Im Nayeon, bukanlah gadis licik atau sembrono. Dia hanya seorang gadis miskin biasa yang begitu lugu, dan naif. Mendapati harga dirinya dihina dan diinjak-injak oleh orang asing angkuh yang baru saja ia temui pada kejadian absurd membuatnya muak hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nayeon POV
Aku terbangun karena sentuhan lembut di pipi dan sentuhan itu terus mengganggu ketika menjalar di sepanjang garis rahang. Entah bagaimana, itu mengirimkan sensasi merinding ke seluruh tubuh dan aku mengerang keras karenanya.
Aku tidak ingin bangun.
Tolong berhenti mengganggu tidurku.
"Pergilah!" Aku mendorong benda yang mengganggu itu dengan tangan. Tapi anehnya aku tidak merasakan apapun kecuali udara kosong. Beberapa saat kemudian, aku mendengar seseorang tertawa pelan di samping dan mataku terbuka dalam sekejap.
"Selamat pagi, istriku~" Jeongyeon berseri. Dengan ringan membawa satu jarinya untuk menyentuh hidungku lalu membelai pipi ini dengan ibu jari.
"Kenapa kau membangunkanku?" keluhku, menarik selimut untuk menutupi wajah.
"Oh astaga! Aku perlu menyiapkan sarapan untukmu!" lanjutku segera bangun dari tempat tidur.
Jeongyeon menghela nafas, mencubit pangkal hidungnya seolah sedang berusaha menahan tawa. "Apa kau lupa kalo kita berada di London?"
"Nde?!"
Terdiam, aku buru-buru mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Dia benar! Ini bukan kamarku di Korea. Ini adalah kamar yang kami check in kemarin. Ya tuhan, bagaimana aku bisa lupa?
"Cepat, bersiaplah" instruksi Jeongyeon sambil bangkit dari kasur. "Kita akan berjalan-jalan di kota hari ini" dia menambahkan dan melangkah dengan hati-hati ke sofa.
Kemudian aku sadar bahwa Jeongyeon sudah mengenakan pakaiannya yang sempurna; kemeja kuning round neck, celana hitam pekat dan dipadankan dengan jaket kulit berwarna hitam.
Terlihat tam- ah, kurasa aku tak perlu menyebutkan sisanya. Pokoknya dia tidak akan pernah gagal untuk mengesankan gadis mana pun yang melihatnya untuk pertama kali.
Aku? Aku muak dengan itu!
"Aku mau mandi" ucapku padanya dan melihat dia mengangguk.
"Silakan nona, tapi tolong cepat. Kita kehabisan waktu."
-oOo-
Begitu aku melangkah keluar dari kamar mandi, sosok Jeongyeon tidak terlihat dimanapun. Kemana dia pergi? Dia bahkan tidak memberitahuku. Apa aku terlalu lama sehingga Jeongyeon tidak punya pilihan lain selain meninggalkanku untuk keperluannya?
Ketika aku pikir dia benar-benar meninggalkanku, tiba-tiba Jeongyeon muncul dari balik pintu. Tampak berbicara dengan seseorang di telepon.
Jujur, dia menjadi terlalu misterius sejak kami tiba di sini.
Pertama Jeongyeon tidak mengizinkanku untuk melihat ponselnya, dan hari ini dia berbicara dengan seseorang. Hayo! Siapa itu? Dia bilang ini pertama kalinya berada di London. Apakah dia sudah berteman dengan penduduk lokal?