Im Nayeon, bukanlah gadis licik atau sembrono. Dia hanya seorang gadis miskin biasa yang begitu lugu, dan naif. Mendapati harga dirinya dihina dan diinjak-injak oleh orang asing angkuh yang baru saja ia temui pada kejadian absurd membuatnya muak hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nayeon POV
"Nayeon-a, ayo kita sedikit berpetualang." Jeongyeon tersenyum padaku. Tangannya terulur dan aku harus menahannya karena ia berjalan ke arah yang berlawanan.
Berbicara tentang sisa hari-hari di London, kami menuju ke suatu tempat yang tak ku ketahui. Pagi ini, Jeongyeon mengepak semua barang dan kami check out dari hotel. Ketika aku tanya, dia malah meninggalkan ku tanpa jawaban.
Aku mengalihkan pandangan ke arahnya. Menyaksikan Jeongyeon menyeringai, sambil mengibaskan alis di samping ekspresi kegembiraan.
"Nayeon!" kini dia meremas tanganku. "Apa kamu gak seneng melakukan sedikit petualangan denganku?"
"Aku udah menjalani kehidupan 'petualang' bahkan sebelum bertemu denganmu, Jeong. Ngga ada bagian yang menarik tentang itu." ucapku dan melihat Jeongyeon merengut kontan.
"Harusnya kau menemuiku jauh lebih awal. Aku bisa membuat hari-harimu lebih baik."
What!? Dia pasti bercanda.
Ketika pertama kali bertemu, dia membawaku seolah ke neraka, ingat?!
"Oh tolonglah, Jeong! Kau bahkan menyiksaku dengan sikapmu dan semua perlakuan dinginmu! Apa kau menyebut itu lebih baik?"
"ㅋㅋㅋ" Disana, Jeongyeon menahan tawa. Tapi tatapan yang dia berikan penuh kehangatan. Aku benci ditatap seperti itu. Dia membuatku memerah tanpa alasan.
"Seharusnya kau tau, aku melakukan itu karena aku udah jatuh cinta padamu sejak first time."
"Mworago?"
"Aniya. Eh lihat deh. Kita sampai!" Seru Jeongyeon dan menunjuk ke satu arah. Terganggu dengan semangat dalam suaranya, aku menelusuri gerakannya dan melihat banyak karavan pada area yang luas.
"Kita mau ngapain di sini?"
"Bukankah sudah jelas? Kita akan pergi ke karavan!" Jeongyeon menyeringai puas.
"Hah~"
"Kau ngga suka?" Dia menatapku. Kegembiraan di wajahnya berangsur-angsur memudar ketika aku bahkan tidak memberikan tanda-tanda kegembiraan. Aku menemukan waktu yang tepat untuk menggoda gadis ini.
"Sebaiknya kau carikan hotel baru. Kalo perlu penthouse," ketusku bersedekap dan menatapnya dengan tatapan marah. Wajah Jeongyeon jatuh dan desahan berat keluar dari bibirnya yang terbuka.
"Ngga mau coba dulu nih? Gimana kalo kita cari campervan dulu?" Kata Jeong lebih seperti memohon. Aku hendak memperpanjang drama. Namun seseorang memanggil namaku dari kejauhan.
"Nona Nayeon!" Suara kecil itu menyapa. Ku lihat seorang gadis kecil melompat dengan gembira ke arah kami. Dia terlihat seperti Alesya; bocah yang ku temui beberapa hari lalu.