Im Nayeon, bukanlah gadis licik atau sembrono. Dia hanya seorang gadis miskin biasa yang begitu lugu, dan naif. Mendapati harga dirinya dihina dan diinjak-injak oleh orang asing angkuh yang baru saja ia temui pada kejadian absurd membuatnya muak hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Benarkah kebencian akan membawa kita pada cinta?
Ketika kita mengatakan benci seseorang, bukankah itu berarti kita tidak pernah menyukai segala sesuatu tentang orang itu?
Beberapa orang berpendapat, ini mungkin masih menjadi misteri. Ya, inilah yang sebenarnya terjadi pada Nayeon. Dia sering berkata membenci Jeongyeon, tapi apakah Nayeon benar-benar membenci gadis itu?
Bagaimana jika suatu hari nanti dia mungkin jatuh cinta pada Jeong? Apakah masuk akal?
Nayeon tidak pernah berpikir bahwa dia akan terlibat dalam hubungan aneh semacam ini. Berkencan dengan seseorang yang sebenarnya adalah gadis juga sepertinya. Seorang gadis yang berpenampilan pria.
Niat mencari jalan pintas menuju kehidupan yang lebih baik telah membawa Nayeon ke babak kehidupan yang benar-benar baru. Terjebak dengan kesepakatan yang menyegel mereka bersama-sama dan dipaksa untuk memalsukan segalanya demi setengah miliar. Nayeon tahu, dia tidak bisa memutar kembali waktu atau menarik kembali semuanya.
.
Kembali ke situasi saat ini.
Keduanya sedang menuju bungalow setelah menghabiskan waktu di toko es krim. Jika Nayeon tahu Jeongyeon akan sungguh-sungguh dengan ciumannya, demi tuhan, Nayeon tidak akan pernah meminta es krim gadis itu sekalipun. Dia nyesel.
Nayeon kira Jeongyeon tidak akan berani menciumnya di tempat umum, tapi Nayeon salah.
Dia ingat dengan jelas bagaimana orang menatap mereka dengan berbagai macam reaksi. Beberapa ada yang tersenyum malu-malu dan yang lain hanya pura-pura tidak memperhatikan. Satu hal yang Nayeon yakini; tidak ada yang melemparkan pandangan jijik kepada mereka.
Melirik Jeongyeon yang duduk di sebelah, Nayeon memperhatikan bahwa tunangannya menyeringai seperti orang gila. Jeongyeon agak melamun sejak mereka masuk ke dalam taksi.
Terkadang Jeongyeon menggelengkan kepala seolah berusaha menyangkal apapun yang ada dipikirannya dan itu berujung membuat Nayeon kesal memperhatikan tingkah lakunya dari waktu ke waktu.
"Kenapa kau tersenyum dan menyeringai seperti itu?" Nayeon ikut campur dalam lamunan Jeongyeon. Seperti yang diharapkan, Jeongyeon lekas mengalihkan pandangan ke arahnya dengan seringai lebar terpampang di wajah.
"Aniyo. Mungkin aku hanya senang."
"Terus kenapa kamu megang tanganku sampai sekarang?" protes Nayeon, menjatuhkan pandangannya ke tangan mereka yang terpaut. Itu adalah alasan kedua mengapa Nayeon merasa kesal sama Jeongyeon.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.