Im Nayeon, bukanlah gadis licik atau sembrono. Dia hanya seorang gadis miskin biasa yang begitu lugu, dan naif. Mendapati harga dirinya dihina dan diinjak-injak oleh orang asing angkuh yang baru saja ia temui pada kejadian absurd membuatnya muak hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jeongyeon POV
Ini baru hari kedua dan aku merasa sudah bertahun-tahun hidup dengan gadis konyol ini. Terkadang aku bertanya-tanya dari mana asal Nayeon? Dia aneh, dan pada titik tertentu terlalu polos. Entah bagaimana dia bisa licik dan pikirannya penuh tipu muslihat.
Hari ini, aku membawanya ke kantor. Yah, aku tau dia bosan di rumah. Selain itu aku meninggalkannya tanpa apa-apa. Maksudku, tidak ada yang bisa dimakan. Aku tidak sekejam itu membiarkannya mati kelaparan.
Faktanya, appa tidak mengizinkan ku mempekerjakan pembantu. Aku pikir dia sudah gila, tapi appa bilang aku harus berlatih untuk hidup sendiri, apalagi untuk membangun kehidupan pernikahan. Kalo aja dia tau hubungan ku dengan Nayeon itu palsu, entahlah bagaimana jadinya nasibku di dunia. Tapi aku tidak peduli. Selama aku tidak harus menikah dengan Jimin, itu lebih dari cukup.
"Nay, kau sedang apa?" Aku mencoba mengintip ke arahnya. Dia sedang menggambar. Sontak, Nayeon menutupi kertas tersebut dengan tangan.
"Jangan lihat, ini jelek."
"Oh, ayolah! Ngga perlu malu," cepat, aku mengambil kertas itu darinya.
"Jeongyeon-a!" Nayeon menjadi marah. Tapi seperti biasa, aku akan mengabaikan semua sikap berontaknya.
"Lihat apa yang kita miliki di sini~" aku bersandar ke kursi, meletakkan tangan kiriku di sandaran lengan dan melihat sketsa buatannya. Nayeon bergerak gelisah di seberang.
"..Rumah kaca?"
"Hm," angguknya perlahan. Kemudian, menghindar kontak mata denganku.
"Ide yang bagus. Dimana kau ingin membangunnya?"
"Di .. Di rumah kita?" Nayeon tergagap. Ada sesuatu yang tidak biasa ketika dia menyebut 'RUMAH KITA'. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya, tapi aku sangat senang. Ini seperti kita sedang membangun masa depan.
"Kurasa, kita punya lahan yang sangat luas di halaman belakang." Nayeon menambahkan dengan mata penuh harapan. Aku tau, dia ingin meminta ku membangun satu untuknya.
"Buat apa? Kamu kan ngga bakal tinggal permanent di rumah itu."
"Huft~ itu hanya saranku." Nayeon duduk kembali ke kursinya, kecewa. Desahan beratnya masih bisa terdengar dari tempatku.
"Bunga apa yang kau suka?" tanyaku.
"Mawar, anggrek, dandelion, lili, dan banyak lagi."
"Bagus sekali Im Nayeon-ssi. Proposalmu diterima!" Aku mengubah suara ku menjadi nada serius. Nayeon mengangkat kepalanya dan menatapku bingung.
Begitu dia mengerti maksudku, perlahan bibirnya membentuk senyuman yang sempurna.
"Terima kasih, Jeongie~" Nayeon bertepuk tangan seperti anak kecil yang sangat gembira. Oh lihat, aku benar-benar mendapat nama baru di sini, dia memanggilku Jeongie lagi.