**) cerita ini tersedia dalam versi AU di twitter @aquarianskyy
Tentang Aldrivano yang cintanya bertepuk sebelah tangan pada seseorang yang begitu sulit ia dapatkan hatinya. Jika ia dikatakan menyerah, mungkin semua akan berakhir seperti itu jika l...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•••
Brak!
Lelaki itu menendang dan memukul barang apapun yang berada dalam jangkauannya, penampilannya begitu kacau. Sorot matanya begitu menyimpan banyak emosi bahkan sudut matanya pun sudah berair. Ia dipaksa diam saat ia begitu ingin memberontak, berakhirlah ia di sini di sebuah ruangan yang hanya disoroti sinar matahari dari balik ventilasi kecil.
Botol minuman berserakan dan beberapa bahkan tergeletak mengenaskan dikelilingi serpihan kaca yang diyakini bagian dari botol minuman yang menjadi korban amukan lelaki itu. Ia masih sulit untuk berpikir jernih untuk sekedar keluar dari jebakan yang diciptakan seseorang.
Bugh!
Bugh!
Pukulan bertubi-tubi dilayangkan pada sebuah samsak yang menggantung di hadapannya. Keringat membasahi sekitar leher belakang hingga ke punggung yang dibalut kaos putih tipis, ia seolah tak cukup untuk meluapkan segala amarah hanya pada benda-benda mati di sekitarnya. Ia butuh pelampiasan amarahnya saat ini.
"Liona gue minta maaf, Na. Gue ga bisa berbuat banyak nolongin lo kali ini," lirihnya seiring pukulannya pada samsak mulai mereda. Ia kini berlutut menundukkan kepalanya dalam, seharusnya ia sudah bisa memprediksi bahwa ini akan terjadi. Entah permainan takdir seperti apa yang sedang ia hadapi saat ini, setelah kepergian Monica lalu ia dipertemukan dengan Liona yang hidupnya juga berada dalam penderitaan akibat orang yang sama.
Kehilangan Monica sangat teramat membuatnya terpuruk, sosok wanita yang sangat ia sayangi layaknya kakak kandung. Aldrivano juga baru menyadari bahwa selama ini perasaan ingin menjaga Liona disebabkan ia tak mau lagi kehilangan gadis itu seperti Monica akibat ulah Edzrian. Dendam lama yang belum usai perlahan mulai naik kembali ke permukaan.
Ia bangkit berdiri ingin melayangkan kembali pukulannya pada samsak namun sebuah tangan menahannya dengan begitu kuat. Aldrivano menghempas cekalan seseorang yang entah sejak kapan sudah berada di dekatnya.
"Ngapain lo di sini, Jif?" Tanyanya begitu tajam menatap ke arah sahabatnya yang juga menatapnya begitu datar.
"Bang Marko salah rekrut Kapten kayaknya. Kinerja lo di Aerfox emang oke, Al. Tapi jiwa Kapten lo tiba-tiba lumpuh gini gara-gara gertakan ga jelas. Mau sampe kapan lo cuma diem malah ngelampiasin dengan cara gini?" Cerocos Jifar begitu tenang meskipun bisa saja ia menjadi sasaran pelampiasan Aldrivano yang begitu berang menatapnya.