Im Nayeon, bukanlah gadis licik atau sembrono. Dia hanya seorang gadis miskin biasa yang begitu lugu, dan naif. Mendapati harga dirinya dihina dan diinjak-injak oleh orang asing angkuh yang baru saja ia temui pada kejadian absurd membuatnya muak hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
@Masih Di SC Holding. . .
Para kru mulai bubar. Momen ketika Nayeon tiba-tiba meninggalkan lokasi membuat teka-teki yang intens bagi semua orang. Tak ada satu pun dari mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi kecuali Jeongyeon. Gadis itu adalah alasan konkret di balik misteri tersebut.
Jeongyeon masih membeku di atas set, termakan oleh kepahitan dan rasa bersalah. Jeongyeon tidak tahu kemana Nayeon pergi dan dia juga tidak bisa mengatur ide untuk mencari keberadaan gadis itu.
Dengan kata lain, pikiran Jeongyeon menemui kebuntuan.
"Eonni?" Chaeyoung datang untuk mendekatinya.
"Chae."
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Tatapan prihatin lebih dari cukup untuk menunjukkan betapa Chaeyoung sangat peduli pada temannya itu. Fakta bahwa Jeongyeon tidak pernah memiliki begitu banyak teman di masa muda, menjadikan Chaeyoung salah satu sahabat wanita terbaik dalam hidupnya.
Itu sebabnya Jeongyeon tidak pernah ragu untuk memberikan bantuan kepada Chaeng.
Misalnya, sesi pemotretan hari ini. Jeongyeon datang membantunya untuk majalah yang akan Chaeyoung terbitkan di perusahaan appanya.
Keluarga Son adalah salah satu aristokrat terkemuka di industri mode dan pakaian. Chaeyoung ditunjuk pertama kali oleh ayahnya untuk menangani gaya busana baru rilis bulan depan dari bahan pakaian mereka.
"Ya, aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong, aku minta maaf atas apa yang telah terjadi," tutur Jeongyeon, sungkan. Asumsi tentang kegagalan temannya untuk pemotretan terbaik, sukses mengganggu pikiran Jeongyeon sejenak.
"Tidak, jangan katakan itu. Akulah yang seharusnya minta maaf. Nayeon mungkin tidak nyaman. Aku terlalu memaksanya," balas Chaeyoung menenangkan.
Dia mengalihkan pandangan ke sekitar lokasi syut; tampak mencari seseorang.
". . .Aku perlu bicara dengannya," lanjut Chaeng berkata.
Seperti yang Jeongyeon duga, mata Chaeyoung yang mengeksplor ternyata sedang mencoba menemukan keberadaan Nayeon.
"Aku yang akan menanganinya. Kau tidak perlu khawatir." Jeongyeon menapik niat gadis itu. Kalaupun Chaeyoung merasa bersalah atas masalah tersebut, Chaeyoung bukanlah alasan sebenarnya Nayeon pergi. Chaeyoung tidak tahu apa-apa mengenai problem di balik ciuman 2yeon.
"Apakah ini sungguh baik-baik saja?" Chaeyoung seperti tidak setuju dengan ide tersebut. Jeongyeon sangat mengenalnya. Menjalani hidup dalam keluarga aristokrat, Chaeyoung pasti dibesarkan menjadi seorang gadis yang penuh dengan kesopanan dan tanggung jawab.
"Serahkan saja padaku. Aku akan bicara dengannya," jawab Jeongyeon. Meyakini agar tidak membuat Chaeyoung semakin merenung.