25: Rencana

37 7 0
                                    

Sejak kejadian di mana ia diseret paksa oleh lelaki itu, sampai saat ini ia belum mengetahui tujuan mereka ke mana bahkan setiap ocehannya pun hanya dibalas dengan senang hati oleh angin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sejak kejadian di mana ia diseret paksa oleh lelaki itu, sampai saat ini ia belum mengetahui tujuan mereka ke mana bahkan setiap ocehannya pun hanya dibalas dengan senang hati oleh angin. Ya, lelaki itu masih setia bungkam dan fokus mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi membuat gadis di belakangnya tak lagi berpegangan pada kepalanya yang terlindungi helm, tetapi gadis itu sudah beralih melingkari perutnya. Ia merasa tak ada gunanya juga terus menerus protes dan membiarkan lelaki itu membawanya tanpa arah tujuan hingga ia menyadari kecepatan motor sedikit melambat di sekitaran taman kota yang tidak terlalu ramai.

Jika biasanya ia tak tahan untuk terus mengoceh namun kali ini ia memaksakan diri untuk tetap tutup mulut, ia mengerti sepertinya lelaki itu butuh ketenangan dulu dan terus mengikuti langkahnya menuju salah satu bangku taman.

Lelaki itu menghela nafas panjangnya setelah mendaratkan bokongnya di kursi taman yang cukup untuk tiga orang itu, kedua matanya terpejam dibalik lipatan tangannya yang menutupi sekitar area mata.

"Kezra!"

Gadis bernama Kezra itu menoleh pada lelaki yang baru saja memanggilnya. "Hm?"

"Sorry gue nyeret lo pergi ke sini," lirih lelaki itu tampak menyembunyikan luapan emosi yang menggebu dalam hatinya.

Kezra menatap lekat lelaki itu yang seperti kehilangan harapan. "It's okay, gue temen lo juga sekarang. Meskipun kadang lo nyebelin ngeselin tapi mau gimanapun juga dasarnya gue baik hati dan tidak sombong jadinya ga ngaruh juga sikap nyebelin lo belakangan ini. Santai aja!" Cerocosnya kembali ke setelan pabriknya yang memang tak bisa menahan cukup lama untuk tidak mengoceh.

Lelaki itu tersenyum kecut masih dengan posisi sebelumnya, tampaknya gadis itu memiliki tingkat kepedean yang sangat tinggi. Meskipun terdengar menyebalkan, gadis itu bisa menyesuaikan dan mencairkan situasi.

"Sekarang lo bisa cerita kenapa tiba-tiba bertingkah ga jelas kayak tadi! Padahal sebelumnya lo semangat banget tuh menangin medali penghargaan sambil nunggu Lio—"

Kezra spontan menghentikan ucapannya begitu saja saat melihat lelaki di sebelahnya melempar sesuatu ke sembarang arah yang membuatnya melotot tak percaya. Ia menatap pada lelaki itu yang raut wajahnya begitu diliputi rasa kesal yang tampak nyata dari sorot matanya.

"Aldrivano! Beneran gila ya lo?!" Makinya lalu dengan cepat beranjak pergi mengambil sebuah benda yang baru saja dibuang oleh lelaki itu, ia cukup kesulitan mencari benda tersebut. Ia tak akan menyerah sampai ia menemukannya dan benar saja, netranya berhasil menemukan benda yang dibuang begitu saja oleh lelaki itu. Benda tersebut terjatuh mengenaskan di dalam kubangan air.

Kezra ikut merasa kesal juga, tanpa merasa jijik ia mengambil benda tersebut dan menggenggamnya seraya menghampiri Aldrivano yang kini tengah menyalakan sebatang rokok. Lelaki itu terlihat seperti tidak merasa bersalah sedikitpun seolah benda yang baru saja ia buang bukan benda berharga padahal demi mendapatkannya harus memerlukan usaha yang begitu besar.

ALDRIVANO (END! Tersedia versi AU di Twitter)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang