Im Nayeon, bukanlah gadis licik atau sembrono. Dia hanya seorang gadis miskin biasa yang begitu lugu, dan naif. Mendapati harga dirinya dihina dan diinjak-injak oleh orang asing angkuh yang baru saja ia temui pada kejadian absurd membuatnya muak hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sorry all, ini lanjutan chapter kemarin yang kepotong karena kepanjangan.
Enjoy~
_____________________________
Nayeon POV
"Argh!"
Perlahan, aku tersadar. Perutku seakan dililit dan sesuatu di dalamnya seolah menuntut untuk diluahkan. Aku berusaha bangkit tapi setiap tulangku seakan remuk. Tak ada pilihan, akhirnya, aku memutuskan untuk muntah ke pinggir tempat tidur.
Sejenak aku terdiam. Pandanganku mengedar. Ini merupakan sebuah kamar cukup besar dengan nuansa grey.
Saat aku mencoba mencari jam, nyatanya jarum panjang menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Oh shit! Apa yang sebenarnya terjadi? Hal terakhir yang kuingat adalah aku berbicara dengan Jimin."
"Bagaimana bisa aku berada di sini?"
"Wah. Ngga beres nih!"
Dengan cepat aku membawa diriku ke tepi tempat tidur; memaksa bergerak dengan susah payah. Selimut yang menutupiku jatuh ke lantai saat aku mengangkat kaki. Rasa dingin sontak menyapu kulitku membuatku menggigil.
Di salah satu sudut, aku melihat kamar mandi. Aku hendak mengatur langkahku, tapi tiba-tiba aku sadar kalo aku . . . telanjang!
"What the hell are you doing, Nayeon? Kenapa aku telanjang! Oh my gosh!"
Aku mengamati diriku lagi dengan tidak percaya. Tak ada satu benangpun yang menutupi tubuhku. I'm literally naked. Panik melandaku dan aku lekas lari ke kamar mandi ketakutan.
Begitu sampai di kamar mandi aku segera bercermin. Aku berantakan. Aku menemukan banyak kissmark di leher, sampai ke dadaku.
"Oh no! Oh no! apa yang terjadi padaku?"
"Kenapa aku ngga ingat apapun!"
"Sialan!"
Ketakutan menyelimutiku dan tubuhku mulai gemetar. Air mata yang ku coba tahan mulai jatuh tanpa aku sadari. No!I wasn't raped. Aku kira tidak demikian! Aku pergi untuk memeriksa bagian kewanitaan ku, dan aku tau, tidak ada yang salah dengan itu. Ya aku yakin!
Terlepas dari semua ketakutan yang mulai menghantuiku, aku kembali ke kamar dan mengumpulkan pakaianku yang tersebar di seluruh ruangan.
Air mataku tak berhenti mengalir. Aku tidak bisa mengendalikannya lagi. Rasa bersalah membawaku ke pikiranku yang mengerikan.
"Gimana kalo Jeongyeon tau tentang ini?"
"Ngga. Aku ngga akan membiarkannya tau masalah ini! Ngga akan pernah!"
Kontan, aku mengenakan gaun ku; itu robek di sana-sini. Aku tidak bisa pulang seperti ini. Aku membutuhkan sesuatu untuk menutupi diriku.
Aku keluar dari kamar, menuruni tangga menuju lantai bawah. Orang-orang itu masih ada di sana. Beberapa dari mereka tertidur di lantai, sementara yang lain terkapar dimana-mana.