Im Nayeon, bukanlah gadis licik atau sembrono. Dia hanya seorang gadis miskin biasa yang begitu lugu, dan naif. Mendapati harga dirinya dihina dan diinjak-injak oleh orang asing angkuh yang baru saja ia temui pada kejadian absurd membuatnya muak hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nayeon POV
Segalanya berubah setelah beberapa hari kemudian. Jeongyeon selalu berangkat pagi buta ke kantor dan pulang sampai larut malam. Sesekali kita sarapan bersama. Tapi lebih seringnya, dia menghilang dari sisiku saat aku bangun tidur.
Setiap hari aku menunggunya pulang di ruang tamu. Tapi hal berikutnya yang ku tau, aku terbangun tengah malam di kamarku sendiri. Dan setiap kali itu terjadi, aku akan menyelinap ke kamarnya untuk tidur bersama.
Hatiku sakit memikirkan Jeongyeon berusaha menjauh, tapi kurasa aku ngga boleh berpikir seperti itu, kan?
"Ah, udah jam dua belas ternyata~" gumamku, yang memutuskan untuk menunggu Jeongyeon lagi.
Entah sudah berapa banyak kopi yang aku tenggak. Aku harus tetap terjaga. Alasannya klasik; rinduku terlalu besar sehingga aku tak bisa menahannya lagi.
@𝟒𝟓 𝐌𝐞𝐧𝐢𝐭 𝐊𝐞𝐦𝐮𝐝𝐢𝐚𝐧.
𝐂𝐄𝐊𝐋𝐄𝐊!
Aku mendengar suara pintu. Dari kejauhan, aku melihatnya melangkah masuk. Dia membawa tas kerja di sisi kanannya sementara tangan kirinya memegang setumpuk kertas. Ketika mau menutup pintu, tiba-tiba semua kertas itu terlepas dari pegangannya.
Mereka berantakan di lantai.
"Hah~ Sialan!" dengusnya merutuk. Dia menghela napas keras saat mengambilnya satu per satu.
Merasa kasihan, aku berjalan mendekat. Jeongyeon sontak berhenti ketika menyadari kehadiranku. Tubuhnya merosot ke dinding.
Ck! Ayolah. Aku bukan hantu dan rumah ini bukan bangunan terbengkalai. Dia ngga perlu bereaksi seperti itu meskipun aku pacarnya.
"Kok bisa sih kamu seceroboh ini?" tuturku sambil membantunya mengumpulkan kertas-kertas tersebut.
"Kupikir kamu udah tidur, Nay?"
"Belum."
"Kenapa?" tanyanya bingung.
Aku menoleh. Sungguh, dia terlihat lelah. Lingkaran hitam di sekitar mata cukup menjadi bukti. Rambut Jeong semakin panjang dan pipinya sedikit tirus.
"Aku menunggumu," kataku sambil menyerahkan kertas-kertas itu padanya. Jeongyeon tersenyum lemah dan aku berani bersumpah bahwa aku ingin menangis saat ini juga. Udah lama banget aku tidak melihat senyum itu. Aku sangat merindukannya.
"Proyek-proyek ini membunuhku."
"Ara~ kamu udah makan?" sahutku, mengambil tasnya dan berdiri.
"Belum."
"Aku masak untukmu."
"Eh? Kau memasak untukku?"
"Setiap hari aku masak buat kamu, Jeong~ Kamunya aja yang gak pernah memeriksa meja makan," kataku, menghela napas untuk mencari kesabaran. Ekspresi bersalah muncul di wajahnya.