Im Nayeon, bukanlah gadis licik atau sembrono. Dia hanya seorang gadis miskin biasa yang begitu lugu, dan naif. Mendapati harga dirinya dihina dan diinjak-injak oleh orang asing angkuh yang baru saja ia temui pada kejadian absurd membuatnya muak hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nayeon POV
Rasa sakit berdenyut hebat di pangkal kepalaku dan aku meringis keras saat merasa otak ini akan meledak.
Aku bahkan ngga ingat apa aku menderita cedera otak? Tapi terakhir kali, aku yakin kalo diriku dalam keadaan sehat. Mencoba untuk menggerakkan tubuh, aku menemukan bahwa diriku sedang dikurung dalam pelukan hangat.
Hm! Tidak perlu khawatir. Indera penciuman ku dengan cepat mendeteksi aroma citrus segar yang familiar; Jeongyeon. Itu karena deterjen yang kami gunakan.
Omong-omong, kok bisa kami tidur di ranjang yang sama? Padahal, yang ku ingat adalah kami sedang makan di restoran.
Ugh, sial, otak ku terlalu sakit untuk berfungsi.
"Jeong..?"
Suaraku parau. Tenggorokan ku seolah terbakar saat berbicara. Aku mencoba meredakan rasa sakit dengan berdeham tapi itu malah semakin menyiksa ku.
"Jeongyeon-a~" ringisku, meringkuk lebih dalam di dadanya. Aku menyesali gerakan yang ku buat. Itu menyebabkan duniaku berputar, mengundang rasa mual yang luar biasa.
Hal berikutnya yang aku tau, aku buru-buru melesat ke kamar mandi. Mencapai tempat terdekat dimana aku bisa mencurahkan seluruh isi perutku. Aku merosot di atas toilet bowl dan hanya memuntahkan udara.
"Nayeon-a? ... Nay?!"
Jeongyeon datang ke sisiku dengan terburu-buru, menepuk punggungku, lembut. Tanpa banyak bicara, dia membawa ku kembali ke ranjang. Membuat ku duduk dengan hati-hati di tepinya.
"Ya tuhan, kau mengalami mabuk yang parah" gumamnya berjalan ke kamar mandi lagi. Dia kembali dengan handuk kecil dan juga baskom berisi air.
"Ya. Dan itu akan menjadi terakhir kalinya kau menyentuh minuman keras!"
Meskipun terkesan cuek, Jeongyeon tetap membawa handuk basah ke wajahku. Dia menyeka dengan hati-hati dan yang bisa kulakukan hanyalah menatapnya dengan kagum. Jeongyeon selalu sabar. Dia tidak pernah gagal untuk menunjukkan kasih sayangnya dan aku selalu menerima begitu aja. Betapa egoisnya aku.
"Kepala ku sakit~" keluhku, menuntut perhatian seperti layaknya gadis kecil.
"Huft!" Dia menghela napas keras dan mengingsutkan pandangannya ke arahku.
"Reaksi macam apa itu, Jeongie?"
"Arasseo, aku akan memberimu aspirin."
"Tenggorokanku juga....."
"Ha?"
"Ehem! T-tenggorokanku juga ngga enak~" Lagi, aku mengerutkan bibir bawahku dan berpaling. Aku tidak bisa menahan kontak mata dengan Jeongyeon. Dia mungkin berpikir aku menyusahkannya sekarang.