran yang di sana sudah ada teman-teman Aldrivano yang bersiap untuk pulang juga. "Jifar, Aldrivano udah pulang?" Tanyanya pada Jifar yang baru saja menyalakan mesin motor. Ia bertanya seperti itu sebab ia tak melihat keberadaan motor lelaki itu.

"Belum kayaknya, dia kan mau persiapan lomba buat OSN dua minggu ke depan jadi jam pulangnya bakal telat terus. Dia juga ga bawa motor hari ini, masih di bengkel motornya," jawab Jifar dengan detail menyampaikan informasi.

"Oh gitu, ya udah deh. Gue pulang duluan." Liona tersenyum kecil dan berniat meninggalkan area parkiran namun ia kembali menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya.

"Kak, mau bareng aja sama Jidan?"

Liona menggeleng pelan. "Makasih tawarannya, Jidan. Gue pulang naik transportasi umum aja."

"Serius, Kak? Jidan ga kerepotan kok."

"Gapapa, Ji. Makasih, ya." Liona kembali melangkah sebelum adik kelasnya itu kembali memanggilnya.

Liona berjalan cukup jauh dari area sekolah untuk sampai di halte. Sinar matahari sore itu cukup menyengat menerpa kulit putih pucatnya yang mulai sedikit memerah. Ia mempercepat langkahnya hingga ia sampai di halte dan duduk menunggu bis datang.

Butuh waktu lama sekedar menunggu bis datang membuat Liona mulai tenggelam dalam lamunan. Ia kembali teringat saat di mana ia mengobati luka di wajah Aldrivano, tidak hanya itu ingatan tentang kekhawatiran lelaki itu saat menjemputnya di bandara, dan semua sikapnya yang terkesan berlebihan cukup membuat hatinya tak karuan.

"Tapi gue beruntung punya temen kayak lo."

"Ya, right. Gue seneng bisa jadi temen yang baik dan bisa diandalkan."

Pembicaraan singkat itu yang cukup menganggu pikirannya belakangan ini, di saat raut wajah lelaki itu yang begitu berbeda merespon ucapannya. Seharusnya tak ada yang salah saat ia menegaskan tentang hubungan pertemanan di antara dirinya dan Aldrivano. Liona cukup peka dengan apa yang ditunjukkan lelaki itu padanya, caranya berbicara, bagaimana cara lelaki itu menatapnya, cara lelaki itu bertaruh nyawa untuknya. Liona tidak ingin sampai lelaki itu menaruh perasaan lebih dari teman padanya, sebab selama ini ia hanya menganggap Aldrivano sebatas teman. Entahlah, ia merasa trauma atas kejadian yang dialaminya saat bersama Edzrian. Kasusnya pun sama, ia terlalu merespon begitu baik padanya di masa lalu hingga akhirnya Edzrian begitu terobsesi padanya dan ia tak mau sampai kejadian itu terulang lagi.

ALDRIVANO (END! Tersedia versi AU di Twitter)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang